Kampung Natal Tondok Bakaru Mamasa, Oase Ekonomi Kreatif di Bawah Naungan Pinus
- account_circle Tim Reporter Sulbarupdate
- calendar_month Minggu, 7 Des 2025
- visibility 251
- comment 0 komentar

Mamasa, Sulbarupdate.id – Desember kembali menyapa, dan bersamaan dengannya, spirit adiwarna Natal berdenyut kencang dari jantung topografi Sulawesi Barat.
Desa Tondok Bakaru, sebuah anomali eksotis di Kabupaten Mamasa, sekali lagi menyingkap tirai atas panggung rindu yang bertajuk Kampung Natal.
Sebuah tradisi kontemplatif yang kini menapaki usia paruh dasawarsa kelima, perhelatan ini telah resmi diluncurkan pada Sabtu, 6 Desember 2025, dan seketika menyedot atensi kolektif khalayak ramai.
Di bawah kanopi rindang pepohonan pinus, yang disulap menjadi sebuah arsitektur temaram nan gemerlap oleh lilitan cahaya dan ornamen Hari Raya, Tondok Bakaru bertransformasi.
Ia menjelma menjadi sebuah ruang perjumpaan sakral—medan sintesis antara ekspresi iman mendalam dan gelora ekonomi kreatif masyarakat akar rumput.
Pembukaan edisi teranyar ini kian mengukuhkan legitimasinya dengan kehadiran esensial pucuk pimpinan daerah.
Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, turut membersamai, menandai sebuah afirmasi nyata dari pemerintah kabupaten terhadap pengembangan destinasi wisata berbasis komunal ini.
“Kampung Natal adalah manifestasi kolektif dari kemandirian desa. Sebuah siklus ekonomi yang berputar dalam bingkai perayaan iman.”ujar Welem.
Katalisator Ekonomi Desa
Pengelolaan entitas wisata temporer ini sepenuhnya diamanatkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tondok Bakaru. Dalam rentang lima tahun eksistensinya, destinasi ini terbukti bukan sekadar euforia musiman, melainkan sebuah katalisator ekonomi yang signifikan.
Estimasi omzet per musim buka, menurut data yang terhimpun, mampu mencapai kisaran ratusan juta rupiah, merefleksikan sirkulasi fiskal yang substansial di tingkat lokal.
Kepala Desa Tondok Bakaru, Dessaratu, menjamin bahwa resonansi perayaan ini akan berlangsung selama satu bulan penuh.
Antusiasme para peziarah Natal—sebutan bagi pengunjung—turut diimbangi dengan kebijakan tarif yang ekonomis dan inklusif.
Pengunjung dalam kategori dewasa hanya dibebani retribusi masuk sebesar Rp20.000, sebuah angka yang dianggap proporsional dengan pengalaman yang ditawarkan.
“Sementara bagi juvenil di bawah usia 10 tahun, kami berikan akses gratuitas,” tandasnya.
Proyeksi Ambisius dan Akustik Pesta
Tahun ini, pihak pengelola secara ambisius memproyeksikan sebuah lonjakan kuantitatif pada matriks pengunjung.
“Kami menargetkan 40 ribu pengunjung, sebuah peningkatan signifikan dari angka tahun sebelumnya yang berkisar pada 30 ribu jiwa,” jelas Dessaratu, figur Kepala Desa yang memegang mandat kepemimpinan dua periode.
Tak hanya mengandalkan daya pikat visual, Kampung Natal juga akan dihiasi oleh nuansa akustik yang berpadu mesra dengan hawa dingin pegunungan.
Pada pekan pembukaan, para pengunjung akan disuguhi konser musik tematik, sebuah kontribusi audio yang mempertebal suasana hangat dan reflektif perayaan.
“Instrumen musik telah disiagakan di atas, siap mengisi dan menarasikan jalannya perayaan Natal,” pungkasnya.
Pada hakikatnya, Kampung Natal Tondok Bakaru melampaui sebutan destinasi wisata sesaat.
Ia adalah sebuah simbol kemaslahatan—pembacaan atas kolaborasi harmonis antara sentimen keimanan yang teguh, kreativitas tanpa batas, dan otonomi ekonomi desa.
Ia adalah wajah lain Mamasa yang berpendar cemerlang di ujung kalender tahunan.
- Penulis: Tim Reporter Sulbarupdate
- Editor: Tim editor
