Momen Harkitnas ke-118, SMSI Mateng:Pers Harus Jaga Kedaulatan Informasi di Era Digital
- account_circle Ruly Syamsil
- calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
- visibility 73
- comment 0 komentar

MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 dimaknai oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, sebagai ajakan bagi insan pers untuk memperkuat peran dalam menjaga kedaulatan informasi di tengah derasnya arus digitalisasi.
Plt Ketua SMSI Mamuju Tengah, Sandi Anugrah, menyatakan bahwa semangat kebangkitan nasional tidak hanya relevan dalam konteks sejarah perjuangan bangsa, melainkan juga dalam menghadapi tantangan informasi di era modern. Menurutnya, wartawan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan untuk melawan penyebaran hoaks dan disinformasi yang berpotensi memecah belah persatuan.
”Insan pers saat ini menghadapi tantangan baru. Kebangkitan nasional harus dimaknai sebagai semangat untuk melawan penyebaran informasi yang menyesatkan serta menjaga ruang publik tetap sehat,” ujar Sandi, Rabu (20/5/2026).
Sandi menilai tema Harkitnas 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, memiliki kaitan erat dengan tugas pers dalam melindungi generasi muda dari pengaruh negatif media digital. Media, lanjutnya, tidak hanya dituntut cepat dalam menyampaikan informasi, tetapi wajib mengedepankan akurasi, etika, dan nilai edukatif.
”Kedaulatan informasi menjadi bagian penting dari kedaulatan negara. Jika ruang informasi dipenuhi hoaks dan provokasi, maka persatuan bangsa juga akan ikut terancam,” tegas Sandi.
Sebagai informasi, peringatan Harkitnas merujuk pada lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, yang menjadi tonggak awal pergerakan kebangkitan nasional Indonesia.
Di sisi lain, Sekretaris Umum SMSI Mamuju Tengah, Abdul Wahid, mengajak para jurnalis di Bumi Manakarra ini untuk terus meningkatkan kapasitas diri dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi yang kian pesat.
Wahid menekankan, insan pers harus mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan profesional tanpa menanggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
”Jurnalis jangan sampai menjadi korban perkembangan teknologi. Kita harus mampu menguasai teknologi dengan tetap berpegang teguh pada etika dan tanggung jawab profesi,” pungkas Wahid.(**)
- Penulis: Ruly Syamsil
- Editor: Ancha
