Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Tak Bisa Memilih Nasib, Masih Bisa Memilih Sikap

Tak Bisa Memilih Nasib, Masih Bisa Memilih Sikap

  • account_circle Arwin Rahman
  • calendar_month Jum, 30 Jan 2026
  • visibility 309
  • comment 0 komentar

Oleh: Arwin Rahman, S.H.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mamasa.

 

SULBARUPDATE.ID- Manusia modern sering dibesarkan dengan ilusi bahwa kebebasan berarti kendali penuh atas hidup. Kita diajari merencanakan masa depan, mengukur keberhasilan dengan grafik naik, dan menganggap kegagalan sebagai kesalahan teknis yang bisa diperbaiki. Namun hidup, dengan selera humornya yang kadang kejam, sering membuktikan sebaliknya. Penyakit datang tanpa undangan, kehilangan muncul tanpa aba-aba, dan keadaan tertentu menutup semua pintu keluar yang rasional.

Pada titik inilah banyak orang merasa kebebasannya dirampas. “Apa gunanya berusaha,” pikir sebagian orang, “jika keadaan tak bisa diubah?” Padahal justru di ruang yang tampak buntu itulah kebebasan manusia yang paling jujur bekerja. Bukan kebebasan memilih keadaan, melainkan kebebasan memilih sikap. Dan ini bukan slogan motivasi murahan, melainkan fakta eksistensial yang keras sekaligus membebaskan.

Manusia memang tidak selalu berdaulat atas apa yang terjadi padanya, tetapi ia selalu memiliki ruang—sekecil apa pun—untuk menentukan bagaimana ia berdiri di hadapan kenyataan itu. Bahkan dalam situasi paling ekstrem, pilihan sikap tidak pernah sepenuhnya dirampas. Ironisnya, kebebasan ini sering baru disadari ketika semua kebebasan lain telah lenyap.

Penderitaan, dalam masyarakat modern, dianggap kegagalan sistem. Kita berlomba menghindarinya dengan asuransi, hiburan, dan distraksi tanpa henti. Media sosial memberi kesan bahwa hidup seharusnya selalu estetik, produktif, dan bahagia. Maka ketika penderitaan datang, ia terasa seperti kesalahan fatal—seolah hidup telah melanggar kontrak imajiner yang kita buat sendiri.

Padahal secara faktual, penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia. Tidak ada peradaban yang lahir tanpa luka, dan tidak ada kedewasaan yang tumbuh tanpa konflik batin. Masalahnya bukan pada keberadaan penderitaan, melainkan pada cara kita memaknainya. Apakah ia hanya dipandang sebagai musuh, atau sebagai pesan yang belum dipahami?

Penderitaan yang tak terhindarkan tidak otomatis menghancurkan makna hidup. Yang menghancurkan justru penolakan total terhadap realitas itu sendiri. Ketika manusia bersikeras bahwa hidup harus selalu sesuai keinginannya, ia sedang menyiapkan kekecewaan permanen. Sebaliknya, ketika ia menerima kenyataan tanpa menyerah pada keputusasaan, penderitaan berubah dari beban menjadi tantangan.

Di sinilah pertanyaan kunci mengalami pergeseran. Dari “mengapa ini terjadi padaku?” menjadi “apa yang dituntut hidup dariku dalam keadaan ini?” Pertanyaan pertama membuat kita terjebak dalam lingkaran keluhan, sementara pertanyaan kedua membuka ruang tanggung jawab. Dan tanggung jawab, meskipun berat, selalu lebih bermartabat daripada putus asa.

Perubahan fokus ini bukan berarti menormalisasi ketidakadilan atau memuliakan penderitaan secara romantis. Tidak. Ketidakadilan tetap harus dilawan, dan penderitaan tetap boleh diratapi. Namun ketika keadaan memang tidak bisa diubah dalam waktu dekat—atau bahkan sama sekali—manusia masih bisa memilih untuk tidak kehilangan dirinya sendiri.

Menariknya, banyak orang baru menemukan versi terbaik dari dirinya justru dalam situasi yang tidak ideal. Ketika kenyamanan hilang, topeng runtuh. Ketika fasilitas dicabut, karakter diuji. Dan ketika harapan eksternal runtuh, sumber daya batin dipaksa muncul ke permukaan. Hidup, ternyata, adalah guru yang keras kepala tapi konsisten.

Dalam konteks ini, makna hidup bukan sesuatu yang diberikan dari luar seperti hadiah lomba. Ia tidak menunggu kita sukses, kaya, atau populer. Makna justru menuntut untuk diwujudkan, sering kali dalam kondisi yang jauh dari nyaman. Ia hadir bukan sebagai janji kebahagiaan instan, melainkan sebagai panggilan untuk bersikap.

Keberanian untuk bersikap bermakna tidak selalu heroik dalam pengertian besar. Kadang ia sesederhana tetap jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. Tetap peduli ketika apatis lebih aman. Atau tetap bangun pagi ketika alasan untuk menyerah terasa sangat masuk akal. Dalam hal-hal kecil itulah martabat manusia diuji setiap hari.

Modernitas sering mengukur nilai manusia dari hasil yang tampak: capaian, jabatan, angka. Namun hidup batin bekerja dengan logika berbeda. Nilai manusia justru sering ditentukan oleh cara ia menanggung beban yang tidak ia pilih. Dunia boleh tidak adil, tetapi respons manusia terhadap ketidakadilan itu tetap berada dalam wilayah kebebasannya.

Saat seseorang tidak lagi mampu mengubah situasi, ia dipanggil untuk berubah. Bukan berubah menjadi pasrah tanpa daya, melainkan berubah dalam cara memaknai, menilai, dan merespons. Perubahan ini mungkin tidak mengubah dunia luar, tetapi ia menyelamatkan dunia batin—dan itu bukan pencapaian kecil.

Ada humor sunyi di sini: manusia mengejar kebebasan dengan mengendalikan segalanya, padahal kebebasan sejati justru muncul ketika ia menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Dalam pengakuan keterbatasan itulah manusia menjadi utuh. Bukan sebagai makhluk maha kuasa, tetapi sebagai makhluk bermakna.

Hidup, dengan segala absurditasnya, tidak pernah benar-benar kosong. Yang sering kosong adalah cara kita memandangnya. Ketika makna tidak lagi dikaitkan dengan kenyamanan semata, penderitaan kehilangan daya destruktifnya. Ia tetap menyakitkan, tetapi tidak lagi menghancurkan identitas.

Pada akhirnya, makna hidup bukan soal apa yang kita dapatkan, melainkan bagaimana kita menjawab. Hidup terus bertanya—kadang dengan lembut, kadang dengan kasar—dan manusia menjawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan sikap. Setiap hari, setiap keputusan kecil, adalah jawaban eksistensial.

Maka bahkan dalam kondisi paling gelap, hidup tidak pernah kehilangan maknanya. Justru di sanalah makna menuntut keberanian tertinggi. Bukan keberanian untuk menang, tetapi keberanian untuk tetap menjadi manusia—dengan kesadaran, tanggung jawab, dan martabat yang utuh. (*)

  • Penulis: Arwin Rahman
  • Editor: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Majene Digegerkan Penemuan Mayat IRT di Pinggir Pantai

    Warga Majene Digegerkan Penemuan Mayat IRT di Pinggir Pantai

    • 0Komentar

    MAJENE, Sulbarupdate.id – Warga Kelurahan Mosso, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, digegerkan dengan penemuan sesosok mayat perempuan di pesisir pantai pada Jumat pagi (16/1/2026). Korban diketahui berinisial S (48), seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) setempat. Jenazah korban pertama kali ditemukan sekitar pukul 05.30 WITA oleh Amiruddin (45), seorang nelayan yang hendak pergi melaut. Saksi […]

  • DPRD Mamuju Tengah Bedah LKPJ Bupati 2025 dan Dua Ranperda Strategis

    DPRD Mamuju Tengah Bedah LKPJ Bupati 2025 dan Dua Ranperda Strategis

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) menggelar rapat paripurna dengan agenda penyampaian pemandangan umum fraksi-fraksi terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Tahun Anggaran 2025, Rabu (1/4/2026). ​Selain mengevaluasi kinerja pemerintah daerah, rapat yang berlangsung di ruang sidang utama DPRD Mateng ini juga menyoroti dua Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) […]

  • Sarman Sahuding, Pena dari Mambi yang Menenun Jejak Sejarah Sulbar

    Sarman Sahuding, Pena dari Mambi yang Menenun Jejak Sejarah Sulbar

    • 1Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Di tanah yang dipagari pegunungan kokoh dan kabut pagi yang abadi, seorang putra Mambi lahir membawa garis tangan sebagai pencatat zaman. Sarman Sahuding, sosok yang namanya kini identik dengan ketajaman literasi di Sulawesi Barat, bukan sekadar pelapor berita. Ia adalah penenun narasi yang kini sedang bertransformasi dari sekadar pemburu tenggat menjadi penjaga […]

  • Prancis Tundukkan Senegal 3-1 di Piala Dunia, Mbappe Cetak Dua Gol

    Prancis Tundukkan Senegal 3-1 di Piala Dunia, Mbappe Cetak Dua Gol

    • 0Komentar

    AMERIKA SERIKAT, Sulbarupdate.id — Prancis berhasil mengamankan kemenangan penting setelah mengalahkan Senegal dengan skor 3-1 dalam laga penyisihan grup Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Rabu (17/6) 2026). Pertandingan yang berjalan ketat ini diwarnai dengan pembatalan gol Senegal oleh VAR dan drama dua gol yang tercipta pada masa injury time. ​Sejak awal babak pertama, […]

  • Desak Pemerataan MBG, Ribuan Massa Unjuk Rasa di DPRD Sulbar

    Desak Pemerataan MBG, Ribuan Massa Unjuk Rasa di DPRD Sulbar

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sulawesi Barat (ASMARA) menggelar aksi damai di Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Barat pada Senin, 29 Juni 2026. Kedatangan massa bertujuan untuk memberikan dukungan penuh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus mendesak agar program nasional tersebut segera menyentuh wilayah pelosok, terutama daerah Tertinggal, Terdepan, dan […]

  • Tragis, Lansia Tewas Usai Tabrakan di Depan Puskesmas Wonomulyo

    Tragis, Lansia Tewas Usai Tabrakan di Depan Puskesmas Wonomulyo

    • 0Komentar

    POLMAN, Sulbarupdate.id – Kecelakaan maut yang melibatkan mobil pick-up dan sebuah sepeda motor terjadi di Jalan Poros Trans Sulawesi, tepat di depan Puskesmas Wonomulyo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, pada Sabtu (25/4/2026) pagi sekitar pukul 05.30 WITA. Insiden tersebut merenggut nyawa Djamaluddin (87), pengendara sepeda motor Honda Beat merah dengan nomor polisi DD 2823 UJ. […]

expand_less