Mamasa Pecahkan Rekor MURI Dunia, Minum Kopi Menggunakan Cangkir Bambu Suke
- account_circle Ancha
- calendar_month Sen, 17 Agu 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar

Suasana penyerahan penghargaan rekor Muri Dunia ke Pemda Mamasa atas capaian minum kopi serentak pakai cangkir bambu (Suke), Senin (17/8/2026). Foto/Ancha
MAMASA, Sulbarupdate.id — Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, mencatatkan prestasi membanggakan pada momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026.
Pemerintah Kabupaten Mamasa berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui kegiatan minum kopi menggunakan cangkir bambu tradisional Suke secara serentak.

Suasana saat minum kopi serentak di Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat Sulbar, Senin (17/8/2026). Foto/Ancha
Kegiatan tersebut digelar di 17 kecamatan se-Kabupaten Mamasa dan melibatkan ribuan masyarakat.
Berdasarkan data sementara yang disampaikan pihak MURI, tercatat sebanyak 11.981 cangkir digunakan dalam kegiatan tersebut. Jumlah itu masih berpotensi bertambah karena proses pendataan masih berlangsung.
Senior Manager MURI, Triyono, mengatakan, penghargaan diberikan karena Pemerintah Kabupaten Mamasa berhasil mencatatkan kegiatan minum kopi menggunakan Suke dalam jumlah terbanyak sekaligus mengangkat kembali warisan budaya leluhur.
“Data terakhir 11.981 cangkir, tapi masih akan bertambah terus,” ujar Triyono saat ditemui usai pelaksanaan upacara HUT ke-81 RI, Senin (17/8/2026).
Menurut Triyono, pihak panitia sebelumnya telah menghubungi MURI dan menyampaikan rencana kegiatan minum kopi menggunakan cangkir bambu Suke dengan jumlah peserta yang besar.
“Ini dalam jumlah yang banyak sehingga kita datang dan memberikan penilaian. Ini memecahkan rekor MURI dunia,” katanya.
Ia menilai kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi upaya memecahkan rekor, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian budaya.
Tradisi menggunakan Suke sebagai wadah minum kopi dinilai sebagai warisan leluhur yang perlu kembali diperkenalkan dan dilestarikan.
“Kami memberikan apresiasi karena Pemda Mamasa mewariskan kembali warisan budaya leluhur. Kami berharap daerah-daerah lain juga dapat menggali potensi budaya warisan leluhurnya,” jelas Triyono.
Sementara itu, Bupati Mamasa Welem Sambolangi menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan minum kopi menggunakan Suke menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan dan menggaungkan Kopi Mamasa ke tingkat nasional hingga internasional.
“Kami mengapresiasi masyarakat yang telah menggaungkan Kopi Mamasa melalui minum kopi menggunakan bambu Suke,” kata Welem.
Ia bahkan mendorong agar penggunaan cangkir bambu Suke tidak berhenti pada momentum HUT RI. Welem meminta seluruh instansi pemerintah dan masyarakat Mamasa mulai membiasakan penggunaan Suke dalam berbagai kegiatan resmi maupun kegiatan sosial.
“Di Rujab nanti akan pakai cangkir bambu. Jadi saya tekankan semua masyarakat pakai Suke. Masa orang lain suka, kita tidak,” tegasnya.
Welem menjelaskan, pelaksanaan minum kopi secara serentak di 17 kecamatan sengaja digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 RI.
Pemerintah daerah ingin menjadikan momentum tersebut sebagai sarana mempromosikan Kopi Mamasa sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.
“Tujuannya untuk menggaungkan Kopi Mamasa ke tingkat nasional maupun internasional. Melalui kegiatan ini, kita berharap Kopi Mamasa semakin dikenal,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Mamasa untuk memperkuat identitas budaya lokal melalui kopi dan Suke, serta mendorong potensi daerah agar semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
