Akses Jalan di Aralle Makin Buruk, Warga Sakit Ditandu Sejauh 10 KM
- account_circle Ancha
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- visibility 352
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id – Kondisi infrastruktur jalan penghubung Desa Pamoseang Pangga menuju Desa Uhaidao, Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa, kian mencapai titik nadir.
Minimnya atensi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Barat memicu kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat.
Kondisi jalan yang dinilai sudah tidak layak lalui tersebut baru-baru ini memicu keprihatinan publik setelah sebuah video viral menunjukkan seorang warga yang tengah sakit harus ditandu sejauh 10 kilometer menuju Puskesmas terdekat.

Kondisi Akses Jalan di penghujung Desa Pamoseang Pangga dan Uhaidao, Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamuju kian mempertahankan. (Dok. Riskul).
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa aksesibilitas kendaraan di wilayah tersebut lumpuh total akibat kerusakan jalan yang ekstrem.
Seorang tokoh pemuda Desa Ralleanak Utara, Riskul Tona’, melayangkan sorotan keras terhadap ketimpangan pembangunan yang terjadi.
Menurutnya, Desa Pamoseang Pangga seolah menjadi wilayah yang dianaktirikan di tengah deru pembangunan daerah lain.
Riskul katakan, saat ini Indonesia telah berumur 80 tahun merdeka dan Kabupaten Mamasa sudah berdiri selama 23 tahun, namun masyarakat di Pamoseang Pangga itu masih terjebak dalam penderitaan infrastruktur yang primitif.
“Desa tetangga telah menikmati aspal dan beton, jalan kami seolah tidak tersentuh tangan pemerintah,” tegas Riskul, kepada Sulbarupdate.id, Jumat 9 Januari 2026.
Riskul juga mengkritisi pola komunikasi para politisi yang dinilai hanya menjadikan perbaikan jalan sebagai komoditas politik menjelang Pemilu Legislatif (Pileg) maupun Pilkada. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak lagi membutuhkan janji-janji manis, melainkan realisasi anggaran yang konkret.
Dengan demikian pihaknya desak Pemkab Mamasa dan Pemprov Sulbar untuk segera mengalokasikan anggaran perbaikan jalan poros Desa Pamoseang Pangga pada tahun anggaran berjalan.
Ia juga meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap status “desa terpencil” yang disematkan, agar tidak ada lagi nyawa warga yang terancam karena hambatan akses kesehatan.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat setempat masih menantikan langkah nyata dari pemangku kebijakan agar isolasi geografis yang mereka alami segera berakhir.(*)
- Penulis: Ancha
