Di Balik Seragam Polisi, Kisah Pengabdian Bripka Nur Alam di Pedalaman Mamasa
- account_circle Ancha
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id — Seragam kepolisian tak selalu identik dengan patroli, penegakan hukum, dan menjaga keamanan. Di pedalaman Kabupaten Mamasa, seorang anggota Polri memilih mengisi sebagian waktunya dengan kegiatan yang sederhana, tetapi memiliki arti bagi anak-anak di wilayah binaannya yakni mengajarkan Al-Qur’an.
Dia adalah Bripka Muh Nur Alam, anggota Polsek Mambi, Polres Mamasa, yang juga bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa.
Di sela menjalankan tugas kepolisian, Nur Alam rutin mendatangi sejumlah dusun di Desa Botteng untuk mengajar mengaji. Kegiatan tersebut telah berjalan sekitar tiga bulan dan kini diikuti sedikitnya 45 anak yang tersebar di lima dusun.
Jarak dari Polsek Mambi menuju Desa Botteng sekitar 15 kilometer. Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah. Sekitar 10 kilometer di antaranya masih dalam kondisi rusak dan sulit dilalui, terutama ketika musim penghujan.
Bagi Nur Alam, kondisi jalan bukan alasan untuk menghentikan kegiatan yang telah ia mulai. Ia justru menjadikan perjalanan tersebut sebagai bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.
Keputusan Nur Alam mengajar mengaji bermula ketika dirinya menjalankan kegiatan sambang sebagai Bhabinkamtibmas.
Saat itu, ia melihat sejumlah anak berkumpul tanpa kegiatan belajar mengaji. Dari percakapan dengan warga, ia mengetahui bahwa keterbatasan tenaga pengajar menjadi salah satu penyebabnya.
Selama ini, kegiatan mengaji di desa banyak dibantu oleh remaja dan mahasiswa asal daerah tersebut. Namun, ketika mereka kembali ke kota untuk melanjutkan pendidikan, kegiatan belajar Al-Qur’an kerap terhenti.
“Pada saat saya sambang, saya melihat anak-anak di situ kumpul-kumpul saja. Katanya tidak mengaji karena gurunya lagi ada kegiatan. Makanya saya ajak masuk ke masjid untuk mengaji,” kata Nur Alam kepada wartawan melalui sambungan telepon, Sabtu (29/8/2026).
Menurutnya, keterbatasan tenaga pengajar cukup terasa, sementara sebagian besar orang tua harus menghabiskan waktu untuk bekerja di kebun.
“Memang guru ngajinya terbatas. Ada beberapa mahasiswa, tapi kalau mereka sudah aktif lagi kuliah di kota, sudah tidak ada yang kasih belajar mengaji. Sementara warga lain, khususnya para orang tua, lebih banyak menghabiskan waktu di kebun,” ujarnya.
Dari kondisi itulah, Nur Alam kemudian memutuskan untuk ikut mengambil peran.
Kegiatan mengaji tidak dilakukan dengan mengumpulkan seluruh anak di satu lokasi. Nur Alam menyusun jadwal secara bergiliran agar anak-anak di setiap dusun tetap mendapat kesempatan belajar.
Dalam satu dusun, rata-rata terdapat delapan hingga 10 anak yang mengikuti kegiatan tersebut.
“Total ada lima dusun. Jadi jadwal mengajarnya bergiliran, satu tempat setiap hari,” jelasnya.
Masjid menjadi tempat mereka belajar. Di ruang sederhana itu, anak-anak belajar mengenal huruf hijaiyah, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, sekaligus memperbaiki kemampuan membaca.
Namun, kegiatan tersebut masih menghadapi keterbatasan fasilitas.
Sejumlah masjid yang digunakan sebagai tempat belajar disebut masih dalam kondisi yang belum memadai.
Persediaan Al-Qur’an juga terbatas, padahal buku tersebut menjadi kebutuhan utama dalam proses belajar.
“Belajarnya di masjid yang kondisinya juga cukup memprihatinkan. Kami juga kekurangan Al-Qur’an yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk belajar mengaji,” ungkap Nur Alam.
Kegiatan tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Nur Alam.
Sebelum menjadi anggota Polri, ia pernah menimba ilmu agama di Pondok Pesantren DDI Manahilil Ulum Kaballangan, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
Pengalaman sebagai santri menjadi salah satu bekal yang mendorongnya untuk mengajarkan kembali ilmu agama yang pernah diperolehnya.
“Saya termotivasi, apalagi saya juga pernah sekolah agama di Pesantren Kaballangan Pinrang,” tuturnya.
Bagi Nur Alam, pengetahuan yang pernah diperoleh tidak hanya menjadi bekal untuk dirinya sendiri. Ilmu tersebut, menurutnya, akan lebih bermanfaat ketika dapat dibagikan kepada orang lain.
Mengajar mengaji di lima dusun bukan perkara mudah. Selain harus membagi waktu dengan tugas kepolisian, Nur Alam juga harus menghadapi kondisi geografis wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
Dari Polsek Mambi menuju Desa Botteng, jaraknya sekitar 15 kilometer. Sekitar 10 kilometer di antaranya masih berupa jalan rusak dan sulit dilalui.
Kondisi tersebut semakin menjadi tantangan ketika hujan turun.
“Kalau jaraknya itu sekitar 15 kilometer dari Polsek. Tapi sekitar 10 kiloan yang masih rusak parah dan sulit dilalui, apalagi saat musim penghujan,” katanya.
Meski demikian, ia tetap berusaha meluangkan waktu. Dalam sepekan, Nur Alam sedikitnya tiga kali mengajar mengaji. Jumlah tersebut dapat bertambah ketika agenda kedinasannya tidak terlalu padat.
“Paling sedikit tiga kali seminggu saya mengajar mengaji. Kalau lagi tidak banyak tugas kedinasan, biasanya bisa lebih, tergantung kondisi,” ujarnya.
Di satu sisi, ia tetap menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas. Di sisi lain, kegiatan mengaji membuatnya memiliki kedekatan tambahan dengan masyarakat, khususnya anak-anak.
Ketekunannya bahkan mendapat perhatian dari warga. Sejumlah warga disebut meminta dirinya tinggal di desa agar pembinaan terhadap anak-anak dapat dilakukan lebih maksimal.
“Warga sering meminta saya tinggal. Tapi sulit juga, karena kita sebagai polisi juga banyak tugas lain yang tidak kalah penting,” ucapnya.
Kegiatan yang bermula dari keprihatinan terhadap anak-anak tersebut kini mulai berkembang menjadi gagasan yang lebih besar.
Nur Alam bersama seorang ulama setempat tengah merancang pembangunan rumah tahfidz Al-Qur’an di wilayah Mambi.
Rumah tahfidz tersebut diharapkan dapat menjadi tempat belajar masyarakat yang ingin meningkatkan kemampuan membaca maupun menghafal Al-Qur’an.
Tidak hanya untuk anak-anak, rencananya masyarakat dewasa yang belum mampu membaca dan menulis Al-Qur’an juga dapat mengikuti pembelajaran.
Program tersebut ditujukan terutama bagi masyarakat kurang mampu dan direncanakan tidak memungut biaya.
“Yang tidak mampu, orang tua tidak mampu baca tulis Al-Qur’an kita kasih masuk semua di sana, gratis. Kami sementara berusaha cari lahan. Insya Allah terwujud,” ungkapnya.
Saat ini, upaya mencari lahan masih dilakukan. Jika terealisasi, rumah tahfidz tersebut diharapkan dapat menjadi ruang belajar yang lebih berkelanjutan, sehingga kegiatan pendidikan Al-Qur’an tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan mahasiswa atau relawan yang hanya dapat mengajar ketika berada di kampung.
Ketika Pengabdian Hadir dari Masjid
Pengabdian Nur Alam memperlihatkan sisi lain dari peran seorang anggota kepolisian di tengah masyarakat.
Tugas menjaga keamanan dan ketertiban tetap menjadi bagian utama dari pekerjaannya sebagai anggota Polri. Namun, kedekatan dengan masyarakat dapat dibangun melalui berbagai cara, termasuk melalui kegiatan sosial dan pendidikan keagamaan.
Di sebuah desa di pedalaman Mamasa, kedekatan itu tumbuh dari kegiatan sederhana: duduk bersama anak-anak di dalam masjid, membuka lembaran Al-Qur’an, lalu membimbing mereka membaca.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Nur Alam untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat di wilayah binaannya.
Ia berharap apa yang dilakukannya dapat memberikan manfaat bagi anak-anak sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian.
“Selain memberikan rasa aman dan tenteram kepada masyarakat, melalui kegiatan ini kami berharap dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Polri,” pungkasnya.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
