Breaking News
light_mode
Beranda » Olahraga » El Clásico: Bukan Sekadar Tendang Bola

El Clásico: Bukan Sekadar Tendang Bola

  • account_circle Sulbarupdate.id
  • calendar_month Ming, 11 Jan 2026
  • visibility 725
  • comment 0 komentar

Jeddah, Sulbarupdate.id-
Oleh: Al-Haqq (Ar-Rahman)

El Clásico (Fc Barcelona vs Real Madrid Fc) selalu dijual sebagai rivalitas olahraga terbesar di dunia, tetapi narasi itu terlalu sempit dan menyesatkan. Pertandingan antara FC Barcelona dan Real Madrid sejatinya adalah pertarungan politik yang diwariskan sejarah, konflik identitas yang dibungkus dalam 90 menit sepak bola. Di lapangan mungkin hanya ada bola, tetapi di tribun dan memori kolektif, yang bertarung adalah negara melawan daerah.

FC Barcelona bukan sekadar klub. Ia lahir dan tumbuh sebagai simbol perlawanan kultural masyarakat Catalonia terhadap kekuasaan pusat Spanyol. Ketika ruang politik ditutup, bahasa dibungkam, dan identitas ditekan, sepak bola menjadi senjata terakhir yang tersisa. Di sinilah Barcelona menemukan maknanya: bukan sebagai institusi olahraga, melainkan alat perlawanan simbolik.

Sebaliknya, Real Madrid membawa nama “Real” — kerajaan — yang tidak pernah netral dalam sejarah Spanyol. Klub ini secara historis melekat pada citra negara, pusat kekuasaan, dan nasionalisme Spanyol. Dalam banyak periode, Real Madrid bukan hanya klub yang menang, tetapi klub yang diizinkan untuk menang.

Pada era diktator Francisco Franco, perbedaan ini berubah menjadi jurang politik. Catalonia kehilangan otonomi, bahasa Catalan dilarang, dan simbol regional dihapus paksa. FC Barcelona dipaksa mengubah nama dan lambang, sementara stadion mereka menjadi satu-satunya ruang publik tempat identitas Catalan bisa bernapas.

Rezim Franco memahami satu hal dengan sangat baik: sepak bola adalah propaganda paling efektif. Kemenangan Real Madrid di Eropa pada 1950–1960-an digunakan sebagai etalase bahwa Spanyol kuat, modern, dan bersatu. Dunia melihat trofi, tetapi menutup mata dari represi yang menopangnya.

Di sisi lain, Barcelona membayar harga politik yang mahal. Josep Sunyol, presiden klub dan tokoh pro-Catalonia, ditembak mati pasukan Franco pada 1936. Ini bukan insiden olahraga—ini adalah pesan politik berdarah bahwa Barcelona bukan sekadar klub, melainkan ancaman simbolik bagi rezim.

Semifinal Copa del Generalísimo 1943 menjadi luka yang tak pernah sembuh. Kekalahan Barcelona 11–1 di Madrid, setelah memenangkan leg pertama 3–0, bukan sekadar anomali skor. Laporan intimidasi aparat terhadap pemain Barcelona memperkuat keyakinan bahwa pertandingan itu adalah demonstrasi kekuasaan, bukan kompetisi adil.

Kasus Alfredo Di Stéfano pada 1953 menambah daftar kecurigaan. Ketika Barcelona dan Real Madrid sama-sama mengklaim sang pemain, keputusan federasi—yang berada di bawah pengaruh rezim—berakhir menguntungkan Madrid. Di Stéfano kemudian menjadi simbol dominasi Real Madrid, sekaligus simbol intervensi negara dalam sepak bola.

Apakah Real Madrid “klub Franco”? Sejarah memang tidak sesederhana itu. Namun menyangkal bahwa klub ini diuntungkan secara politis adalah bentuk amnesia historis. Dalam politik, persepsi sering kali sama kuatnya dengan fakta, dan persepsi ketidakadilan itu nyata hidup di Catalonia.

Pasca runtuhnya diktator, demokrasi tidak serta-merta menghapus memori kolektif. Otonomi diberikan, tetapi luka sejarah tetap terbuka. Setiap El Clásico menjadi panggung global untuk mengingatkan dunia bahwa konflik Spanyol–Catalonia belum pernah benar-benar selesai.

Camp Nou lalu menjadi mimbar politik raksasa. Teriakan “Independència”, bendera Estelada, dan pesan-pesan simbolik muncul setiap kali Madrid datang. Barcelona tidak hanya bermain untuk menang, tetapi untuk bersuara.

Real Madrid, sadar atau tidak, terus membawa identitas negara. Lagu kebangsaan Spanyol, simbol kerajaan, dan relasi institusional mempertegas posisi klub sebagai representasi kekuasaan pusat. Dalam konteks ini, netralitas adalah ilusi.

Di era sepak bola modern yang dipenuhi sponsor dan kapital global, El Clásico memang dipoles menjadi produk hiburan. Namun, politik tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti bahasa—dari represi senjata menjadi simbol dan gestur.

El Clásico adalah perang dingin: tidak ada peluru, tetapi penuh pesan. Tidak ada deklarasi, tetapi sarat makna. Setiap gol adalah pernyataan, setiap kemenangan adalah legitimasi, setiap kekalahan adalah pengingat sejarah, setiap selebrasi adalah serangan peluru.

Selama Catalonia masih mempertanyakan posisinya dalam negara Spanyol, selama identitas masih diperdebatkan, El Clásico tidak akan pernah murni soal sepak bola. Ia adalah konflik yang terus dimainkan ulang—bukan untuk diselesaikan, tetapi untuk diingat.

El Clásico dini hari (Senin, 12 Januari 2026), sangat terasa atmosfer itu, dari dalam stadion maupun diluar stadion ataupun melalui siaran televisi. Semua orang merasakan bagaimana “pertarungan” kedua tim ini yang berakhir 3-2, kemenangan milik club asal Catalonia- Fc Barcelona.

Kemenangan bagaikan kemerdekaan bagi Rakyat Catalonia dan Kekalahan bagaikan serangan melebih nuklir bagi Spanyol. (*)

  • Penulis: Sulbarupdate.id

Rekomendasi Untuk Anda

  • Apel Virtual Pemprov Sulbar, Wagub Minta OPD Perketat Absensi dan Kinerja ASN

    Apel Virtual Pemprov Sulbar, Wagub Minta OPD Perketat Absensi dan Kinerja ASN

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggelar Apel Virtual Lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat yang dipusatkan di Ruang Rapat Oval Lantai 3 Kantor Gubernur Sulbar, Senin, 5 Januari 2025. Apel virtual tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, didampingi Wakil Gubernur Salim S. Mengga, Sekretaris Daerah Junda Maulana, serta para asisten dan kepala […]

  • Proses Tender RSUD Mamuju Tengah Masuki Babak Baru, Target Pengerjaan Akhir Mei

    Proses Tender RSUD Mamuju Tengah Masuki Babak Baru, Target Pengerjaan Akhir Mei

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Proses tender pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mamuju Tengah melalui program Public Health Center (PHTC) Kementerian Kesehatan kini memasuki babak baru. Tahapan penjelasan lapangan atau aanwijzing resmi digelar di Aula RSUD Mamuju Tengah, Benteng KTM Tobadak, Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini dipimpin oleh Kelompok Pemilihan (Pokmil) Pengadaan Kemenkes guna menyelaraskan persepsi […]

  • Sejumlah ASN Mamuju Tengah Disorot, Bersantai Saat Upacara HUT RI ke-81 Berlangsung

    Sejumlah ASN Mamuju Tengah Disorot, Bersantai Saat Upacara HUT RI ke-81 Berlangsung

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id — Pelaksanaan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Senin (17/8/2026), diwarnai pemandangan sejumlah aparatur sipil negara (ASN) yang menjadi sorotan. Saat upacara berlangsung, sejumlah ASN tampak tidak berada di barisan peserta. Mereka terlihat memilih berteduh di sejumlah titik di sekitar lokasi upacara, mulai […]

  • SPPG Mehalaan Salurkan MBG Kepada Ribuan Penerima Manfaat

    SPPG Mehalaan Salurkan MBG Kepada Ribuan Penerima Manfaat

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali disalurkan Yayasan Pallawa Lipu Grup SPPG Mamasa Mehalaan–Mehalaan Barat, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, Senin (28/9/2026). Penyaluran MBG tersebut menyasar peserta didik, guru dan tenaga kependidikan, anak tidak sekolah (ATS), serta kelompok 3B yang terdiri atas balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Kepala SPPG Mamasa Mehalaan–Mehalaan Barat, […]

  • Peluang PPPK Paruh Waktu Jadi ASN, Begini Tanggapan Kepala BKN

    Peluang PPPK Paruh Waktu Jadi ASN, Begini Tanggapan Kepala BKN

    • 0Komentar

    JAKARTA, SULBARUPDATE.ID – Pemerintah membuka peluang bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu untuk diangkat menjadi PPPK Penuh Waktu. Hal itu dimungkinkan jika kondisi ekonomi daerah membaik atau meningkatnya kemampuan keuangan negara maupun daerah. Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI, Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, bahwa pengangkatan PPPK Paruh Waktu menjadi Penuh Waktu sangat […]

  • Pelayanan Bank Sulselbar Cabang Mamasa Dikritik Nasabah Karena Terlambat Buka

    Pelayanan Bank Sulselbar Cabang Mamasa Dikritik Nasabah Karena Terlambat Buka

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Sejumlah nasabah mengeluhkan lambatnya pelayanan di Kantor Bank Sulselbar Cabang Mamasa yang berlokasi di Jalan Poros Mamasa Malabo, Desa Osango, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa.  Keluhan ini mencuat setelah para nasabah terpaksa menunggu cukup lama di luar gedung sebelum operasional bank resmi dibuka, Rabu (22/7/2026). Salah seorang nasabah yang meminta namanya tak disebut […]

expand_less