Mamuju, Sulbarupdate.id – Tiga kali aksi mengguncang jalanan. Tiga kali pula benturan tak terhindarkan. Aspal merekam langkah-langkah tergesa, udara menahan perih gas air mata, dan luka menjadi bahasa yang sama bagi mahasiswa maupun aparat kepolisian. Lapangan pernah menjadi ruang paling panas, tempat emosi saling beradu tanpa jeda.
Namun hari ini, cerita bergerak ke arah yang berbeda. Di Aula Polres Mamuju, suasana terasa dingin bukan karena jarak, melainkan karena ketegangan yang perlahan mencair. Tak ada teriakan, tak ada tameng, tak ada dorongan. Yang tersisa hanyalah kursi-kursi yang berhadap-hadapan dan kesediaan untuk saling menatap tanpa prasangka.
Pertemuan itu menjadi jeda dari riuh konflik. Mahasiswa dan polisi duduk dalam satu ruang, membiarkan amarah turun perlahan. Kata-kata yang sebelumnya meluncur sebagai tuntutan di jalan, kini disampaikan sebagai dialog. Nada tinggi berganti dengan suara rendah yang mencari titik temu.
Dalam sambutannya, Kapolresta Mamuju Kombes Pol Ferdyan Indra Fahmi menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan wujud nyata komitmen Polresta Mamuju untuk membuka ruang komunikasi dan dialog terbuka. Aula itu, kata dia, sengaja dijadikan tempat bertemu agar sinergi dapat tumbuh di antara seluruh elemen masyarakat, terutama mahasiswa.
Mahasiswa, menurut Kapolresta, bukan sekadar barisan di jalanan, melainkan penjaga nalar demokrasi. Mereka adalah agen perubahan dan kontrol sosial yang memiliki peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kami menyadari mahasiswa memiliki peran penting dalam menyampaikan aspirasi masyarakat, mengawal kebijakan publik, serta menjaga nilai-nilai demokrasi. Oleh karena itu, Polri khususnya Polresta Mamuju senantiasa terbuka terhadap kritik, saran, dan masukan yang konstruktif demi terciptanya situasi kamtibmas yang aman, kondusif, dan demokratis di Kabupaten Mamuju,” tegas Kombes Pol Ferdyan Indra Fahmi.
Damai akhirnya dipilih. Bukan sebagai tanda melupakan luka, melainkan sebagai upaya menghentikan luka baru. Aula yang hari itu sunyi menjadi saksi bahwa panasnya jalanan tak harus diwariskan, dan perbedaan tak selamanya berakhir bentrok.
Dari Aula Polres Mamuju, sebuah pesan lahir dengan tenang, bahwa setelah konflik, selalu ada ruang untuk berdamai selama kemanusiaan masih dijaga.

