Di Balik Gemerlap HUT Mamuju ke-486, Ada Jalan yang Dipeluk Warga Sendiri
- account_circle sulbarupdate
- calendar_month Sel, 14 Jul 2026
- visibility 143
- comment 0 komentar

Sulbarupdate.id – Mamuju – Di tengah kemeriahan peringatan Hari Jadi Kabupaten Mamuju ke-486 yang jatuh pada 14 Juli 2026, denting seremoni dan gegap gempita perayaan seakan menutupi satu kenyataan yang masih membekas di pelosok desa: jalan rusak yang tak kunjung mendapat perhatian.
Ketika panggung-panggung perayaan berdiri megah dan ucapan selamat memenuhi ruang publik, warga Desa Pammulukang justru memilih berkumpul dengan cangkul, sekop, dan batu. Bukan untuk merayakan, melainkan memperbaiki jalan desa mereka secara swadaya.
Jalan itu bukan sekadar hamparan tanah dan bebatuan. Di atasnya harapan diangkut setiap hari, anak-anak berangkat sekolah, hasil panen dibawa ke pasar, dan warga mempertaruhkan keselamatan saat melintas. Sayangnya, harapan itu bertahun-tahun tersendat di jalan yang rusak tanpa sentuhan pembangunan.
Ironisnya, di usia Kabupaten Mamuju yang telah mencapai 486 tahun, masih ada masyarakat yang harus menjadi pemerintah bagi dirinya sendiri. Ketika anggaran pembangunan terus bergulir dari tahun ke tahun, warga justru bergotong royong menutup lubang-lubang yang semestinya menjadi tanggung jawab negara.
Aksi swadaya warga Desa Pammulukang bukan sekadar memperbaiki jalan. Ini adalah pesan yang keras namun sunyi—bahwa kesabaran masyarakat memiliki batas. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya akses jalan yang layak agar roda kehidupan dapat terus berputar.
Hari jadi semestinya menjadi momentum refleksi, bukan hanya selebrasi. Sebab kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari megahnya panggung perayaan, tetapi juga dari sejauh mana pembangunan mampu menjangkau desa-desa yang selama ini berada di tepian perhatian.
Di Hari Jadi Mamuju ke-486, warga Desa Pammulukang telah menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih hidup. Namun semangat itu seharusnya menjadi pelengkap pembangunan, bukan pengganti kehadiran pemerintah.
Sebab pada akhirnya, jalan yang baik bukan hanya menghubungkan satu desa dengan desa lain. Ia menghubungkan janji dengan kenyataan, serta mengukur seberapa jauh pemerintah benar-benar berjalan bersama rakyatnya.
- Penulis: sulbarupdate
