Slogan “Majene Mapaccing”, Stadion Prasamya Malah Jadi TPA
- account_circle Juita Mammis
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 70
- comment 0 komentar

Stadion Prasamya Majene, Kabupaten Majene Sulawesi Barat jadi tumpukan sampah. Foto/Juita
MAJENE, Sulbarupdate.id — Slogan “Majene Mapaccing” kembali menjadi sorotan. Pasalnya, Stadion Prasamya di Jalan AP Pettarani, Lingkungan Labuang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, justru dipenuhi tumpukan sampah.
Pantauan di lokasi, Jumat (28/8/2026) pagi, terlihat sampah menumpuk dan menggunung di sejumlah titik area stadion. Tumpukan tersebut bahkan dikemas dalam karung-karung dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
Kondisi semakin memprihatinkan karena tumpukan sampah tersebut dikerumuni lalat. Keberadaan sampah di kawasan stadion juga menjadi perhatian lantaran tempat tersebut masih digunakan masyarakat, termasuk anak-anak sekolah yang melakukan aktivitas olahraga.
Kondisi itu pun menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah Stadion Prasamya yang seharusnya menjadi fasilitas olahraga justru akan berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah?
Ketua PSC Majene, Aslan, mengaku persoalan sampah di kawasan tersebut telah beberapa kali disampaikan kepada pimpinan maupun organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk mengangkut ini sampah.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut keberadaan sampah yang menumpuk, tetapi juga menyangkut tanggung jawab pihak-pihak yang menggunakan kawasan stadion untuk kegiatan sebelumnya.
Ia menyebut terdapat sampah yang diduga merupakan sampah kiriman. Karena itu, menurut Aslan, perlu ada kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab terhadap sampah tersebut, termasuk sampah yang tersisa setelah kegiatan yang digelar sebelumnya.
“Ini sudah ada sampah kiriman. Bagaimana tanggung jawab pihak penyelenggara kegiatan kemarin?” ujarnya.
Aslan tekankan kalau tidak ada yang mau mengakut biar kami yang eksekusi lagi. Keberadaan tumpukan sampah di kawasan Stadion Prasamya dinilai menjadi persoalan serius apabila tidak segera ditangani.
Selain mengganggu pemandangan dan kenyamanan, sampah yang membusuk berpotensi menimbulkan bau tidak sedap serta mengundang lalat. Kondisi tersebut menjadi semakin ironis karena stadion merupakan tempat masyarakat, termasuk pelajar, melakukan aktivitas olahraga.
Fasilitas olahraga semestinya menjadi ruang yang bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat. Namun, kondisi di Stadion Prasamya justru memperlihatkan pemandangan sebaliknya.
Persoalan tersebut juga memunculkan sorotan terhadap implementasi slogan “Majene Mapaccing”. Semangat
menciptakan lingkungan yang bersih tentu tidak cukup hanya dengan slogan, tetapi membutuhkan pengelolaan sampah yang konsisten dan tanggung jawab bersama.
Masyarakat pun patut mendapatkan penjelasan, siapa yang bertanggung jawab mengangkut tumpukan sampah di Stadion Prasamya dan mengapa sampah tersebut bisa dibiarkan menumpuk hingga mengganggu aktivitas olahraga.
Jika persoalan ini tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin publik mempertanyakan kembali keseriusan pemerintah daerah dalam mewujudkan lingkungan Majene yang bersih.
Perhatian publik tertuju pada langkah pemerintah daerah dan OPD terkait. Apakah tumpukan sampah tersebut segera diangkut, atau Stadion Prasamya justru akan terus menjadi tempat pembuangan sampah.(*)
- Penulis: Juita Mammis
- Editor: Ancha
