Jejak Sunyi Sang Jenderal Humanis, Mengenang Salim S. Mengga
- account_circle Ancha
- calendar_month Sab, 31 Jan 2026
- visibility 411
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id – Sabtu pagi, 31 Januari 2026, Sulawesi Barat terbangun dalam selimut duka. Kabar itu merambat cepat dari mulut ke mulut, melintasi lembah-lembah di Mamasa hingga pesisir Polewali Mandar, sebab Mayor Jenderal TNI (Purn) Salim S. Mengga, sang Wakil Gubernur yang dikenal bersahaja, telah berpulang ke hadirat Sang Pencipta.
Bagi banyak orang, almarhum bukan sekadar pejabat tinggi. Ia adalah simbol integritas yang langka di tengah riuhnya panggung politik.
Ketulusan di Balik Seragam dan Jabatan
Salim S. Mengga dikenal sebagai sosok yang enggan berjarak dengan rakyat. Di saat protokol pemerintahan sering kali menciptakan sekat, ia justru memilih mengetuk pintu-pintu rumah warga yang selama ini luput dari pandangan kamera pejabat.
Religiusitasnya bukan sekadar tampilan, melainkan napas dalam setiap kebijakan yang ia ambil. Integritasnya sebagai mantan jenderal TNI tetap kokoh, namun hatinya tetap lembut bagi masyarakat kecil.
Saksi Perjalanan Sang “Orang Tua”
Di antara barisan pelayat, tampak Nazaruddin Gasma, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mamasa, yang tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
Pria yang akrab disapa Accang ini bukanlah orang asing bagi almarhum. Sejak tahun 2004, ia telah setia mendampingi langkah Salim S. Mengga—jauh sebelum kursi kekuasaan diraih.
“Beliau tidak pernah berubah. Sejak 2004 hingga hari ini, sikap dan prinsipnya tetap sama. Jabatan tidak pernah mengubah kesederhanaannya,” kenang Accang dengan suara yang bergetar menahan haru.
Bagi Accang, Salim bukan sekadar mentor politik, melainkan sosok ayah yang mengajarkan bahwa kehormatan seorang pemimpin tidak terletak pada kemewahan, melainkan pada penghormatannya kepada manusia, tanpa memandang kasta sosial.
“Beliau sering berpesan, jabatan itu hanya titipan. Yang paling penting adalah jejak kebaikan dan kebermanfaatan yang kita tinggalkan,” tutur Accang.
Warisan Keteladanan
Kini, kursi Wakil Gubernur itu kosong. Namun, warisan yang ditinggalkan Salim S. Mengga jauh lebih besar dari sekadar jabatan formal. Ia meninggalkan standar moral yang tinggi bagi generasi pemimpin Sulawesi Barat selanjutnya tentang bagaimana keberanian bersikap dan kejujuran harus menjadi fondasi utama dalam mengabdi.
Seiring doa-doa yang dipanjatkan, masyarakat Sulbar kini melepas sosok jenderal humanis itu menuju peristirahatan terakhirnya. Ia pergi meninggalkan duka mendalam, namun jejak kebaikannya dipastikan akan terus abadi dalam ingatan rakyat yang pernah ia sentuh hatinya.(*)
- Penulis: Ancha
