Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Tak Bisa Memilih Nasib, Masih Bisa Memilih Sikap

Tak Bisa Memilih Nasib, Masih Bisa Memilih Sikap

  • account_circle Arwin Rahman
  • calendar_month Jum, 30 Jan 2026
  • visibility 437
  • comment 0 komentar

Oleh: Arwin Rahman, S.H.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mamasa.

 

SULBARUPDATE.ID- Manusia modern sering dibesarkan dengan ilusi bahwa kebebasan berarti kendali penuh atas hidup. Kita diajari merencanakan masa depan, mengukur keberhasilan dengan grafik naik, dan menganggap kegagalan sebagai kesalahan teknis yang bisa diperbaiki. Namun hidup, dengan selera humornya yang kadang kejam, sering membuktikan sebaliknya. Penyakit datang tanpa undangan, kehilangan muncul tanpa aba-aba, dan keadaan tertentu menutup semua pintu keluar yang rasional.

Pada titik inilah banyak orang merasa kebebasannya dirampas. “Apa gunanya berusaha,” pikir sebagian orang, “jika keadaan tak bisa diubah?” Padahal justru di ruang yang tampak buntu itulah kebebasan manusia yang paling jujur bekerja. Bukan kebebasan memilih keadaan, melainkan kebebasan memilih sikap. Dan ini bukan slogan motivasi murahan, melainkan fakta eksistensial yang keras sekaligus membebaskan.

Manusia memang tidak selalu berdaulat atas apa yang terjadi padanya, tetapi ia selalu memiliki ruang—sekecil apa pun—untuk menentukan bagaimana ia berdiri di hadapan kenyataan itu. Bahkan dalam situasi paling ekstrem, pilihan sikap tidak pernah sepenuhnya dirampas. Ironisnya, kebebasan ini sering baru disadari ketika semua kebebasan lain telah lenyap.

Penderitaan, dalam masyarakat modern, dianggap kegagalan sistem. Kita berlomba menghindarinya dengan asuransi, hiburan, dan distraksi tanpa henti. Media sosial memberi kesan bahwa hidup seharusnya selalu estetik, produktif, dan bahagia. Maka ketika penderitaan datang, ia terasa seperti kesalahan fatal—seolah hidup telah melanggar kontrak imajiner yang kita buat sendiri.

Padahal secara faktual, penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia. Tidak ada peradaban yang lahir tanpa luka, dan tidak ada kedewasaan yang tumbuh tanpa konflik batin. Masalahnya bukan pada keberadaan penderitaan, melainkan pada cara kita memaknainya. Apakah ia hanya dipandang sebagai musuh, atau sebagai pesan yang belum dipahami?

Penderitaan yang tak terhindarkan tidak otomatis menghancurkan makna hidup. Yang menghancurkan justru penolakan total terhadap realitas itu sendiri. Ketika manusia bersikeras bahwa hidup harus selalu sesuai keinginannya, ia sedang menyiapkan kekecewaan permanen. Sebaliknya, ketika ia menerima kenyataan tanpa menyerah pada keputusasaan, penderitaan berubah dari beban menjadi tantangan.

Di sinilah pertanyaan kunci mengalami pergeseran. Dari “mengapa ini terjadi padaku?” menjadi “apa yang dituntut hidup dariku dalam keadaan ini?” Pertanyaan pertama membuat kita terjebak dalam lingkaran keluhan, sementara pertanyaan kedua membuka ruang tanggung jawab. Dan tanggung jawab, meskipun berat, selalu lebih bermartabat daripada putus asa.

Perubahan fokus ini bukan berarti menormalisasi ketidakadilan atau memuliakan penderitaan secara romantis. Tidak. Ketidakadilan tetap harus dilawan, dan penderitaan tetap boleh diratapi. Namun ketika keadaan memang tidak bisa diubah dalam waktu dekat—atau bahkan sama sekali—manusia masih bisa memilih untuk tidak kehilangan dirinya sendiri.

Menariknya, banyak orang baru menemukan versi terbaik dari dirinya justru dalam situasi yang tidak ideal. Ketika kenyamanan hilang, topeng runtuh. Ketika fasilitas dicabut, karakter diuji. Dan ketika harapan eksternal runtuh, sumber daya batin dipaksa muncul ke permukaan. Hidup, ternyata, adalah guru yang keras kepala tapi konsisten.

Dalam konteks ini, makna hidup bukan sesuatu yang diberikan dari luar seperti hadiah lomba. Ia tidak menunggu kita sukses, kaya, atau populer. Makna justru menuntut untuk diwujudkan, sering kali dalam kondisi yang jauh dari nyaman. Ia hadir bukan sebagai janji kebahagiaan instan, melainkan sebagai panggilan untuk bersikap.

Keberanian untuk bersikap bermakna tidak selalu heroik dalam pengertian besar. Kadang ia sesederhana tetap jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. Tetap peduli ketika apatis lebih aman. Atau tetap bangun pagi ketika alasan untuk menyerah terasa sangat masuk akal. Dalam hal-hal kecil itulah martabat manusia diuji setiap hari.

Modernitas sering mengukur nilai manusia dari hasil yang tampak: capaian, jabatan, angka. Namun hidup batin bekerja dengan logika berbeda. Nilai manusia justru sering ditentukan oleh cara ia menanggung beban yang tidak ia pilih. Dunia boleh tidak adil, tetapi respons manusia terhadap ketidakadilan itu tetap berada dalam wilayah kebebasannya.

Saat seseorang tidak lagi mampu mengubah situasi, ia dipanggil untuk berubah. Bukan berubah menjadi pasrah tanpa daya, melainkan berubah dalam cara memaknai, menilai, dan merespons. Perubahan ini mungkin tidak mengubah dunia luar, tetapi ia menyelamatkan dunia batin—dan itu bukan pencapaian kecil.

Ada humor sunyi di sini: manusia mengejar kebebasan dengan mengendalikan segalanya, padahal kebebasan sejati justru muncul ketika ia menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Dalam pengakuan keterbatasan itulah manusia menjadi utuh. Bukan sebagai makhluk maha kuasa, tetapi sebagai makhluk bermakna.

Hidup, dengan segala absurditasnya, tidak pernah benar-benar kosong. Yang sering kosong adalah cara kita memandangnya. Ketika makna tidak lagi dikaitkan dengan kenyamanan semata, penderitaan kehilangan daya destruktifnya. Ia tetap menyakitkan, tetapi tidak lagi menghancurkan identitas.

Pada akhirnya, makna hidup bukan soal apa yang kita dapatkan, melainkan bagaimana kita menjawab. Hidup terus bertanya—kadang dengan lembut, kadang dengan kasar—dan manusia menjawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan sikap. Setiap hari, setiap keputusan kecil, adalah jawaban eksistensial.

Maka bahkan dalam kondisi paling gelap, hidup tidak pernah kehilangan maknanya. Justru di sanalah makna menuntut keberanian tertinggi. Bukan keberanian untuk menang, tetapi keberanian untuk tetap menjadi manusia—dengan kesadaran, tanggung jawab, dan martabat yang utuh. (*)

  • Penulis: Arwin Rahman
  • Editor: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nahas! Seorang Warga di Mamasa Takut Berobat Lantaran Tak Punya KTP

    Nahas! Seorang Warga di Mamasa Takut Berobat Lantaran Tak Punya KTP

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Di balik rimbunnya perbukitan Desa Lembana Salulo (Lemsa), Kecamatan Mamasa, seorang wanita bernama Bu Neli hanya bisa terbaring pasrah. Bukan karena tidak ada obat, melainkan karena ia tidak memiliki selembar kartu yang krusial: Kartu Tanda Penduduk (KTP). Tanpa identitas resmi itu, pintu rumah sakit terasa tertutup rapat baginya. ​Kisah memprihatinkan ini mencuat […]

  • Pemkab Mamuju Tengah Hadiri Kunjungan Kerja Wamen HAM RI

    Pemkab Mamuju Tengah Hadiri Kunjungan Kerja Wamen HAM RI

    • 0Komentar

    MATENG, Sulbarupdate.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju Tengah (Mateng) menegaskan komitmennya dalam menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM). Hal ini dibuktikan dengan kehadiran Sekretaris Daerah (Sekda) Mamuju Tengah, Lita Febriani, dalam kunjungan kerja Wakil Menteri HAM Republik Indonesia di Ballroom Maleo, Kabupaten Mamuju, Selasa (28/4/2026). ​Kunjungan kerja tersebut dilakukan dalam rangka sosialisasi dan penguatan […]

  • PWI Sulbar Desak Polisi Usut Dugaan Pemukulan Reporter Tribun Sulbar

    PWI Sulbar Desak Polisi Usut Dugaan Pemukulan Reporter Tribun Sulbar

    • 0Komentar

    PASANGKAYU, Sulbarupdate.id — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Barat meminta kepolisian mengusut dugaan pemukulan dan ancaman terhadap reporter Tribun Sulbar, Taufan, saat menghadiri agenda klarifikasi pemberitaan di SMA Negeri 1 Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, Jumat (18/9/2026). Ketua PWI Sulbar, Sulaiman Rahman, menilai persoalan yang berkaitan dengan pemberitaan semestinya ditempuh melalui mekanisme hukum pers, termasuk hak jawab, […]

  • Potret Buram Pendidikan di Majene, Nestapa Inklusif di Bawah Segel Sengketa

    Potret Buram Pendidikan di Majene, Nestapa Inklusif di Bawah Segel Sengketa

    • 0Komentar

    MAJENE, Sulbarupdate.id — Di saat gema orasi tentang kemajuan literasi dan pemerataan akses pendidikan membubung tinggi memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, sebuah kenyataan getir justru terpotret di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar). Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) di Lingkungan Lutang, Kecamatan Banggae Timur, yang selama puluhan tahun berdiri sebagai lentera bagi anak-anak berkebutuhan khusus, […]

  • Ada Jalan Berlubang di Jantung Kota Mambi, Warga Minta Segera Diperhatikan

    Ada Jalan Berlubang di Jantung Kota Mambi, Warga Minta Segera Diperhatikan

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Kondisi jalan di kawasan Perapatan Mambi, Kelurahan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), memprihatinkan.  Sejumlah bagian jalan berlubang tepat pada pertemuan badan jalan beraspal dan beton di Depan Kantor KUA Kecamatan Mambi, atau jalan menuju Lapangan Sepak Bola Mambi. Padahal, ruas itu berada di kawasan salah satu titik aktivitas masyarakat di jantung […]

  • AS Tangkap Presiden Venezuela

    AS Tangkap Presiden Venezuela

    • 0Komentar

    CARACAS, SULBARUPDATE.ID – Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan elite Amerika Serikat (AS) saat tidur, dalam penggerebekan tengah malam di Ibu Kota Caracas, Sabtu (3/1/2026). Sebanyak dua sumber yang mengetahui operasi tersebut mengatakan, pasangan itu diseret keluar dari kamar mereka oleh pasukan elite Delta Force Angkatan Darat AS. Seorang pejabat AS […]

expand_less