Membasuh Kasih di Parondobulawan, Kala Gereja dan Pemerintah Menenun Harmoni
- account_circle Ancha
- calendar_month Sen, 22 Des 2025
- visibility 694
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id – Di bawah langit Parondobulawan yang khidmat, sebuah simfoni spiritualitas dan sinergi kemasyarakatan bergema, Senin 22 Desember 2025.
Hari ini menjadi momentum sakral bagi segenap jemaat GPdI Ekklesia Parondobulawan yang merayakan dwi-peristiwa, pentahbisan gedung suci sekaligus peringatan hari jadinya.
Kehadiran Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, tidak sekadar sebagai representasi formalitas birokrasi, melainkan sebagai bentuk apresiasi atas peran gereja dalam merajut tatanan sosial yang humanis.
Dalam orasinya yang sarat akan nilai filosofis, Bupati Welem menekankan bahwa gereja bukan sekadar artefak arsitektural atau tempat peribadatan semata. Baginya, gereja adalah kawah candradimuka pembinaan karakter.
“Gereja adalah manifestasi dari kasih itu sendiri. Maka, eksistensi warga gereja haruslah menjadi pancaran kepedulian yang melampaui sekat dinding rumah ibadah, menjangkau tetangga, dan merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa kecuali,” tutur Welem dengan nada retoris yang menggugah.
Lebih dari sekadar institusi spiritual, Welem memotret gereja sebagai mitra strategis pemerintah.
Ia memaparkan visi tentang pembangunan daerah yang holistik, di mana nilai-nilai teologis beririsan langsung dengan tanggung jawab kewargaan.
Satu hal yang menarik dalam narasi Bupati kali ini adalah penegasan posisi gereja sebagai mitra sejajar.
Ia tidak menempatkan pemerintah di atas segalanya, melainkan membuka ruang bagi gereja untuk menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Gereja memiliki mandat moral untuk menjadi pengingat bagi pemerintah. Jika terdapat deviasi atau penyimpangan dalam pelayanan publik, gereja harus berani bersuara agar roda pemerintahan tetap berpijak pada jalur kebenaran dan keadilan,” tegasnya, disambut hangat oleh pimpinan dan majelis jemaat.
Ibadah syukuran tersebut berakhir dalam suasana yang syahdu, meninggalkan pesan kuat bahwa di Mamasa, iman dan pembangunan bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan dua sayap yang membawa daerah ini terbang menuju kesejahteraan yang berlandaskan kasih.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Sulbarupdate
