Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Negara Diam, Petani Sawit Mamuju Tengah dan Pasangkayu Dikurung Monopoli

Negara Diam, Petani Sawit Mamuju Tengah dan Pasangkayu Dikurung Monopoli

  • account_circle Khalil Jibran
  • calendar_month Sab, 23 Mei 2026
  • visibility 65
  • comment 0 komentar

Oleh: Khalil Jibran

Aktivis PMII Sulawesi Barat

Di Kabupaten Mamuju Tengah dan Pasangkayu, ada dua harga yang hidup berdampingan. Satu harga di atas kertas, satu harga di lapangan. Di atas kertas, Dinas Perkebunan menetapkan harga acuan TBS Rp 3.370/kg. Di lapangan, petani hanya menerima Rp 1.000/kg.

Selisih Rp 2.370/kg ini adalah selisih antara kehadiran negara dan ketidakhadirannya. Ia adalah selisih antara hukum dan kekuasaan modal.

Sebagai kader PMII yang lahir dari rahim pergerakan rakyat, saya melihat ini bukan lagi persoalan dagang biasa. Ini adalah bentuk penghisapan struktural terhadap petani. Negara hadir lewat Disbun, tapi hanya sampai pengumuman mingguan. Tidak ada gigi, tidak ada sanksi. Akibatnya, harga acuan berubah jadi sandiwara birokrasi.

Modus Lama, Luka Baru

Di titik inilah perusahaan sawit menjalankan praktik monopsoni halus. Petani tidak diberi pilihan. Buah yang mereka panen dengan darah dan keringat tiba-tiba divonis “grade C” semua. Proses sortasi tertutup, slip timbangan tidak transparan, dan protes dianggap mengganggu.

Yang lebih parah, perusahaan sering memainkan skenario buka-tutup pembelian di pabrik dengan alasan klasik, overload, mesin rusak, kapasitas penuh. Padahal yang terjadi adalah antrian truk petani menumpuk 2-3 hari di luar pabrik. TBS yang mengantri jadi busuk, kadar air naik, dan akhirnya dibeli dengan harga potongan besar atau bahkan ditolak. Petani yang tidak punya pilihan terpaksa menjual ke pengepul dengan harga lebih rendah lagi. Ini bukan manajemen pabrik yang buruk. Ini strategi untuk memaksa petani menyerah dan menerima harga murah.

Ketika petani menjual 500 kg seorang diri, posisi tawarnya nol. Maka harga ditekan serendah mungkin.

Saya menyebut ini sebagai kegagalan negara dalam menjalankan fungsi wasit. Pasar yang sehat butuh wasit. Dan wasit itu adalah negara. Tetapi yang terjadi di Mamuju Tengah dan Pasangkayu adalah negara membiarkan lapangan diserahkan pada kekuatan yang lebih kuat.

Akibatnya jelas, motivasi petani mati, rantai pasok sawit rakyat rusak, kemiskinan struktural dipelihara, dan Meluasnya konflik agraria hanya tinggal menunggu waktu. PAD daerah tidak maksimal, sementara perusahaan mengeruk keuntungan di atas penderitaan petani.

Karena itu saya mendesak DPRD dan Pemerintah Daerah Mamuju Tengah dan Pasangkayu untuk segera keluar dari zona nyaman “mekanisme pasar”. Negara tidak boleh netral ketika rakyatnya dirugikan.

Tiga langkah mendesak yang harus diambil:

Pertama, bentuk Perusda/Perseroda Agribisnis Sawit sebagai pembeli dan penyeimbang pasar. Dengan adanya Perusda, petani punya alternatif pembeli. Perusahaan tidak lagi bisa seenaknya buka-tutup pabrik untuk memaksa petani antri dan merugi.

Kedua, terbitkan Perda tentang Perlindungan Petani Sawit yang memuat:
Kewajiban perusahaan membeli TBS minimal 85% dari harga acuan Disbun. Kewajiban transparansi jadwal buka-tutup pabrik dan kapasitas harian. Sanksi tegas berupa teguran, denda administratif, hingga pencabutan izin bagi perusahaan yang sengaja menutup pembelian tanpa alasan teknis yang diverifikasi Disbun.

Ketiga, wajibkan transparansi sortasi dan libatkan perwakilan petani dalam dewan pengawas Perusda. Bentuk Tim Pengawas Harga tingkat kecamatan yang punya wewenang cek langsung ke pabrik saat terjadi antrian panjang. Tanpa transparansi dan pengawasan, Perusda hanya akan jadi proyek baru yang gagal.

Kebijakan ini bukan utopia. Beberapa daerah sudah membuktikan:

1. Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Lewat Perda No. 4/2018 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pekebun Kelapa Sawit, perusahaan wajib membeli TBS minimal 85% dari harga penetapan pemerintah daerah. Jika melanggar, izin usaha bisa ditinjau ulang. Hasilnya, harga petani di sana lebih stabil dan tidak jatuh di bawah Rp 2.500/kg bahkan saat harga CPO turun.

2. Kabupaten Rokan Hulu, Riau
Pemda membentuk Perusda Agrobisnis yang berfungsi sebagai penampung TBS petani swadaya. Perusda mengumpulkan 200-300 ton per hari lalu dijual langsung ke PKS dengan negosiasi harga. Petani yang bergabung dapat harga Rp 2.900-3.100/kg, sementara petani individu hanya dapat Rp 1.700-2.000/kg.

3. Provinsi Bengkulu
Pemprov melalui Perusda membangun PKS mini khusus untuk menampung sawit rakyat. Skema ini memotong rantai tengkulak dan menaikkan daya tawar petani hingga 20-30%.

Dasar hukumnya sudah jelas, UU No. 23/2014 dan PP No. 54/2017 memberi ruang bagi daerah untuk membentuk BUMD yang berpihak pada rakyat. Jadi alasan “tidak ada anggaran” dan “tidak ada kewenangan” tidak bisa lagi dipakai.

Saya dan PMII Sulawesi Barat berdiri bersama petani. Kami tidak sedang meminta belas kasihan. Kami menuntut keadilan ekonomi yang dijamin konstitusi. Pasal 33 UUD 1945 jelas. cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

Pertanyaannya sederhana, apakah DPRD dan Pemda Mamuju Tengah dan Pasangkayu berani belajar dari daerah lain dan menjadi wasit bagi rakyatnya sendiri? Atau akan terus diam sementara petani dikorbankan di atas tanahnya sendiri?

Sudah saatnya negara hadir, bukan hanya lewat pengumuman harga, tapi lewat keberpihakan nyata.

  • Penulis: Khalil Jibran
  • Editor: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lansia Hilang di Hutan Mamuju Tengah Ditemukan Meninggal Dunia

    Lansia Hilang di Hutan Mamuju Tengah Ditemukan Meninggal Dunia

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Operasi pencarian terhadap seorang lansia bernama Nasrullah (94) yang hilang di kawasan hutan Dusun Kalia, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, berakhir duka. Memasuki hari keempat pencarian, Tim SAR Gabungan menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa (24)/2/2026). Jasadnya berada di dasar jurang dengan kedalaman berjarak sekitar 450 meter dari titik […]

  • Buntut Temuan Belatung, Pengawasan Dapur MBG di Mamasa Diperketat

    Buntut Temuan Belatung, Pengawasan Dapur MBG di Mamasa Diperketat

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Pemerintah Kabupaten Mamasa melalui Koordinator Wilayah (Korwil) Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi memperketat pengawasan di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah tegas ini diambil menyusul temuan belatung pada menu makanan di wilayah Aralle yang sempat mencuat beberapa waktu lalu. Koordinator Wilayah MBG Kabupaten Mamasa, Muhammad Syahrul Gunawan, menyatakan bahwa pihaknya bersama […]

  • Pertemuan Lintas Generasi: SDK dan AAS Bahas Kesinambungan Pembangunan Sulbar

    Pertemuan Lintas Generasi: SDK dan AAS Bahas Kesinambungan Pembangunan Sulbar

    • 0Komentar

    Jakarta, Sulbarupdate.id – Pertemuan hangat berlangsung hari ini di Jakarta, Sabtu24 Januari 2026, mempertemukan dua tokoh utama Sulawesi Barat lintas generasi kepemimpinan. Dalam suasana santai penuh keakraban, tampak Gubernur Sulbar saat ini, Suhardi Duka, duduk bersama mantan Gubernur Sulbar (2006-2016), H. Anwar Adnan Saleh atau yang akrab disapa AAS. Hadir juga Dr. Junda Maulana Sekretaris […]

  • Nyaris Culik Anak Dengan Modus Beri Cuan, Pria Asal Mamuju Tengah Dibekuk Polisi di Mamasa

    Nyaris Culik Anak Dengan Modus Beri Cuan, Pria Asal Mamuju Tengah Dibekuk Polisi di Mamasa

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Keresahan menyelimuti warga Dusun Rea, Desa Tabang Barat, Kecamatan Tabang, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar). Seorang pria berinisial S (26), warga Rante Kumbiling, Mamuju Tengah, terpaksa diamankan personel Polsek Pana dan warga setempat setelah diduga kuat melakukan percobaan penculikan terhadap seorang anak di bawah umur, Minggu (10/5/2026). Aksi dugaan penculikan ini menimpa […]

  • Seorang Montir di Makassar Tewas Tersengat Listrik

    Seorang Montir di Makassar Tewas Tersengat Listrik

    • 0Komentar

    MAKASSAR, Sulbarupdate.id – Insiden maut menimpa seorang pekerja di Jalan Bung Permai, Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, pada Jumat (30/1/2026) siang. Korban bernama Djufri (43), seorang montir bengkel, dilaporkan meninggal dunia setelah tersengat aliran listrik saat sedang mengecat atap sebuah indekos. Kapolsek Tamalanrea, Kompol Muhammad Yusuf mengatakan, peristiwa bermula ketika korban bersama rekannya, […]

  • Jelang Nataru, Wakil Ketua DPRD Mamasa Minta Dinas Terkait Pantau Stok Pangan

    Jelang Nataru, Wakil Ketua DPRD Mamasa Minta Dinas Terkait Pantau Stok Pangan

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Menyongsong momentum Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru (Nataru) 2026, Wakil Ketua DPRD Mamasa, Arwin Rahman, instruksikan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) serta Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) untuk melakukan akselerasi pengawasan di lapangan. Langkah ini diambil guna menjamin ketersediaan komoditas bahan pokok sekaligus menekan fluktuasi harga yang mulai meresahkan masyarakat. Arwin […]

expand_less