Jadwal Belajar Ramadan 2026, Fokus Karakter dan Libur Awal Puasa
- account_circle Ancha
- calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
- visibility 265
- comment 0 komentar

JAKARTA, Sulbarupdate.id – Pemerintah resmi menyepakati pengaturan kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi siswa sekolah selama bulan Ramadan 2026.
Keputusan ini menitikberatkan pada keseimbangan antara pemenuhan hak belajar, penguatan nilai keagamaan, serta pembentukan karakter peserta didik.
Kesepakatan tersebut diambil dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Kamis (5/2/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kemenko PMK ini juga dihadiri oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendasmen) Abdul Mu’ti serta sejumlah pimpinan lembaga terkait.
Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa pembelajaran selama Ramadan tahun ini tidak hanya mengejar target akademik. Pemerintah ingin menjadikan bulan suci ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat iman, takwa, dan empati sosial siswa.
”Ramadan adalah momentum pendidikan karakter. Karena itu, pembelajaran kita arahkan untuk memperkuat nilai keagamaan sesuai keyakinan murid, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dan kebiasaan positif,” ujar Pratikno.
Berdasarkan hasil rapat tersebut, pemerintah telah menetapkan linimasa kegiatan pendidikan sebagai berikut:
18–20 Februari 2026, pembelajaran dilakukan di luar satuan pendidikan atau Belajar dari Rumah (BDR) sebagai masa persiapan awal Ramadan.
23 Februari–16 Maret 2026, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung secara tatap muka di sekolah dengan penyesuaian materi.
23–27 Maret 2026, Libur pascaramadan (Idul Fitri).
Pemerintah mendorong sekolah untuk memfasilitasi kegiatan spiritual bagi seluruh siswa sesuai agama masing-masing.
Siswa Muslim, diarahkan pada aktivitas seperti tadarus Alquran, pesantren kilat, kajian keislaman, hingga kompetisi seperti lomba adzan dan MTQ.
Siswa Non-Muslim, akan mendapatkan bimbingan rohani dan kegiatan keagamaan yang sesuai dengan keyakinan mereka.
Selain aspek spiritual, siswa juga diajak terlibat dalam aksi sosial seperti pembagian takjil dan penyaluran zakat.
Pratikno juga menekankan pentingnya pembentukan kebiasaan positif melalui program khusus, seperti “Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” dan “Satu Jam Tanpa Gawai”.
Pemerintah pusat meminta pemerintah daerah dan satuan pendidikan untuk segera menindaklanjuti kebijakan ini secara adaptif dan kontekstual. Meski terdapat penyesuaian jadwal, proses pendidikan diharapkan tetap berjalan optimal dan bermakna.
”Kita ingin anak-anak belajar empati, gotong royong, dan kepedulian sosial. Ramadan ramah anak harus diisi dengan aktivitas yang membangun karakter,” pungkas Pratikno(*)
- Penulis: Ancha
