Breaking News
light_mode
Beranda » Mamasa » Kisah Nenni, 20 Tahun Menanti Seragam Korpri, Terima SK Langsung Pensiun

Kisah Nenni, 20 Tahun Menanti Seragam Korpri, Terima SK Langsung Pensiun

  • account_circle Ancha
  • calendar_month Sen, 29 Des 2025
  • visibility 636
  • comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id – Matahari di ufuk Mamasa seolah bersinar lebih redup dari biasanya pada Senin, 29 Desember 2015. Di antara ratusan derap langkah pegawai yang bersuka cita, ada sepasang kaki yang melangkah dengan berat namun penuh martabat.

Dialah Nenni, seorang wanita yang menghabiskan dua dekade usianya dalam sunyi pengabdian di Sekretariat Daerah Kabupaten Mamasa.

Selama dua puluh tahun, Nenni adalah saksi bisu pasang surutnya roda pemerintahan. Ia adalah personifikasi dari kesabaran yang tak bertepi, bekerja tanpa keluh meski statusnya hanya bergantung pada selembar kertas kontrak yang kerap tak menentu.

Namun pagi ini, sebuah takdir unik sekaligus getir telah digariskan untuknya.

Langkah Nenni menuju panggung utama bukan sekadar langkah biasa. Itu adalah langkah menuju puncak penantian panjangnya untuk menerima Surat Keputusan (SK) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.

Sebuah pengakuan negara yang telah lama ia impikan dalam setiap sujud dan doa-doanya. Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip sebuah kenyataan yang mengiris kalbu. SK yang ia terima hari ini bukan sekadar gerbang menuju status baru, melainkan juga sebuah tanda perpisahan.

Di hari yang sama saat ia resmi menyandang status PPPK, di detik itu pula Nenni harus memasuki masa purnabakti (Pensiun).Ia diangkat untuk langsung dipensiunkan.

Saat namanya menggema di pengeras suara, suasana lapangan yang riuh seketika berubah hening. Nenni tidak sendiri namun ia melangkah bersama Nurdin, rekan seperjuangan dari PKM Mambi yang juga merasakan takdir serupa.

Keduanya berdiri di panggung, menjadi pusat gravitasi dari ribuan pasang mata yang mulai berkaca-kaca.

Isak tangis Nenni pecah seketika saat ia berdiri di panggung disaksikan puluhan ribu mata. Bukan tangis kesedihan karena kehilangan pekerjaan, melainkan tangis haru atas sebuah kehormatan yang akhirnya tiba di penghujung jalan.

Wakil Bupati Mamasa, H. Sudirman, yang berdiri di hadapannya pun tak kuasa membendung air mata. Ketegaran seorang pemimpin luruh seketika melihat betapa besar cinta seorang abdi negara terhadap profesinya.

Tangan sang Wakil Bupati tampak bergetar saat menyerahkan bingkisan penghargaan kepada dua pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.

Bupati Mamasa yang berada di samping kedua pahlawan itu pun tertunduk, menyeka sudut matanya yang basah. Di atas panggung itu, bukan lagi tentang birokrasi atau angka-angka statistik, melainkan tentang penghargaan setinggi-tingginya terhadap kemanusiaan dan loyalitas yang melampaui logika.

“Jangan lihat nilainya. Ini adalah bentuk apresiasi terdalam dari Pemerintah Daerah Mamasa atas pengabdian tanpa pamrih yang telah kalian berikan selama puluhan tahun.” ungkap Sudirman.

Setiap kata yang terucap dari bibir sang Wakil Bupati seolah menjadi melodi melankolis yang menyayat hati siapa pun yang mendengar.

Ribuan pegawai yang hadir terdiam. Banyak di antaranya yang tertunduk lesu dengan air mata yang mengalir deras di pipi mereka.

Bagi Nenni, momen yang paling sakral bukanlah gaji atau tunjangan yang akan ia terima sebagai pensiunan, melainkan kain bermotif batik biru yang ia kenakan. Sebuah identitas yang selama dua puluh tahun hanya bisa ia pandang dari kejauhan dengan rasa rindu yang mendalam.

“Saya sangat senang, Pak. Meski harus langsung pensiun, keinginan saya untuk mengenakan baju Korpri ini akhirnya kesampaian juga. Saya ingin pulang dengan rasa bangga sebagai bagian resmi dari korps ini,” bisik Nenni di antara sisa isak tangisnya saat ditemui usai prosesi.

Ada sebuah keikhlasan yang luar biasa dalam senyum getirnya. Nenni membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu tentang berapa lama kita menjabat, tetapi tentang seberapa besar cinta yang kita berikan hingga garis finis ditentukan oleh waktu.

Senin itu, Lapangan Kondosapata menjadi saksi sebuah drama kehidupan yang paripurna. Nenni dan Nurdin pulang dengan seragam biru mereka, bukan menuju meja kerja, melainkan menuju masa tua yang penuh dengan kenangan manis tentang sebuah penantian yang berakhir indah, meski hanya sekejap mata.

Dua puluh tahun untuk satu hari yang abadi. Di Mamasa, sejarah mencatat bahwa kesetiaan adalah mata uang yang takkan pernah lekang oleh waktu, meski hanya dibayar dengan sebuah perpisahan di puncak pencapaian.(*)

  • Penulis: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alumni Unsulbar Dorong Pembukaan Prodi Teknik Pertambangan dan Teknik Mesin

    Alumni Unsulbar Dorong Pembukaan Prodi Teknik Pertambangan dan Teknik Mesin

    • 0Komentar

    MAJENE, SULBARUPUDATE.ID – Alumni Jurusan Hukum angkatan 2015 Universitas Sulawesi Barat, Arwin Rahman, mendorong pihak kampus agar segera membuka program studi baru, khususnya Teknik Pertambangan dan Teknik Mesin, sebagai bentuk respon terhadap tantangan pembangunan dan kebutuhan sumber daya manusia di Sulawesi Barat. Menurut Arwin Rahman, keberadaan dua jurusan tersebut sangat penting untuk menjawab kebutuhan daerah […]

  • Optimalkan PAD dan Layanan Publik, Bupati Mamasa Sidak di Tujuh Titik

    Optimalkan PAD dan Layanan Publik, Bupati Mamasa Sidak di Tujuh Titik

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Menanggapi keluhan masyarakat terkait kualitas pelayanan dan tata kelola daerah, Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, lakukan inspeksi mendadak (sidak) ke tujuh titik layanan publik dan sektor usaha pada Selasa (27/1/2026). Langkah ini diambil untuk memastikan aparatur sipil negara (ASN) bekerja optimal sekaligus mengevaluasi kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi daerah. Sidak dimulai di Museum […]

  • WNA Korea di Pasangkayu Dilaporkan ke Polisi atas Tuduhan Tabrak Rekan

    WNA Korea di Pasangkayu Dilaporkan ke Polisi atas Tuduhan Tabrak Rekan

    • 0Komentar

    Pasangkayu, Sulbarupdate.id – Seorang warga negara asing (WNA) asal Korea Selatan, diidentifikasi dengan inisial KW, kini berurusan dengan hukum setelah dilaporkan ke Kepolisian Resor (Polres) Pasangkayu, Sulawesi Barat. KW diduga kuat melakukan tindak pidana penganiayaan dengan cara menabrakkan mobilnya kepada rekan senegaranya, KI, di sebuah area tambang pasir di Desa Lariang, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten […]

  • Pengusulan 3 Besar Calon Kepala Kemenag Polman Disorot Aktivis, Riskul:”Ada Dugaan Nepotisme “

    Pengusulan 3 Besar Calon Kepala Kemenag Polman Disorot Aktivis, Riskul:”Ada Dugaan Nepotisme “

    • 0Komentar

    POLMAN, Sulbarupdate.id – Proses pengusulan tiga besar calon Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Polewali Mandar (Polman) disorot aktivis.  Proses penentuan nama-nama yang direkomendasikan oleh Kanwil Kemenag Sulawesi Barat, dinilai belum sepenuhnya transparan dan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Diduga terdapat nama calon yang memiliki hubungan keluarga dengan pimpinan Kanwil Kemenag Sulbar, serta adanya peserta yang […]

  • Polres Mamasa Bongkar Arena Judi Sambung Ayam di Kariango

    Polres Mamasa Bongkar Arena Judi Sambung Ayam di Kariango

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Dalam rangka Operasi Pekat Marano 2026, personel gabungan Polres Mamasa melakukan pembubaran dan pembongkaran arena judi sabung ayam di Desa Kariango, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, Jumat (30/01/2026). Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas keresahan masyarakat terhadap aktivitas perjudian di wilayah tersebut. Operasi yang dimulai pukul 15.00 WITA ini dipimpin langsung oleh […]

  • Aksi Unjuk Rasa di Kantor Pajak Mamuju Sempat Ricuh

    Aksi Unjuk Rasa di Kantor Pajak Mamuju Sempat Ricuh

    • 0Komentar

    Mamuju – Sulbarupdate.id – Aksi unjuk rasa Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Mamuju di Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Mamuju Rabu 10 Desember 2025 sempat di warnai kericuhan. Dalam video yang beredar terlihat massa aksi sempat saling dorong dengan petugas keamanan baik dari kepolisian maupun keamanan kantor perpajakan. Dalam video tersebut ada juga yang dicekik pada […]

expand_less