Penghormatan dari Sahabat Seangkatan, Salim S Mengga Dimakankan di Kalibata
- account_circle Ancha
- calendar_month Sen, 2 Feb 2026
- visibility 299
- comment 0 komentar

Penghormatan Terakhir dari Sahabat seangkatan, Presiden Minta Wagub Sulbar Dimakamkan di Kalibata.
SULAWESI BARAT – Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI (Purn) H. Salim S. Mengga, menghembuskan napas terakhir pada usia 74 tahun di RS Siloam, Makassar, Sabtu (31/1/2026) lalu.
Kepergian Salim bukan sekadar hilangnya seorang pejabat publik, melainkan berpulangnya seorang prajurit tangguh yang dikenal karena kejujuran dan kegigihannya yang tak kunjung padam hingga akhir hayat.
Penghormatan dari Sahabat Seangkatan
Atas permintaan khusus Presiden Prabowo Subianto, jenazah Salim Mengga diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada Minggu (1/2/2026).
Permintaan ini disampaikan langsung melalui Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Bagi Prabowo dan Sjafrie, Salim bukan sekadar rekan sejawat. Ketiganya adalah kawan seangkatan di Akademi Militer (Akmil) 1974.
Di lingkungan militer, Salim juga dikenal dekat dengan Susilo Bambang Yudhoyono, yang merupakan kakak asuhnya saat menimba ilmu di Magelang.
Budayawan Mandar, M. Ridwan Alimuddin, mencatat bahwa Salim adalah tokoh Mandar ketiga yang mendapatkan kehormatan dimakamkan di Kalibata, menyusul jejak pendekar hukum Baharuddin Lopa dan mantan Wakapolri Komjen (Pol) Sjafruddin Kambo.
Di balik pangkat bintang dua dan karier menterengnya, tersimpan kisah kesederhanaan yang langka. Salim dikenal sebagai jenderal yang “lurus”.
Dalam sebuah acara di Mamuju tahun 2025 lalu, ia sempat melontarkan kalimat yang menggetarkan hati banyak orang.
“Sembilan belas tahun saya tugas di Jawa Tengah, saya tak punya rumah di sana,” kenangnya saat itu.
Selama puluhan tahun mengabdi di korps baret hitam (Kavaleri) hingga menjabat sebagai Kasdam IV Diponegoro, Salim memilih tidak menumpuk harta.
Jika ia pulang ke Polewali Mandar, ia lebih memilih beristirahat di Bonya Jonga (Rumah Rusa), sebuah rumah tua peninggalan ayahnya, Kolonel (Purn) S. Mengga.
Darah juang Salim mengalir dari ayahnya, sang Bupati legendaris Polewali Mamasa periode 1980-1990. Jika di militer ia menghabiskan 32 tahun, maka di jalur politik ia mendedikasikan hampir dua dekade hidupnya.
Kegigihan Salim dalam kontestasi politik Sulbar hampir tak tertandingi. Lima kali ia bertarung di Pilkada dan tiga kali di pemilihan legislatif.
Setelah berkali-kali mencoba, takdir akhirnya membawanya meraih kursi Wakil Gubernur Sulbar pada 2024 berpasangan dengan Suhardi Duka.
Namun, Tuhan punya rencana lain. Salim berpulang tepat di tahun pertama masa jabatannya. Ia menyusul jejak sang adik, Aladin S. Mengga, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulbar (2011-2016).
“Sayye Salim ini memang ikuti jejak ayahnya yakni berani, cerdas, dan teguh pendirian,” ujar Sayyid Djafar Thaha, sepupunya di Pambusuang.
Kini, sang Jenderal Kavaleri itu telah menuntaskan tugasnya. Ia pergi meninggalkan warisan berupa integritas bahwa seorang prajurit dan politisi bisa tetap berjalan “lurus” di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.(*)
Selamat jalan, Jenderal. Tabe.
- Penulis: Ancha
