Sulbar Dikepung 3.000 Titik Panas, Gubernur: “Jangan Bakar Lahan”!
- account_circle Ancha
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar

MAMUJU, Sulbarupdate.id — Kemarau panjang mulai menunjukkan dampaknya di Sulawesi Barat. Ribuan titik panas terpantau di sejumlah wilayah, sementara kasus kebakaran terus bermunculan di tengah kondisi cuaca yang kering.
Data pemantauan terbaru mencatat sekitar 3.000 titik panas (hotspot) tersebar di wilayah Sulawesi Barat. Pada periode musim kering yang sama, sedikitnya 155 kejadian kebakaran juga telah dilaporkan, mencakup kebakaran kawasan hutan hingga permukiman masyarakat.
Situasi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat bersama pemerintah di enam kabupaten meningkatkan langkah pencegahan dan penanganan kebakaran.
Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka, mengatakan sejumlah posko telah dibangun di daerah yang dinilai rawan. Keberadaan posko tersebut diharapkan mampu mempercepat respons petugas ketika terjadi kebakaran.
Namun, Suhardi menilai kesiapsiagaan pemerintah tidak akan cukup apabila masyarakat tidak ikut berperan dalam mencegah munculnya sumber api.
Karena itu, ia memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas pembukaan dan pembersihan lahan yang dilakukan dengan cara dibakar.
Gubernur meminta para petani dan pekebun meninggalkan praktik pembakaran lahan, terutama selama kondisi cuaca sangat kering. Selain berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, pembakaran lahan juga dapat membawa konsekuensi hukum bagi pelakunya.
“Olehnya itu, saya berharap supaya kita mencegah, jangan melakukan pembakaran dalam bentuk alasan apa pun. Itu tentunya kita berharap bahwa Sulawesi Barat ini bisa terhindar dari kebakaran yang semakin meluas,” tegas Suhardi Duka.
Menurutnya, pencegahan harus menjadi prioritas karena kebakaran yang telah meluas akan jauh lebih sulit dikendalikan. Masyarakat juga diminta tidak menganggap remeh aktivitas yang menghasilkan api di tengah kondisi kemarau.
Suhardi turut mengajak seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan bersama-sama menjaga lingkungan dari potensi kebakaran.
Ia berharap hujan segera turun sehingga kondisi kemarau berkepanjangan dapat berakhir dan risiko kebakaran di Sulawesi Barat bisa ditekan.
“Saya kira itu imbauan saya. Semoga ini menjadi perhatian kita dan kita doakan semoga hujan segera turun, kemarau berkepanjangan ini bisa berhenti, dan kita Sulawesi Barat selamat dari karhutla dan kebakaran pemukiman,” pungkasnya.
Dengan ribuan titik panas yang terpantau dan ratusan kejadian kebakaran yang telah terjadi, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah ancaman kebakaran meluas selama musim kemarau.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
