Breaking News
light_mode
Beranda » Majene » Sengketa Lahan jadi Sorotan Publik di Majene, SDLB Lutang Masih Disegel Ahli Waris

Sengketa Lahan jadi Sorotan Publik di Majene, SDLB Lutang Masih Disegel Ahli Waris

  • account_circle Juita
  • calendar_month Rab, 20 Mei 2026
  • visibility 641
  • comment 0 komentar

MAJENE, Sulbarupdate.id — Penyegelan gedung Sekolah Luar Biasa (SLB/SDLB) di wilayah Lutang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat hingga kini masih terus berlanjut, Rabu (20/5/2026).

Pihak ahli waris pemilik lahan menegaskan penyegelan tidak akan dibuka sebelum ada kejelasan dan penyelesaian resmi dari pemerintah terkait status tanah yang ditempati bangunan sekolah tersebut.

Ahli waris, Erfan Muliyadi, menyampaikan bahwa hingga peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 lalu, sekolah tersebut masih dalam kondisi tersegel.

Menurutnya, selama ini pihak keluarga ahli waris hanya menerima janji-janji dari pemerintah daerah tanpa adanya penyelesaian konkret terhadap persoalan lahan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Erfan menjelaskan, persoalan bermula sebelum adanya penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) personel, prasarana, sarana, dan dokumen dari Pemerintah Kabupaten Majene kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2019.

Dalam proses penyerahan kewenangan pengelolaan sekolah luar biasa tersebut, status kepemilikan lahan yang ditempati bangunan sekolah disebut belum memiliki kejelasan hukum.

“Sejak awal kami hanya meminta kejelasan dan penyelesaian yang baik. Tetapi sampai sekarang belum ada titik terang. Karena itu penyegelan tetap kami lakukan,” ujar Erfan.

Pertemuan 11 Mei 2026 Bahas Penyegelan
Permasalahan ini kembali dibahas dalam rapat yang digelar pada 11 Mei 2026.

Pertemuan tersebut melibatkan pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat, Dinas Pendidikan Kabupaten Majene, serta pihak ahli waris.

Dalam forum itu, pihak ahli waris membawa sejumlah dokumen dan bukti kepemilikan lahan yang diklaim sah secara hukum.

Bukti-bukti tersebut kemudian dipelajari bersama dalam pembahasan yang berlangsung cukup alot.

Menurut Erfan, dari hasil pembahasan tersebut terungkap bahwa Pemerintah Kabupaten Majene melalui bidang aset tidak dapat menunjukkan bukti kepemilikan resmi atas lahan yang ditempati bangunan SLB tersebut.

“Fakta yang muncul dalam rapat, bidang aset Pemkab Majene tidak memiliki alas hak atau bukti kepemilikan tanah yang sah atas lokasi sekolah,” ungkapnya.

Erfan juga menjelaskan bahwa berdasarkan isi perjanjian dalam Berita Acara Serah Terima (BAST), pihak kedua yakni Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat memiliki hak untuk meminta klarifikasi maupun perbaikan kepada pihak pertama atau Pemerintah Kabupaten Majene terkait dokumen dan aset yang diserahkan.

Hal tersebut, kata dia, tercantum dalam ketentuan pasal 1, 2, 3, dan 4 dalam dokumen BAST yang mengatur tentang penyerahan kewenangan, aset, serta legalitas dokumen pendukung.

Walaupun pengelolaan Sekolah Luar Biasa telah menjadi kewenangan pemerintah provinsi berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, namun persoalan legalitas lahan dinilai tetap menjadi tanggung jawab yang harus diselesaikan secara jelas dan transparan.

“Memang pengelolaan SLB sekarang menjadi kewenangan provinsi, tetapi ketika aset berupa tanah tidak memiliki alas hak yang jelas saat diserahkan, tentu ini harus diselesaikan bersama,” tegas Erfan.

Pihak ahli waris menegaskan bahwa penyegelan sekolah akan tetap berlangsung hingga ada penyelesaian resmi dan kesepakatan yang jelas antara pemerintah dengan keluarga pemilik lahan.

Mereka berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi segera mengambil langkah serius agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut dan mengganggu aktivitas pendidikan para siswa berkebutuhan khusus di sekolah tersebut.

Kasus penyegelan SDLB Lutang kini menjadi perhatian masyarakat Majene. Warga berharap pemerintah segera menemukan solusi terbaik yang mengedepankan aspek hukum, keadilan, dan keberlangsungan pendidikan bagi para siswa.

Persoalan sengketa lahan fasilitas pendidikan seperti ini dinilai menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dalam pengelolaan aset daerah, khususnya terkait legalitas tanah sebelum dilakukan proses serah terima kewenangan antar pemerintah daerah dan pemerintah provinsi.

Masyarakat berharap penyelesaian dilakukan secara damai dan transparan agar tidak merugikan semua pihak, terutama para peserta didik yang membutuhkan layanan pendidikan khusus.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, penyegelan SDLB Lutang di Kecamatan Banggae Timur masih berlangsung dan pihak ahli waris tetap menunggu langkah nyata dari pemerintah untuk menyelesaikan sengketa tersebut.(*)

  • Penulis: Juita
  • Editor: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • RSUD Mamuju Resmikan Layanan TBC Resisten Obat

    RSUD Mamuju Resmikan Layanan TBC Resisten Obat

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam akselerasi penanggulangan Tuberkulosis (TBC) semakin terealisasi melalui peresmian Layanan Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mamuju. Inisiatif strategis ini bukan hanya menjawab urgensi masyarakat akan akses pemeriksaan dan regimen pengobatan TBC-RO yang terstandar, komprehensif, dan terjangkau, tetapi juga menandai langkah fundamental […]

  • Pembayaran Jasa Dekorasi HUT RI di Mamasa Dipertanyakan, Vendor Mengaku Belum Dibayar

    Pembayaran Jasa Dekorasi HUT RI di Mamasa Dipertanyakan, Vendor Mengaku Belum Dibayar

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id — Persoalan pembayaran jasa dekorasi kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Mamasa ramai dibicarakan di kalangan masyarakat. Pasalnya, sejumlah pihak yang terlibat dalam pengerjaan dekorasi mengaku hingga akhir Agustus 2026 belum memperoleh kejelasan terkait pembayaran. Keluhan tersebut disampaikan salah seorang penyedia jasa dekorasi melalui unggahan media sosial, Senin […]

  • Warga Keluhkan Pelayanan PTSP Mamasa, Pengurusan NIB Diduga Dipersulit

    Warga Keluhkan Pelayanan PTSP Mamasa, Pengurusan NIB Diduga Dipersulit

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Kinerja Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, menuai sorotan tajam. Instansi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam kemudahan berusaha ini diduga mempersulit warga yang ingin mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB). ​Dugaan tersebut mencuat setelah salah seorang warga—yang meminta identitasnya dirahasiakan—mengaku mendapatkan perlakuan yang tidak profesional […]

  • GMNI Soroti Dugaan Layanan Ekspres hingga Sertifikat Bermasalah di Mateng 

    GMNI Soroti Dugaan Layanan Ekspres hingga Sertifikat Bermasalah di Mateng 

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Puluhan massa aksi dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, berunjuk rasa di Kantor Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Senin (31/8/2026). Demontran menyoroti sejumlah persoalan yang terjadi di kabupaten berjuluk Bumi Lala’ Tassisara’ itu.  Sekretaris jenderal (Sekjen) aksi, Alwi Jayadi mengatakan, persoalan tersebut merupakan […]

  • Didampingi Kuasa Hukum, Jurnalis Tribun Sulbar Diperiksa Penyidik Polres Pasangkayu 

    Didampingi Kuasa Hukum, Jurnalis Tribun Sulbar Diperiksa Penyidik Polres Pasangkayu 

    • 0Komentar

    PASANGKAYU, Sulbarupdate.id – Pemeriksaan terhadap jurnalis Tribun Sulbar, Taufan, terkait laporan dugaan penganiayaan dan pengancaman yang terjadi di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, masih berproses di penyidik. Taufan diperiksa sebagai saksi korban di ruang Pidana Umum Satreskrim Polres Pasangkayu, Rabu (23/9/2026). Dalam pemeriksaan, ia didampingi kuasa hukumnya, Syamsuddin. Pendampingan dilakukan untuk memastikan hak-hak korban selama proses […]

  • Setahun Rampung, Jembatan Rp 500 Juta di Mamuju Tengah Sudah Amblas dan Miring

    Setahun Rampung, Jembatan Rp 500 Juta di Mamuju Tengah Sudah Amblas dan Miring

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Sebuah jembatan beton sepanjang 14 meter di Desa Saloadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, kini menjadi sorotan tajam warga setempat. Meski baru rampung dikerjakan pada pertengahan 2025 lalu, infrastruktur yang menelan anggaran ratusan juta rupiah tersebut sudah mengalami kerusakan parah hingga amblas sedalam 55 sentimeter (cm). ​Pantauan di […]

expand_less