Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

  • account_circle Arwin Rahman
  • calendar_month Jum, 30 Jan 2026
  • visibility 179
  • comment 0 komentar

Kita hidup dalam suatu tatanan politik dan ekonomi yang tidak sekadar timpang, tetapi secara sistematis membalikkan makna keadilan itu sendiri. Dalam dunia seperti ini, kejahatan tidak selalu hadir dalam rupa kasar dan vulgar; ia justru sering tampil rapi, legal, dan dibungkus oleh bahasa kebijakan, angka statistik, serta jargon pembangunan. Kejahatan berskala besar—yang dijalankan melalui keputusan negara, praktik korporasi, atau mekanisme institusi berkuasa—tidak hanya dibiarkan, tetapi dilegalkan, dinormalisasi, bahkan dipamerkan sebagai prestasi. Perampasan hak dibingkai sebagai reformasi, eksploitasi sumber daya disebut investasi, dan penderitaan kolektif diterjemahkan menjadi “konsekuensi yang tak terhindarkan”.

Sebaliknya, mereka yang berani mengungkapkan kejahatan-kejahatan tersebut kerap diperlakukan sebagai ancaman. Bukan karena mereka menyebarkan kebohongan, melainkan justru karena mereka menyampaikan kebenaran yang terlalu telanjang, terlalu jujur, dan terlalu mengganggu kenyamanan narasi resmi. Dalam logika kekuasaan, kebenaran bukanlah nilai moral tertinggi; stabilitas dan kepatuhanlah yang lebih utama. Maka tidak mengherankan jika suara kritis dianggap subversif, dan keberanian moral dicurigai sebagai niat jahat.

Fenomena ini tidak dapat dipahami sebagai kegagalan etika individu semata. Ia adalah konsekuensi logis dari sistem kekuasaan yang beroperasi melalui pengendalian struktur, bukan sekadar perilaku personal. Kekuasaan modern tidak selalu memerintah dengan kekerasan fisik; ia jauh lebih efektif ketika mengelola persepsi. Kepatuhan diproduksi melalui kontrol informasi, pembingkaian bahasa, dan pengulangan wacana. Media arus utama, terminologi hukum, dan bahasa birokrasi berfungsi sebagai alat penyamaran—mengubah kekerasan struktural menjadi sesuatu yang tampak sah, rasional, bahkan perlu.

Dalam kerangka ini, pelapor kejahatan, pengkritik kebijakan, atau pembongkar manipulasi sistem tidak diposisikan sebagai penjaga moral publik. Mereka justru dilabeli sebagai pengacau, pembuat gaduh, atau ancaman terhadap ketertiban. Bukan karena argumen mereka lemah, tetapi karena keberadaan mereka membuka retakan pada narasi besar yang menopang legitimasi kekuasaan. Sistem tidak takut pada kebohongan; sistem takut pada kebenaran yang dipahami secara luas.

Ketika pengungkapan kebenaran dikriminalisasi, pesan yang disampaikan kepada masyarakat menjadi sangat jelas: persoalannya bukan pada kejahatan itu sendiri, melainkan pada keberanian untuk membicarakannya. Hukum, yang seharusnya menjadi instrumen keadilan, beralih fungsi menjadi alat disiplin. Ia tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, melainkan “siapa yang berani menentang?”. Dalam kondisi seperti ini, diam menjadi bentuk keselamatan, sementara kejujuran berubah menjadi risiko.

Namun sejarah—yang sering disederhanakan dan diselewengkan oleh pemenang—menunjukkan satu pola yang konsisten: kemajuan sosial tidak pernah lahir dari kepatuhan membuta. Ia selalu muncul dari penolakan terhadap kebohongan yang dilembagakan, dari keberanian segelintir orang untuk berkata “tidak” ketika sistem menuntut “ya”. Hak-hak sipil, kebebasan berpikir, dan keadilan sosial tidak diberikan secara sukarela oleh kekuasaan; semuanya dipaksa hadir oleh tekanan moral dan intelektual dari mereka yang menolak tunduk.

Karena itu, tanggung jawab intelektual di era modern bukanlah untuk memperhalus wajah kekuasaan atau menjadi juru bicara stabilitas semu. Tanggung jawab sejatinya adalah membongkar cara kerja kekuasaan itu sendiri—menelanjangi mekanisme yang tersembunyi di balik klaim moral, legalitas formal, dan retorika kesejahteraan. Terutama ketika kekuasaan mulai mengklaim dirinya sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan kebaikan.

Dalam dunia yang semakin bising oleh propaganda dan semakin sunyi dari kejujuran, keberanian untuk berpikir kritis dan berbicara jujur bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan bentuk perlawanan. Dan dalam perlawanan itulah, harapan akan keadilan yang sesungguhnya masih menemukan ruang untuk bernapas. (*)

  • Penulis: Arwin Rahman
  • Editor: Amiruddin

Rekomendasi Untuk Anda

  • AS Tangkap Presiden Venezuela

    AS Tangkap Presiden Venezuela

    • 0Komentar

    CARACAS, SULBARUPDATE.ID – Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan elite Amerika Serikat (AS) saat tidur, dalam penggerebekan tengah malam di Ibu Kota Caracas, Sabtu (3/1/2026). Sebanyak dua sumber yang mengetahui operasi tersebut mengatakan, pasangan itu diseret keluar dari kamar mereka oleh pasukan elite Delta Force Angkatan Darat AS. Seorang pejabat AS […]

  • BKD dan BPSDM Sulbar Resmi Bertransformasi Menjadi BKPSDM

    BKD dan BPSDM Sulbar Resmi Bertransformasi Menjadi BKPSDM

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id — Mengawali hari pertama kerja di Tahun 2026, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) bersama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) menandai babak baru organisasi dengan semangat kebersamaan. Momentum tersebut dirangkaikan melalui kegiatan Jumat Bersih dan Makan Bersama yang berlangsung di Kantor BKD Sulbar pada pukul 08.30 WITA. Kegiatan ini dipimpin […]

  • Diduga Kumpul Kebo, Pasangan Bukan Pasutri di Mamuju Diamankan Polisi

    Diduga Kumpul Kebo, Pasangan Bukan Pasutri di Mamuju Diamankan Polisi

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Tim Patmor Satuan Samapta Polresta Mamuju mengamankan pasangan bukan suami istri yakni pria berinisial F (24) dan wanita H (23). Keduanya kedapatan tinggal bersama dalam satu kamar kost di wilayah Kabupaten Mamuju, Selasa (17/2/2026) dini hari. ​Penertiban ini dilakukan setelah pihak kepolisian menerima laporan dari warga sekitar yang merasa resah dan keberatan […]

  • Modus Beli Gorengan, Pemuda di Wonomulyo Gasak HP dan Uang Saat Korban Terlelap

    Modus Beli Gorengan, Pemuda di Wonomulyo Gasak HP dan Uang Saat Korban Terlelap

    • 1Komentar

    POLMAN, Sulbarupdate.id – Kepercayaan berbuah petaka. Seorang pelajar berinisial F (18) harus kehilangan sepeda motor, ponsel, hingga uang tunai setelah dikelabui oleh kenalannya sendiri. Aksi pencurian ini terjadi di sebuah rumah kos, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo, Selasa (21/4/2026). Pihak Polsek Urban Wonomulyo kini tengah memburu pelaku berinisial AA (21) yang diduga kuat membawa kabur harta […]

  • Piala Dunia 2026: Enam Tiket Tersisa Untuk Siapa Saja?

    Piala Dunia 2026: Enam Tiket Tersisa Untuk Siapa Saja?

    • 0Komentar

    Jakarta, Sulbarupdate.id – Sudah ada 42 negara yang memastikan tempat di Piala Dunia 2026, dengan demikian masih ada enam tiket tersisa untuk berlaga pada pesta sepak bola dunia tahun depan. Belgia, Australia, Swiss, Spanyol, Skotlandia, Panama, Haiti, dan Curacao menjadi delapan negara terakhir yang semringah menyambut keberhasilan melangkah ke putaran final Piala Dunia 2026 pada […]

  • Oknum PNS di Mamuju Terjaring Penggerebekan Narkoba Jenis Sabu

    Oknum PNS di Mamuju Terjaring Penggerebekan Narkoba Jenis Sabu

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Mamuju berhasil membongkar jaringan peredaran narkotika jenis sabu yang beroperasi di pusat kota. Dalam penggerebekan yang berlangsung pada Kamis (8/1/2026) sore tersebut, polisi mengamankan tiga orang tersangka, di mana salah satu di antaranya diketahui merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Operasi senyap yang dipimpin langsung oleh […]

expand_less