Harga Elpiji 3 Kg di Mamuju Tengah Meroket, Tembus Rp 50 Ribu
- account_circle Ruly Syamsil
- calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
- visibility 366
- comment 0 komentar

MATENG, Sulbarupdate.id – Masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, kembali dikeluhkan oleh kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kilogram.
Selain sulit didapat, harga di tingkat pengecer kini melonjak drastis hingga menembus angka Rp 50.000 per tabung, jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. FD, seorang ibu rumah tangga di daerah Benteng, Kecamatan Tobadak, mengaku terkejut saat harus merogoh kocek dalam-dalam untuk satu tabung “melon” tersebut.
”Harga tabung sekarang sudah berlebih-lebihan (tallewa-lewa). Saya baru saja beli di daerah Benteng dekat Pertamina harganya Rp 50.000. Alasan pengecer karena mereka juga ambil mahal dari agen,” ujar FD kepada Sulbarupdate.id, Rabu (18/2/2026).
Senada dengan FD, Nia (42), warga lainnya, merasa kesal karena harus “berburu” tabung hingga ke wilayah Topoyo.
“Sangat langka. Kalau mau dapat harus kerja ekstra berkeliling dari satu pengecer ke pengecer lain. Saya dapat di Topoyo harganya Rp 40.000 karena di pangkalan cepat sekali habis,” keluh Nia.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperindag Mateng, Sudir, angkat bicara. Menurutnya, lonjakan harga yang fantastis ini diduga kuat akibat adanya praktik “tangan kedua” atau permainan antar pengecer.
”Terjadi rantai distribusi yang tidak sehat di tingkat pengecer. Pengecer A membeli dari pengecer B dengan harga di atas HET, lalu dijual kembali ke masyarakat dengan margin keuntungan lagi. Inilah yang membuat harga membengkak di tangan konsumen,” jelas Sudir.
Sudir menegaskan bahwa berdasarkan pantauan lapangan, harga di tingkat pangkalan resmi sebenarnya masih terpantau normal sesuai aturan.
“Di pangkalan harganya tetap normal sesuai HET, yakni Rp 18.600. Masalahnya ada di perputaran antar pengecer ini,” tambahnya.
Selain masalah permainan harga, Sudir mengungkapkan bahwa kelangkaan juga dipicu oleh kendala teknis pada distribusi agen.
Berdasarkan konfirmasi pihak dinas, sempat terjadi kerusakan armada pengangkut yang menyebabkan keterlambatan pasokan selama dua hari.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Koperindag Mateng telah lakukan kroscek langsung ke pangkalan dan agen untuk memastikan stok.
Pihaknya juga mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh pangkalan agar tidak melakukan praktik curang atau menyalurkan barang ke pihak yang berniat menimbun.
Pemerintah berharap distribusi kembali normal dalam waktu dekat agar beban ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan rumah tangga kecil, tidak semakin berat.(*)
- Penulis: Ruly Syamsil
- Editor: Ancha
