Festival Angittimor Majene Lestarikan Tradisi Lokal
- account_circle Juita
- calendar_month Kam, 20 Agu 2026
- visibility 221
- comment 0 komentar

MAJENE, Sulbarupdate.id — Lembaga Masyarakat Lampu Paindo Peduli Kepariwisataan Indonesia berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah menggelar Festival Angittimor di Lapangan Tembak Moloku, Lingkungan Moloku, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Kamis (20/8/2026).
Festival mengusung tema “Mappatodong Tinjaq, Mappakaraya Assimemangang” yang berarti “Menunaikan Nazar, Merayakan Tradisi”. Kegiatan ini menjadi upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan tradisi dan kebudayaan lokal, khususnya kepada generasi muda.
Puluhan pelajar tingkat SD hingga SMP turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman dan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini.
Festival tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Majene Hj. Andi Ritamariani Basharoe, Sekretaris Kabupaten Majene H. Ardiansyah, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah Rinto Frans Simbong dan Drs. H. Ahmad Djamaan, serta unsur TNI-Polri, DPRD, pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat dan pemerhati kebudayaan.
Festival Angittimor dibuka langsung oleh Wakil Bupati Majene. Dalam sambutannya, ia berharap kegiatan pengenalan dan sosialisasi kebudayaan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Harapannya, kegiatan sosialisasi seperti ini harus selalu dilaksanakan ke depan,” ujar Andi Ritamariani.
Menurutnya, kegiatan kebudayaan penting untuk memperkenalkan tradisi kepada masyarakat, terutama generasi muda, sehingga warisan budaya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketua Panitia Festival Angittimor, Subhan, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Sejumlah agenda budaya disiapkan, di antaranya Pammanassa, Passayang-sayang, Pakkattau, dan Dialog Budaya.
“Festival ini diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat tradisi dan nilai budaya yang ada di tengah masyarakat,” jelasnya.
Pelaksanaan Festival Angittimor mendapat dukungan melalui Bantuan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Tengah tahun 2026 sebesar Rp50 juta.
Selain sebagai upaya pelestarian budaya, festival ini juga diharapkan dapat mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Majene.
Tradisi lokal dinilai memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata apabila dikembangkan secara berkelanjutan tanpa menghilangkan nilai dan identitas masyarakat setempat.
Keterlibatan pemerintah, komunitas, pelaku budaya, masyarakat dan dunia pendidikan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi.
Festival Angittimor diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi ruang kebudayaan yang mampu memperkenalkan kekayaan tradisi Majene kepada masyarakat yang lebih luas.
Tema “Mappatodong Tinjaq, Mappakaraya Assimemangang” pun menjadi pesan bahwa pelestarian budaya bukan hanya mempertahankan bentuk tradisi, tetapi juga menjaga nilai kebersamaan, warisan leluhur dan identitas masyarakat. (*)
- Penulis: Juita
- Editor: Ancha
