Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Negara Diam, Petani Sawit Mamuju Tengah dan Pasangkayu Dikurung Monopoli

Negara Diam, Petani Sawit Mamuju Tengah dan Pasangkayu Dikurung Monopoli

  • account_circle Khalil Jibran
  • calendar_month Sab, 23 Mei 2026
  • visibility 259
  • comment 0 komentar

Oleh: Khalil Jibran

Aktivis PMII Sulawesi Barat

Di Kabupaten Mamuju Tengah dan Pasangkayu, ada dua harga yang hidup berdampingan. Satu harga di atas kertas, satu harga di lapangan. Di atas kertas, Dinas Perkebunan menetapkan harga acuan TBS Rp 3.370/kg. Di lapangan, petani hanya menerima Rp 1.000/kg.

Selisih Rp 2.370/kg ini adalah selisih antara kehadiran negara dan ketidakhadirannya. Ia adalah selisih antara hukum dan kekuasaan modal.

Sebagai kader PMII yang lahir dari rahim pergerakan rakyat, saya melihat ini bukan lagi persoalan dagang biasa. Ini adalah bentuk penghisapan struktural terhadap petani. Negara hadir lewat Disbun, tapi hanya sampai pengumuman mingguan. Tidak ada gigi, tidak ada sanksi. Akibatnya, harga acuan berubah jadi sandiwara birokrasi.

Modus Lama, Luka Baru

Di titik inilah perusahaan sawit menjalankan praktik monopsoni halus. Petani tidak diberi pilihan. Buah yang mereka panen dengan darah dan keringat tiba-tiba divonis “grade C” semua. Proses sortasi tertutup, slip timbangan tidak transparan, dan protes dianggap mengganggu.

Yang lebih parah, perusahaan sering memainkan skenario buka-tutup pembelian di pabrik dengan alasan klasik, overload, mesin rusak, kapasitas penuh. Padahal yang terjadi adalah antrian truk petani menumpuk 2-3 hari di luar pabrik. TBS yang mengantri jadi busuk, kadar air naik, dan akhirnya dibeli dengan harga potongan besar atau bahkan ditolak. Petani yang tidak punya pilihan terpaksa menjual ke pengepul dengan harga lebih rendah lagi. Ini bukan manajemen pabrik yang buruk. Ini strategi untuk memaksa petani menyerah dan menerima harga murah.

Ketika petani menjual 500 kg seorang diri, posisi tawarnya nol. Maka harga ditekan serendah mungkin.

Saya menyebut ini sebagai kegagalan negara dalam menjalankan fungsi wasit. Pasar yang sehat butuh wasit. Dan wasit itu adalah negara. Tetapi yang terjadi di Mamuju Tengah dan Pasangkayu adalah negara membiarkan lapangan diserahkan pada kekuatan yang lebih kuat.

Akibatnya jelas, motivasi petani mati, rantai pasok sawit rakyat rusak, kemiskinan struktural dipelihara, dan Meluasnya konflik agraria hanya tinggal menunggu waktu. PAD daerah tidak maksimal, sementara perusahaan mengeruk keuntungan di atas penderitaan petani.

Karena itu saya mendesak DPRD dan Pemerintah Daerah Mamuju Tengah dan Pasangkayu untuk segera keluar dari zona nyaman “mekanisme pasar”. Negara tidak boleh netral ketika rakyatnya dirugikan.

Tiga langkah mendesak yang harus diambil:

Pertama, bentuk Perusda/Perseroda Agribisnis Sawit sebagai pembeli dan penyeimbang pasar. Dengan adanya Perusda, petani punya alternatif pembeli. Perusahaan tidak lagi bisa seenaknya buka-tutup pabrik untuk memaksa petani antri dan merugi.

Kedua, terbitkan Perda tentang Perlindungan Petani Sawit yang memuat:
Kewajiban perusahaan membeli TBS minimal 85% dari harga acuan Disbun. Kewajiban transparansi jadwal buka-tutup pabrik dan kapasitas harian. Sanksi tegas berupa teguran, denda administratif, hingga pencabutan izin bagi perusahaan yang sengaja menutup pembelian tanpa alasan teknis yang diverifikasi Disbun.

Ketiga, wajibkan transparansi sortasi dan libatkan perwakilan petani dalam dewan pengawas Perusda. Bentuk Tim Pengawas Harga tingkat kecamatan yang punya wewenang cek langsung ke pabrik saat terjadi antrian panjang. Tanpa transparansi dan pengawasan, Perusda hanya akan jadi proyek baru yang gagal.

Kebijakan ini bukan utopia. Beberapa daerah sudah membuktikan:

1. Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Lewat Perda No. 4/2018 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pekebun Kelapa Sawit, perusahaan wajib membeli TBS minimal 85% dari harga penetapan pemerintah daerah. Jika melanggar, izin usaha bisa ditinjau ulang. Hasilnya, harga petani di sana lebih stabil dan tidak jatuh di bawah Rp 2.500/kg bahkan saat harga CPO turun.

2. Kabupaten Rokan Hulu, Riau
Pemda membentuk Perusda Agrobisnis yang berfungsi sebagai penampung TBS petani swadaya. Perusda mengumpulkan 200-300 ton per hari lalu dijual langsung ke PKS dengan negosiasi harga. Petani yang bergabung dapat harga Rp 2.900-3.100/kg, sementara petani individu hanya dapat Rp 1.700-2.000/kg.

3. Provinsi Bengkulu
Pemprov melalui Perusda membangun PKS mini khusus untuk menampung sawit rakyat. Skema ini memotong rantai tengkulak dan menaikkan daya tawar petani hingga 20-30%.

Dasar hukumnya sudah jelas, UU No. 23/2014 dan PP No. 54/2017 memberi ruang bagi daerah untuk membentuk BUMD yang berpihak pada rakyat. Jadi alasan “tidak ada anggaran” dan “tidak ada kewenangan” tidak bisa lagi dipakai.

Saya dan PMII Sulawesi Barat berdiri bersama petani. Kami tidak sedang meminta belas kasihan. Kami menuntut keadilan ekonomi yang dijamin konstitusi. Pasal 33 UUD 1945 jelas. cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

Pertanyaannya sederhana, apakah DPRD dan Pemda Mamuju Tengah dan Pasangkayu berani belajar dari daerah lain dan menjadi wasit bagi rakyatnya sendiri? Atau akan terus diam sementara petani dikorbankan di atas tanahnya sendiri?

Sudah saatnya negara hadir, bukan hanya lewat pengumuman harga, tapi lewat keberpihakan nyata.

  • Penulis: Khalil Jibran
  • Editor: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • Satlantas Polres Polman Larang Anak di Bawah Umur Pakai Sepeda Listrik ke Sekolah

    Satlantas Polres Polman Larang Anak di Bawah Umur Pakai Sepeda Listrik ke Sekolah

    • 0Komentar

    ​POLMAN, Sulbarupdate.id — Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Polewali Mandar (Polman) melarang keras anak di bawah umur mengendarai sepeda listrik, khususnya sebagai sarana transportasi menuju sekolah. Langkah tegas ini diambil demi menekan angka kecelakaan dan menjaga keselamatan anak di jalan raya. ​Larangan tersebut ditegaskan kembali oleh Unit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Satlantas Polres Polman saat […]

  • Pasca 14 Siswa Diduga Keracunan MBG di Tabulahan, Operasional SPPG Dihentikan

    Pasca 14 Siswa Diduga Keracunan MBG di Tabulahan, Operasional SPPG Dihentikan

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id — Sebanyak 14 siswa SMP Negeri 1 Tabulahan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, dilarikan ke Puskesmas Tabulahan setelah mengalami keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG), Senin (28/9/2026). Dari 14 siswa tersebut, enam orang telah diperbolehkan pulang, sementara delapan siswa lainnya masih menjalani perawatan. Salah satu siswa dilaporkan dirujuk ke […]

  • Akses Terputus, Warga Polman Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat Pakai Bambu

    Akses Terputus, Warga Polman Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat Pakai Bambu

    • 0Komentar

    POLMAN, Sulbarupdate.id — Kecewa lantaran akses jalan utama tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah daerah, warga Desa Pap-pao, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, terpaksa membangun jembatan darurat secara swadaya. Dengan peralatan seadanya, warga membentangkan batang-batang bambu agar aktivitas ekonomi dan pendidikan tidak lumpuh total, Kamis (14/5/2026). ​Kondisi infrastruktur yang menghubungkan pemukiman warga ini dilaporkan terputus […]

  • JSM: Saya Bangga Bekerja Bersama SDK Bangun Sulbar

    JSM: Saya Bangga Bekerja Bersama SDK Bangun Sulbar

    • 0Komentar

    MAMUJU, SULBARUPDATE.ID – Wakil Gubernur Sulawesi Barat Salim S Mengga menyampaikan rasa bangganya bisa bekerja bersama Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) dalam membangun Sulbar. Ia menyebut kepemimpinan Gubernur Sulbar Suhardi Duka terbukti kuat, terutama dalam pengelolaan pemerintahan dan pengendalian ekonomi. “Saya sungguh merasa bangga bekerja sama dengan bapak Suhardi Duka dalam membangun Sulbar,” ujarnya saat […]

  • UPTD BPHMT- IB Sulbar Terima Delapan Mahasiswa PKL Jurusan Peternakan Unsulbar 

    UPTD BPHMT- IB Sulbar Terima Delapan Mahasiswa PKL Jurusan Peternakan Unsulbar 

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id — Sebanyak delapan mahasiswa Jurusan Peternakan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) secara resmi diterima untuk melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) oleh Kepala UPTD Balai Perbibitan Hijauan Makanan Ternak dan Inseminasi Buatan (BPHMT- IB) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Nurdin, Selasa (06/01/2026). Kegiatan PKL ini akan dilaksanakan selama 40 hari dan dipusatkan di Instalasi Perbibitan […]

  • Sambut Piala Dunia 2026, Kominfo Mateng dan Percepat Pembangunan Transmisi

    Sambut Piala Dunia 2026, Kominfo Mateng dan Percepat Pembangunan Transmisi

    • 1Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Demam Piala Dunia 2026 mulai menjangkiti Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) Sulawesi Barat (Sulbar). Guna memastikan euforia pesta sepak bola jagat raya tersebut bisa dinikmati tanpa gangguan sinyal, Pemerintah Kabupaten Mateng melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bergerak taktis. Langkah kongkrit diawali dengan pertemuan koordinasi teknis bersama TVRI Sulawesi Barat yang berlangsung […]

expand_less