Dari Yayasan Pallawa Lipu Melalui SPPG Mehalaan, 2.081 Penerima Manfaat Nikmati MBG
- account_circle Hamsah
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 17
- comment 0 komentar

Daftar menu MBG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mehalaan, Kecamatan Mehalaan Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat, Kamis (24/9/2026). Dok. Istimewa
MAMASA, Sulbarupdate.id — Yayasan Pallawa Lipu Grup melalui SPPG Mamasa Mehalaan Mehalaan Barat, Kecamatan Mehalaan Kabupaten Mamasa, laksanakan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada ribuan penerima manfaat.
Penyaluran menyasar 2.081 penerima manfaat yang tersebar pada satuan pendidikan, anak tidak sekolah, serta kelompok 3B—balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, Kamis (24/9/2026).
Kepala SPPG Mamasa Mehalaan Mehalaan Barat, Muh. Ridwan, mengatakan penyelenggaraan program tersebut tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan, tetapi juga memastikan layanan dapat menjangkau kelompok sasaran secara luas.
“Pelaksanaan pemberian makanan bergizi gratis ini kami upayakan berjalan tertib, tepat sasaran, dan menjangkau seluruh kelompok penerima manfaat yang telah terdata,” kata Muh. Ridwan.
Layanan SPPG yang beralamat di Desa Mehalaan Barat itu didukung 47 relawan. Selain kepala SPPG, pengelolaan layanan melibatkan ahli gizi Pitri Ayu Reski, serta akuntan Gita Yuniki.
Menjangkau 32 Satuan Pendidikan
Di sektor pendidikan, cakupan layanan terbilang luas. Sebanyak 32 satuan pendidikan menjadi bagian dari kelompok sasaran, mulai dari jenjang TK dan PAUD hingga SMA dan SMK.
Data SPPG mencatat terdapat 1.155 peserta didik yang menjadi penerima manfaat. Rinciannya, 405 anak dari jenjang TK/PAUD, 486 siswa SD/MI, 162 siswa SMP, serta 102 siswa SMA/SMK.
Selain peserta didik, program tersebut juga menjangkau 359 guru dan tenaga kependidikan, terdiri atas 318 pendidik dan 41 tenaga kependidikan.
Angka tersebut menggambarkan bahwa layanan MBG tidak berhenti pada peserta didik sebagai penerima utama, tetapi turut memberikan manfaat bagi ekosistem pendidikan yang berada di sekitar mereka.
Muh. Ridwan menjelaskan, pendataan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan layanan karena sasaran penerima berasal dari berbagai kelompok dan lokasi.
“Data penerima menjadi dasar bagi kami dalam menyiapkan kebutuhan makanan setiap hari, sehingga jumlah yang disiapkan dapat disesuaikan dengan kelompok sasaran,” ujarnya.
Di luar lingkungan sekolah, layanan SPPG juga menyentuh kelompok masyarakat yang tidak berada dalam sistem pendidikan formal.
Sebanyak 40 anak tidak sekolah (ATS) tercatat sebagai penerima manfaat. Mereka berasal dari sejumlah desa, antara lain Saluahok, Mehalaan, Mehalaan Barat, Mesakada, Sampale, Salubalo, Kirak, Leko Sukamaju, Leko, Salukonta, hingga kawasan transmigrasi.
Sementara itu, kelompok 3B yang dilayani melalui 12 posyandu mencapai 527 penerima manfaat. Jumlah tersebut terdiri atas 342 balita, 32 ibu hamil, dan 153 ibu menyusui.
Jangkauan posyandu meliputi Desa Mehalaan, Mehalaan Barat, Mesakada, Sampale, Kirak, Salubalo, Leko Sukamaju, Leko, Salukonta, Saluahok, Ulumea, serta posyandu transmigrasi di wilayah Mehalaan Barat dan Pedou.
Dengan demikian, dapur SPPG di Mehalaan Barat pada satu sisi berhadapan dengan kebutuhan anak-anak di bangku sekolah, tetapi pada sisi lain juga melayani kelompok usia dan kondisi yang berbeda.
Menu Sederhana, Kandungan Gizi Diperhitungkan
Pada pelaksanaan Kamis tersebut, menu yang disiapkan terdiri atas nasi putih, ayam kecap, tahu krispi, sayur tumis labu siam, dan buah semangka.
Untuk porsi kecil, data kandungan gizi mencatat energi sebesar 680,25 kilokalori, protein 25,30 gram, lemak 52,80 gram, karbohidrat 100,56 gram, serta serat 2,33 gram.
Sementara porsi besar mengandung energi 1.045,20 kilokalori, protein 40,20 gram, lemak 20,38 gram, karbohidrat 120,81 gram, dan serat 3,79 gram.
Bagi pengelola SPPG, angka-angka tersebut bukan sekadar bagian dari administrasi penyediaan makanan. Kandungan gizi menjadi salah satu unsur yang harus diperhatikan dalam setiap penyusunan menu bagi penerima manfaat.
“Menu disiapkan dengan memperhatikan kebutuhan gizi penerima manfaat. Karena kelompok yang dilayani beragam, penyediaan makanan juga harus dilakukan secara terukur,” ujar Muh. Ridwan.
Dari dapur yang berada di Mehalaan Barat itu, makanan kemudian didistribusikan kepada kelompok sasaran yang telah terdata.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program tidak hanya terlihat dari berapa banyak makanan yang dibagikan dalam satu hari. Di balik setiap porsi terdapat proses pendataan, pengolahan, pengawasan gizi, hingga distribusi yang melibatkan puluhan orang.
Di Mehalaan, angka 2.081 penerima manfaat menjadi gambaran mengenai luasnya cakupan layanan yang harus dikelola SPPG dalam satu kali pelaksanaan.(***)
- Penulis: Hamsah
- Editor: Tim Redaksi
