Mamuju Tercatat Wilayah Radiasi Alam Tertinggi, Capai 9 Kali Lipat Rata-Rata Dunia
- account_circle Ancha
- calendar_month Sen, 16 Mar 2026
- visibility 154
- comment 0 komentar

JAKARTA, Sulbarupdate.id – Wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, kini menjadi sorotan dunia ilmiah internasional. Berdasarkan laporan terbaru dari Komite Ilmiah PBB untuk Efek Radiasi Atom (UNSCEAR) tahun 2024, Mamuju tercatat memiliki tingkat paparan radiasi alam yang jauh melampaui rata-rata global.
Dalam laporan bertajuk UNSCEAR 2024 Report – Annex B, Mamuju resmi dikategorikan sebagai High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) atau wilayah dengan radiasi latar belakang alami tinggi.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Peneliti Ahli Madya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Rahmah Hidayati, mengungkapkan bahwa estimasi dosis efektif tahunan di Mamuju mencapai 27 milisievert (mSv).
Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan rata-rata penduduk dunia yang hanya menerima paparan sekitar 3 mSv per tahun.
”Jika dibandingkan, paparan yang diterima penduduk Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dari rata-rata dunia,” ujar Nur Rahmah, yang juga merupakan perwakilan Indonesia untuk UNSCEAR, dalam keterangan resminya, Minggu (15/3/2026).
Kandungan Uranium dan Thorium yang Tinggi
Tingginya tingkat radiasi di wilayah ini disebabkan oleh kondisi geologis setempat. Hasil penelitian menunjukkan tanah di Mamuju mengandung konsentrasi Uranium-238 dan Thorium-232 yang sangat masif, bahkan di beberapa titik melampaui 1.000 Bq/kg.
Sebagai perbandingan, rata-rata konsentrasi global kedua unsur tersebut hanya berkisar antara 33 hingga 45 Bq/kg.
Selain unsur tanah, gas radon di udara luar Mamuju juga menjadi faktor penyumbang utama. Rata-rata kadar radon di sana mencapai 290 Bq/m³, jauh di atas normal.
Namun, Nur Rahmah menyebutkan bahwa struktur bangunan rumah tradisional di Mamuju yang memiliki ventilasi baik sangat membantu mencegah penumpukan gas radon di dalam ruangan.
Kepala Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir BRIN, Heru Prasetio, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan kewajaran geologis.
Ia menambahkan bahwa data dari Mamuju kini menjadi aset penting bagi basis data keselamatan radiasi dunia.
”Temuan ini memperlihatkan bahwa Indonesia melalui BRIN berkontribusi dalam pemutakhiran basis data global mengenai paparan radiasi alam,” kata Heru.
Para peneliti menilai Mamuju sebagai “laboratorium alam” yang krusial untuk mempelajari dampak jangka panjang paparan radiasi rendah terhadap kesehatan manusia secara alami.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Sulbarupdate
