Refleksi Milad HMI: Antara Kebanggaan Simbolik dan Ancaman “Iron Law of Oligarchy”
- account_circle Ancha
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
- visibility 320
- comment 0 komentar

MAMUJU, Sulbarupdate.id – Momentum Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-79 tahun ini menjadi pemantik diskusi serius mengenai arah gerak organisasi hijau-hitam tersebut.
Di tengah perayaan seremonial, muncul seruan kuat agar HMI kembali pada khittah perjuangan yakni menjaga keseimbangan antara nafas Keislaman dan Keindonesiaan.
Kader HMI Cabang Manakarra, Akbar, dalam refleksi kritisnya menyampaikan bahwa HMI tidak boleh hanya terjebak dalam romantisme sejarah sebagai pencetak intelektual muslim dan pejabat publik.
Menurutnya, kehadiran alumni di ruang strategis pemerintahan seharusnya linear dengan perubahan struktur masyarakat yang lebih adil.
Akbar menyoroti adanya fenomena stagnasi gerakan yang disebabkan oleh polarisasi kepentingan internal.
Ia mengutip teori Iron Law of Oligarchy dari Robert Michels untuk menggambarkan potensi HMI dikuasai oleh elite kecil yang mengaburkan tujuan awal organisasi demi kepentingan materi.
”HMI seringkali dijadikan alat politik kekuasaan dan sarana akumulasi kepentingan materi, alih-alih sebagai wadah perjuangan ideologis,” ujar Akbar dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan bahwa pengambilan keputusan yang sepihak dan pengabaian konstitusi organisasi melahirkan pemimpin yang hanya menjadi “pion politik praktis”.
Fenomena ini ia sebut sebagai praktik politik yang jauh dari konsep value-based politics (politik nilai) yang diwariskan oleh Nurcholish Madjid.
Dalam kacamata sosiologis, keberhasilan organisasi diukur dari dampak struktural bagi masyarakat, bukan sekadar jumlah elit yang dihasilkan.
Akbar menekankan pentingnya kader untuk menjadi subjek perjuangan, bukan alat bagi oknum senior yang sekadar ingin mengisi “bantal dapur” atau kepentingan pribadi.
”Kita harus jujur, ada oknum yang memanfaatkan HMI sebagai ‘parasit internal’—menggerogoti tubuh organisasi tanpa memberi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa,” tegasnya.
Meski melontarkan kritik tajam, optimisme tetap disuarakan. Sejarah mencatat bahwa HMI lahir dari kegelisahan intelektual dan keberanian moral.
Akbar meyakini bahwa mereka yang menggunakan HMI untuk jalan yang keliru pada akhirnya akan tergerus oleh integritasnya sendiri.
”Nama boleh dikenal sebagai figur berpengaruh, tetapi pengaruh tanpa integritas hanyalah kehampaan. Kehidupan seseorang diukur dari sejauh mana ia hadir saat organisasi dan umat benar-benar membutuhkan,” pungkasnya.
Melalui momentum Milad ini, kader HMI diharapkan mampu melakukan refleksi mendalam agar organisasi ini kembali tegak sebagai organisasi perjuangan yang berdaulat, adil, dan sejahtera, sesuai dengan cita-cita pendiriannya.(*)
- Penulis: Ancha
