Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » Jejak Keteladanan Dua Putra Mandar untuk Indonesia

Jejak Keteladanan Dua Putra Mandar untuk Indonesia

  • account_circle sulbarupdate.id
  • calendar_month Sen, 2 Feb 2026
  • visibility 279
  • comment 0 komentar

SULBARUPDATE.ID – Mandar adalah tanah yang tidak hanya melahirkan pelaut tangguh, tetapi juga manusia-manusia berkarakter kuat. Di wilayah yang menjunjung siri’—malu berkhianat pada amanah—dan lokko’—teguh menjaga harga diri—nilai bukan sekadar warisan budaya, melainkan laku hidup. Dari tanah inilah lahir dua putra terbaik bangsa yang jejaknya melampaui daerah asalnya: Baharuddin Lopa dan Salim S. Mengga.

Keduanya menempuh jalan pengabdian yang berbeda, hidup di ruang kekuasaan yang berbeda, namun memperlihatkan satu kesamaan mendasar: integritas yang tidak pernah dinegosiasikan. Dalam zaman ketika kekuasaan sering kali menjauhkan manusia dari nilai, mereka justru menjadikan nilai sebagai penuntun kekuasaan.

PROF. DR. BAHARUDDIN LOPA – Keteguhan dan Keberanian Yang Sunyi

Lopa dikenal luas sebagai sosok penegak hukum yang keras pada diri sendiri dan tanpa kompromi terhadap penyimpangan. Sejak awal pengabdiannya sebagai hakim dan jaksa, ia membangun reputasi sebagai aparat negara yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa ditundukkan oleh tekanan kekuasaan.

Ketika Indonesia memasuki masa reformasi, kepercayaan publik terhadap hukum berada di titik nadir. Penegakan hukum dicurigai sarat kepentingan, hukum kerap tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dalam konteks itulah Baharuddin Lopa dipercaya menjabat sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 2001.

Jabatan itu datang bukan tanpa risiko. Ia memikul ekspektasi besar sekaligus tekanan politik yang tidak kecil. Namun sejak awal, Lopa menunjukkan garis sikap yang jelas: hukum tidak boleh tunduk pada kekuasaan, justru kekuasaanlah yang harus tunduk pada hukum.

Dalam masa jabatan yang singkat, ia mengambil langkah-langkah tegas yang mencerminkan watak sejatinya. Ia tidak memilih perkara berdasarkan siapa pelakunya, melainkan berdasarkan apa pelanggarannya. Baginya, kebenaran hukum tidak mengenal kawan atau lawan.

Ketegasan itu sering kali membuatnya berdiri sendirian. Namun Lopa memahami bahwa kesendirian dalam kebenaran jauh lebih terhormat daripada kebersamaan dalam kompromi. Ia meyakini bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan integritas adalah kehormatan yang harus dijaga seumur hidup.

Saat wafat pada tahun 2001, Indonesia kehilangan sosok penegak hukum yang langka. Ia pergi tanpa meninggalkan kemewahan, tanpa jejak kekayaan mencolok. Namun ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih bernilai: keberanian moral—bahwa hukum bisa ditegakkan secara lurus bila penegaknya berani membayar harga kejujuran.

MAYJEND (PURN) SALIM S. MENGGA – Pengabdian Tanpa Akhir

Salim S. Mengga menempuh jalan pengabdian melalui institusi militer, sebuah ruang yang menuntut disiplin tinggi, loyalitas, dan keteguhan karakter. Sepanjang kariernya sebagai perwira TNI, ia dikenal bersahaja, tenang, dan konsisten dalam sikap.

Pangkat dan jabatan tidak pernah menjadikannya berjarak. Ia tidak membangun tembok antara dirinya dan bawahan, tidak pula menjadikan kewenangan sebagai alat untuk menegaskan superioritas. Dalam budaya militer yang keras, ia justru dikenang karena keteladanan personal dan kesederhanaan hidup.

Selepas purna tugas dari militer, Salim S. Mengga tidak berhenti mengabdi. Ia membawa nilai-nilai disiplin dan integritas itu ke ruang pengabdian sipil. Ketika dipercaya menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat periode 2017–2022, ia memandang jabatan sebagai amanah, bukan privilese.

Dalam keseharian, ia tampil apa adanya. Tidak silau fasilitas, tidak mengejar kemewahan, dan tidak menciptakan jarak dengan rakyat. Ia hadir sebagai pemimpin yang membumi—mendengar, bekerja, dan menjaga konsistensi antara kata dan perbuatan.

Di tengah godaan kekuasaan yang sering membuka peluang penyalahgunaan wewenang, Salim S. Mengga memilih tetap lurus. Ia tidak memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi, tidak menggunakan kekuasaan untuk menumpuk harta. Baginya, kehormatan hidup jauh lebih penting daripada keuntungan sesaat.

Kesederhanaannya justru melahirkan wibawa. Ia dihormati bukan karena simbol kekuasaan, tetapi karena keteguhan nilai. Dalam dirinya, jabatan menemukan makna sejatinya: ruang pelayanan, bukan panggung kemegahan.

SATU NILAI, DUA TELADAN

Baharuddin Lopa dan Salim S. Mengga memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak harus memisahkan manusia dari nilai. Mereka tidak menjadikan harta sebagai ukuran keberhasilan hidup, tidak pula menjadikan jabatan sebagai alat pemuas ambisi.

Dalam diri keduanya, siri’ hidup sebagai sikap: malu berkhianat pada amanah. Harga diri tidak diukur dari kemewahan, tetapi dari kesetiaan pada nilai. Mereka membuktikan bahwa integritas bukan slogan, melainkan pilihan hidup yang menuntut konsistensi dan keberanian.

Bagi Mandar, keduanya adalah cermin jati diri. Bagi Indonesia, mereka adalah pengingat bahwa negeri ini masih bisa berdiri tegak di atas kejujuran. Kini, ketika keduanya telah berpulang, teladan itu tidak boleh berhenti sebagai kenangan.

Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas dan kuat, tetapi manusia-manusia yang berani menjaga nurani di puncak kuasa.

Dari tanah Mandar, dua putra terbaik telah menunjukkan bahwa jalan itu mungkin—meski tidak pernah mudah.

Al-Fātiḥah untuk keduanya.(*)

  • Penulis: sulbarupdate.id

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dinsos P3A dan Pemdes Sulbar Terima Kunjungan Silaturahmi BPJS Ketenagakerjaan Sulbar

    Dinsos P3A dan Pemdes Sulbar Terima Kunjungan Silaturahmi BPJS Ketenagakerjaan Sulbar

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id — Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Pemdes) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menerima kunjungan silaturahmi dari BPJS Ketenagakerjaan Sulbar, Selasa, 6 Januari 2026. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Staf Keuangan Dinsos P3A dan Pemdes Sulbar, Masita, yang mewakili Plt. Kepala Dinas Sosial, P3A dan Pemdes Sulbar, […]

  • Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Stabil Hingga Akhir Tahun 2025

    Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Stabil Hingga Akhir Tahun 2025

    • 0Komentar

    Nasional – Sulbarupdate.id – Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang stabil hingga akhir tahun 2025 di tengah tekanan ekonomi global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi nasional hingga Triwulan III 2025 tercatat berada di kisaran 5 persen secara tahunan (year on year), mencerminkan daya tahan ekonomi domestik yang masih terjaga, Mamuju 28 Desember 2025. BPS menyebutkan bahwa […]

  • Aktivis Mamasa Ultimatum Pelaksana Proyek RSUD Kondosapata

    Aktivis Mamasa Ultimatum Pelaksana Proyek RSUD Kondosapata

    • 0Komentar

    MAMASA, SULBARUPDATE.ID – Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kondosapata’ di Kabupaten Mamasa akhirnya mulai memasuki tahap pekerjaan fisik. Proyek strategis yang disebut sebagai “hadiah” dari Presiden Joko Widodo saat kunjungannya ke Mamasa itu ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Mamasa beberapa waktu lalu. Namun, di balik dimulainya pembangunan tersebut, muncul peringatan keras dari […]

  • Kasus Dugaan Pornografi Karta Jayadi, Pelapor Tegaskan Penyelidikan Masih Bergulir

    Kasus Dugaan Pornografi Karta Jayadi, Pelapor Tegaskan Penyelidikan Masih Bergulir

    • 0Komentar

    MAKASSAR, Sulbarupdate.id – Dosen Q, pelapor dalam kasus dugaan pornografi yang menyeret nama Karta Jayadi, menegaskan bahwa proses hukum terhadap laporannya masih terus berjalan di Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan. Penegasan ini disampaikan Q usai menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel baru-baru ini. Menanggapi spekulasi yang […]

  • Gubernur Sulbar Desak Relaksasi UU HKPD: Hindari Risiko ‘Shutdown’ Daerah

    Gubernur Sulbar Desak Relaksasi UU HKPD: Hindari Risiko ‘Shutdown’ Daerah

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, mengungkap kekhawatirannya terhadap ancaman krisis fiskal yang membayangi daerah. Hal ini dipicu pemberlakuan Pasal 146 UU No. 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD) yang membatasi belanja pegawai maksimal 30 persen pada tahun 2027. ​Dalam audiensi bersama organisasi kepemudaan (OKP) […]

  • Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

    Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

    • 0Komentar

    Kita hidup dalam suatu tatanan politik dan ekonomi yang tidak sekadar timpang, tetapi secara sistematis membalikkan makna keadilan itu sendiri. Dalam dunia seperti ini, kejahatan tidak selalu hadir dalam rupa kasar dan vulgar; ia justru sering tampil rapi, legal, dan dibungkus oleh bahasa kebijakan, angka statistik, serta jargon pembangunan. Kejahatan berskala besar—yang dijalankan melalui keputusan […]

expand_less