Revitalisasi Identitas Pesisir, Program “Taki Maqbasa Mamuju” Resmi Mengangkasa
- account_circle Ancha
- calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
- visibility 159
- comment 0 komentar

MAMUJU, Sulbarupdate.id — Di tengah arus globalisasi yang kian menggerus sekat-sekat kultural, Pemerintah Daerah Mamuju mengambil langkah krusial untuk mengukuhkan kembali marwah lokal.
Melalui seremoni yang dihelat di Ballroom Maleo Hotel Mamuju, buku Bahasa Mamuju resmi diluncurkan sekaligus menandai eskalasi gerakan “Taki Maqbasa Mamuju” (Ayo Berbahasa Mamuju), Kamis (29/01/2016).
Inisiatif ini bukan sekadar upaya dokumentatif, melainkan sebuah manifesto kebudayaan guna membentengi entitas kultural Suku Mandar di pesisir Sulawesi Barat agar tetap tegak di tengah derasnya asimilasi bahasa.
Melampaui Batas Seremonial
Kepala DISPOPAREKRAF Provinsi Sulawesi Barat, Andi Akram Dai, dalam orasi budayanya menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak boleh terjebak dalam romantisme simbol semata. Menurutnya, eksistensi sebuah bahasa sangat bergantung pada dialektika penuturnya di ruang-ruang fungsional.
“Bahasa adalah entitas yang hidup; ia harus dihidupkan, bukan sekadar diumumkan. Apabila ia hanya menggema di podium resmi namun sunyi dalam dialektika keseharian, maka pelestarian tersebut akan kehilangan substansi dan maknanya,” ujar Andi Akram dengan nada retoris.
Lebih lanjut, ia menyoroti urgensi untuk merangkul diversitas dialektika yang ada di Mamuju—mulai dari Sumare-Rangas, Padang, hingga Sinyonyoi.
Baginya, program ini harus menjadi payung inklusif yang merayakan kemajemukan, bukan justru menciptakan hegemoni satu dialek di atas dialek lainnya.
Di sisi lain, Andi Akram membedah tantangan kontemporer di era disrupsi digital. Generasi zilenial yang menjadi subjek utama perubahan menuntut sebuah pendekatan yang lebih dinamis.
Bahasa Mamuju didorong untuk merambah ranah konten kreatif dan diskursus di media sosial, mengemas bahasa daerah dengan narasi yang relevan agar mampu bersanding dengan tren global dan menitikberatkan keberhasilan program pada keterlibatan organik masyarakat, mulai dari institusi keluarga hingga sektor pelayanan publik.
Warisan untuk Masa Depan
Kehadiran buku “Taki Maqbasa Mamuju” diproyeksikan menjadi fundamen literasi bagi lintas generasi serta rujukan otoritatif dalam kurikulum muatan lokal.
Target ambisius yang dicanangkan adalah mentransformasikan instruksi birokratis ini menjadi sebuah gerakan sosial yang merasuk ke dalam memori kolektif masyarakat.
“Besar harapan kami agar karya ini menjadi khazanah ilmu pengetahuan dan instrumen pembelajaran bagi generasi mendatang, sebagai manifestasi nyata dari pelestarian kearifan lokal yang berkelanjutan,” pungkasnya.(*)
- Penulis: Ancha
