SMSI Sulbar Kecam Kekerasan terhadap Reporter Tribun Sulbar di Pasangkayu
- account_circle Hamsah
- calendar_month Jum, 18 Sep 2026
- visibility 62
- comment 0 komentar

Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Barat (Sulbar), Sarman Sahuding. Foto/Istimewa
PASANGKAYU, Sulbarupdate.id — Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Barat mengecam dugaan tindakan kekerasan terhadap reporter Tribun Sulbar di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.
Ketua SMSI Sulbar, Sarman Sahuding, menegaskan bahwa kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik merupakan persoalan serius yang tidak dapat dibenarkan.
“Kami, SMSI Sulawesi Barat, mengecam serius tindakan kekerasan terhadap kawan kami, wartawan di Kabupaten Pasangkayu,” tegas Sarman, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, setiap keberatan terhadap karya jurnalistik semestinya diselesaikan melalui mekanisme yang diatur dalam kehidupan pers, bukan dengan tindakan kekerasan.
Sarman menyebut pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan dapat menggunakan hak jawab maupun hak koreksi sebagai ruang penyelesaian.
“Tidak ada ruang pembenaran bagi tindakan anarkisme dan kekerasan terhadap wartawan hanya karena sebuah berita. Pers harus dijawab dengan mekanisme pers, bukan dengan kekerasan,” tegas Sarman.
Ia menilai kebebasan pers merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Karena itu, perbedaan pandangan terhadap pemberitaan seharusnya menjadi ruang dialog dan koreksi, bukan pintu masuk bagi tindakan kekerasan.
“Ketika berita dipandang keliru, jawab dengan hak jawab. Ketika ada kekeliruan, tempuh hak koreksi. Jangan biarkan kekerasan menjadi bahasa ketika argumentasi kehilangan ruang,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Reporter Tribun Sulbar, Taufan, mengaku dipukul seorang pria bernama Umar saat menghadiri undangan klarifikasi terkait pemberitaan di SMA Negeri 1 Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Jumat (18/9/2026) pagi.
Saat dikonfirmasi, Sulbarupdate.id, Taufan membenarkan kejadian tersebut. “Iya, saya yang dipukul, Kak. Itu suaminya ibu guru yang viral itu. Saya juga tidak tahu, tiba-tiba naik pitam dan mukul saya,” ujar Taufan via telepon WhatsApp.
Menurut Taufan, dirinya datang ke sekolah setelah mendapat undangan untuk mengikuti mediasi atau klarifikasi atas pemberitaan yang sebelumnya diterbitkannya.
Saat berada di dalam ruangan bersama seorang staf guru, Umar disebut datang mengantar istrinya yang merupakan guru di sekolah tersebut. Umar kemudian bergabung dalam percakapan dan mempertanyakan pemberitaan Taufan.
Dalam perbincangan itu, Taufan mengaku Umar menyebut pemberitaan tersebut sebagai hoaks. Taufan membantahnya dan menjelaskan bahwa berita dibuat berdasarkan keterangan narasumber yang diperolehnya dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Situasi kemudian memanas. Taufan mengaku Umar berdiri dan melayangkan pukulan ke arahnya. Sejumlah guru disebut sempat berusaha melerai.
“Saya tangkis pakai tangan kiri. Andai tidak saya tangkis, pukulan itu pasti mendarat di muka saya,” kata Taufan.
Perselisihan disebut berlanjut setelah keduanya keluar dari ruangan. Taufan mengaku kembali mendapat tantangan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada polisi.
“Kalau kau lapor polisi, saya tunggu laporanmu. Saya tunggu beraninya melapor polisi,” ujar Taufan menirukan ucapan Umar.
Hingga berita ini diterbitkan, Sulbarupdate.id belum memperoleh keterangan dari Umar maupun pihak SMA Negeri 1 Bambalamotu mengenai dugaan pemukulan dan pernyataan yang disampaikan Taufan.
- Penulis: Hamsah
- Editor: Tim Redaksi
