Ini Pernyataan Korwil SPPG Mamasa Soal Polemik Anggaran MBG
- account_circle Ancha
- calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
- visibility 433
- comment 0 komentar

Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Mamasa, Muh. Syahrul Gunawan. (Dok.istimewa).
MAMASA, Sulbarupdate.id – Menanggapi simpang siur informasi di media sosial mengenai anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Mamasa, Muh. Syahrul Gunawan, angkat bicara.
Ia mengklarifikasi bahwa dana senilai Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per porsi tidak seluruhnya habis untuk belanja bahan makanan, melainkan mencakup biaya operasional dan pemeliharaan fasilitas.
Syahrul mengatakan, struktur pembiayaan ini telah diatur secara ketat melalui petunjuk teknis (juknis) dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Hal ini dilakukan guna memastikan keberlanjutan program, mulai dari distribusi hingga kualitas sanitasi dapur.
Berdasarkan keterangan Syahrul, terdapat pembagian porsi anggaran yang spesifik untuk menjaga keseimbangan antara kualitas makanan dan kelancaran logistik.
Bahan makanan (Food Cost), kategori kelas kecil (PAUD/TK – SD Kelas 3), dialokasikan sebesar Rp8 ribu dan kategori kelas besar (SD Kelas 4 – SMA), dialokasikan hingga Rp10 ribu.
Biaya operasional Rp3 ribu digunakan untuk upah relawan, insentif PIC sekolah dan kader posyandu, tagihan listrik, air, gas, alat tulis, hingga biaya distribusi (sewa kendaraan).
Fasilitas dan mitra sebanyak Rp 2 ribu. Dana ini dialokasikan untuk penyediaan sarana serta biaya pemeliharaan dapur. Mitra bertanggung jawab penuh atas perbaikan gedung atau peralatan jika terjadi kerusakan.
”Jika satu titik layanan menangani 3 ribu anak, maka dana fasilitas sekitar Rp6 juta itu digunakan sebagai komitmen mitra dalam menjaga kelayakan dapur agar tetap sesuai standar,” ungkap Syahrul.
Meski anggaran terbagi untuk kebutuhan non-pangan, Syahrul menjamin kualitas nutrisi siswa tidak akan berkurang. Ia menegaskan bahwa setiap menu yang disajikan telah melalui pengawasan ketat oleh Pelaksana Pengawas Gizi.
Setiap porsi makanan dihitung secara presisi berdasarkan kebutuhan kalori, protein, lemak, dan karbohidrat sesuai jenjang usia. Standar ini tetap diberlakukan secara ketat, termasuk penyesuaian menu selama bulan Ramadan, agar prinsip gizi seimbang tetap terpenuhi.
Menutup penjelasannya, Syahrul berharap masyarakat tidak lagi menelan informasi secara mentah-mentah tanpa melihat aturan teknis yang berlaku.
Ia menegaskan bahwa keterbukaan informasi adalah kunci agar program strategis ini mendapat dukungan penuh dari warga Mamasa.
”Kami ingin publik paham bahwa ada struktur anggaran yang kompleks di balik satu porsi makanan. Tujuannya satu: memastikan makanan sampai ke tangan anak-anak dalam kondisi layak, sehat, dan higienis,” pungkasnya.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Sulbarupdate
