Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Tak Bisa Memilih Nasib, Masih Bisa Memilih Sikap

Tak Bisa Memilih Nasib, Masih Bisa Memilih Sikap

  • account_circle Arwin Rahman
  • calendar_month Jum, 30 Jan 2026
  • visibility 372
  • comment 0 komentar

Oleh: Arwin Rahman, S.H.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mamasa.

 

SULBARUPDATE.ID- Manusia modern sering dibesarkan dengan ilusi bahwa kebebasan berarti kendali penuh atas hidup. Kita diajari merencanakan masa depan, mengukur keberhasilan dengan grafik naik, dan menganggap kegagalan sebagai kesalahan teknis yang bisa diperbaiki. Namun hidup, dengan selera humornya yang kadang kejam, sering membuktikan sebaliknya. Penyakit datang tanpa undangan, kehilangan muncul tanpa aba-aba, dan keadaan tertentu menutup semua pintu keluar yang rasional.

Pada titik inilah banyak orang merasa kebebasannya dirampas. “Apa gunanya berusaha,” pikir sebagian orang, “jika keadaan tak bisa diubah?” Padahal justru di ruang yang tampak buntu itulah kebebasan manusia yang paling jujur bekerja. Bukan kebebasan memilih keadaan, melainkan kebebasan memilih sikap. Dan ini bukan slogan motivasi murahan, melainkan fakta eksistensial yang keras sekaligus membebaskan.

Manusia memang tidak selalu berdaulat atas apa yang terjadi padanya, tetapi ia selalu memiliki ruang—sekecil apa pun—untuk menentukan bagaimana ia berdiri di hadapan kenyataan itu. Bahkan dalam situasi paling ekstrem, pilihan sikap tidak pernah sepenuhnya dirampas. Ironisnya, kebebasan ini sering baru disadari ketika semua kebebasan lain telah lenyap.

Penderitaan, dalam masyarakat modern, dianggap kegagalan sistem. Kita berlomba menghindarinya dengan asuransi, hiburan, dan distraksi tanpa henti. Media sosial memberi kesan bahwa hidup seharusnya selalu estetik, produktif, dan bahagia. Maka ketika penderitaan datang, ia terasa seperti kesalahan fatal—seolah hidup telah melanggar kontrak imajiner yang kita buat sendiri.

Padahal secara faktual, penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia. Tidak ada peradaban yang lahir tanpa luka, dan tidak ada kedewasaan yang tumbuh tanpa konflik batin. Masalahnya bukan pada keberadaan penderitaan, melainkan pada cara kita memaknainya. Apakah ia hanya dipandang sebagai musuh, atau sebagai pesan yang belum dipahami?

Penderitaan yang tak terhindarkan tidak otomatis menghancurkan makna hidup. Yang menghancurkan justru penolakan total terhadap realitas itu sendiri. Ketika manusia bersikeras bahwa hidup harus selalu sesuai keinginannya, ia sedang menyiapkan kekecewaan permanen. Sebaliknya, ketika ia menerima kenyataan tanpa menyerah pada keputusasaan, penderitaan berubah dari beban menjadi tantangan.

Di sinilah pertanyaan kunci mengalami pergeseran. Dari “mengapa ini terjadi padaku?” menjadi “apa yang dituntut hidup dariku dalam keadaan ini?” Pertanyaan pertama membuat kita terjebak dalam lingkaran keluhan, sementara pertanyaan kedua membuka ruang tanggung jawab. Dan tanggung jawab, meskipun berat, selalu lebih bermartabat daripada putus asa.

Perubahan fokus ini bukan berarti menormalisasi ketidakadilan atau memuliakan penderitaan secara romantis. Tidak. Ketidakadilan tetap harus dilawan, dan penderitaan tetap boleh diratapi. Namun ketika keadaan memang tidak bisa diubah dalam waktu dekat—atau bahkan sama sekali—manusia masih bisa memilih untuk tidak kehilangan dirinya sendiri.

Menariknya, banyak orang baru menemukan versi terbaik dari dirinya justru dalam situasi yang tidak ideal. Ketika kenyamanan hilang, topeng runtuh. Ketika fasilitas dicabut, karakter diuji. Dan ketika harapan eksternal runtuh, sumber daya batin dipaksa muncul ke permukaan. Hidup, ternyata, adalah guru yang keras kepala tapi konsisten.

Dalam konteks ini, makna hidup bukan sesuatu yang diberikan dari luar seperti hadiah lomba. Ia tidak menunggu kita sukses, kaya, atau populer. Makna justru menuntut untuk diwujudkan, sering kali dalam kondisi yang jauh dari nyaman. Ia hadir bukan sebagai janji kebahagiaan instan, melainkan sebagai panggilan untuk bersikap.

Keberanian untuk bersikap bermakna tidak selalu heroik dalam pengertian besar. Kadang ia sesederhana tetap jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. Tetap peduli ketika apatis lebih aman. Atau tetap bangun pagi ketika alasan untuk menyerah terasa sangat masuk akal. Dalam hal-hal kecil itulah martabat manusia diuji setiap hari.

Modernitas sering mengukur nilai manusia dari hasil yang tampak: capaian, jabatan, angka. Namun hidup batin bekerja dengan logika berbeda. Nilai manusia justru sering ditentukan oleh cara ia menanggung beban yang tidak ia pilih. Dunia boleh tidak adil, tetapi respons manusia terhadap ketidakadilan itu tetap berada dalam wilayah kebebasannya.

Saat seseorang tidak lagi mampu mengubah situasi, ia dipanggil untuk berubah. Bukan berubah menjadi pasrah tanpa daya, melainkan berubah dalam cara memaknai, menilai, dan merespons. Perubahan ini mungkin tidak mengubah dunia luar, tetapi ia menyelamatkan dunia batin—dan itu bukan pencapaian kecil.

Ada humor sunyi di sini: manusia mengejar kebebasan dengan mengendalikan segalanya, padahal kebebasan sejati justru muncul ketika ia menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Dalam pengakuan keterbatasan itulah manusia menjadi utuh. Bukan sebagai makhluk maha kuasa, tetapi sebagai makhluk bermakna.

Hidup, dengan segala absurditasnya, tidak pernah benar-benar kosong. Yang sering kosong adalah cara kita memandangnya. Ketika makna tidak lagi dikaitkan dengan kenyamanan semata, penderitaan kehilangan daya destruktifnya. Ia tetap menyakitkan, tetapi tidak lagi menghancurkan identitas.

Pada akhirnya, makna hidup bukan soal apa yang kita dapatkan, melainkan bagaimana kita menjawab. Hidup terus bertanya—kadang dengan lembut, kadang dengan kasar—dan manusia menjawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan sikap. Setiap hari, setiap keputusan kecil, adalah jawaban eksistensial.

Maka bahkan dalam kondisi paling gelap, hidup tidak pernah kehilangan maknanya. Justru di sanalah makna menuntut keberanian tertinggi. Bukan keberanian untuk menang, tetapi keberanian untuk tetap menjadi manusia—dengan kesadaran, tanggung jawab, dan martabat yang utuh. (*)

  • Penulis: Arwin Rahman
  • Editor: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menggali Potensi SDA Sulawesi Barat, Antara Kekayaan Alam dan Tantangan Pengelolaan : Ada Lirikan Investor Cina

    Menggali Potensi SDA Sulawesi Barat, Antara Kekayaan Alam dan Tantangan Pengelolaan : Ada Lirikan Investor Cina

    • 0Komentar

    Mamuju – Sulbarupdate.id – Provinsi Sulawesi Barat dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah di kawasan timur Indonesia. Potensi tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, perkebunan, kelautan, hingga pertambangan, yang menjadi modal penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Di sektor pertanian dan perkebunan, Sulawesi Barat tercatat sebagai […]

  • Optimalkan Penerimaan Daerah, Bapenda Sulbar Bahas Penguatan PAD Bersama PT Jasa Raharja

    Optimalkan Penerimaan Daerah, Bapenda Sulbar Bahas Penguatan PAD Bersama PT Jasa Raharja

    • 0Komentar

    MAMUJU, SULBARUPDATE.ID — Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulawesi Barat menerima kunjungan PT Jasa Raharja Perwakilan Mamuju dalam rangka membahas penguatan dan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pertemuan tersebut berlangsung di ruang rapat Kantor Bapenda Sulbar, Selasa, 13 Januari 2026. Langkah koordinasi ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan misi Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan […]

  • Pejabat Eselon II Sulbar Dilantik Gubernur Suhardi Duka

    Pejabat Eselon II Sulbar Dilantik Gubernur Suhardi Duka

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Di bawah naungan atap Ballroom Kantor Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), sebuah babak baru birokrasi resmi dimulai, Jumat 19 Desember 2025. Gubernur Suhardi Duka (SDK) mengukuhkan sepuluh punggawa baru dalam jajaran Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama. Pelantikan ini bukan sekadar seremoni rotasi, melainkan manifestasi dari hasil seleksi terbuka yang panjang dan transparan. Gubernur Suhardi […]

  • BREAKING NEWS: Bocah 4 Tahun di Polman Tewas Tenggelam di Kolam Irigasi

    BREAKING NEWS: Bocah 4 Tahun di Polman Tewas Tenggelam di Kolam Irigasi

    • 0Komentar

    POLMAN, Sulbarupdate.id – Peristiwa tragis menimpa seorang bocah perempuan berinisial RS (4) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Korban ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh dan tenggelam di kolam irigasi sedalam dua meter pada Senin sore (2/2/2026). ​Insiden memilukan ini terjadi di Kelurahan Batupanga, Kecamatan Luyo, sekitar pukul 17.00 WITA. Berdasarkan informasi yang dihimpun, lokasi […]

  • Mimpi Besar Como Jadi Nyata: Dari Klub Bangkrut Menuju Panggung Liga Champions

    Mimpi Besar Como Jadi Nyata: Dari Klub Bangkrut Menuju Panggung Liga Champions

    • 0Komentar

    COMO, SULBARUPDATE.ID – Eropa akhirnya mulai menoleh ke tepian Danau Como. Klub kecil bernama Como 1907 kini menjelma menjadi salah satu kisah paling romantis sekaligus paling ambisius dalam sepak bola modern. Setelah bertahun-tahun hidup dalam keterpurukan, kebangkrutan, dan berkutat di kasta bawah sepak bola Italia, Como kini berhasil menembus gerbang Liga Champions Eropa musim 2026/2027. Apa […]

  • Jelang Idul Adha, Harga Ayam di Majene Tetap Normal

    Jelang Idul Adha, Harga Ayam di Majene Tetap Normal

    • 0Komentar

    MAJENE, Sulbarupdate.id – Jelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, harga ayam potong di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terpantau masih stabil dan belum mengalami kenaikan signifikan, Senin (25/5/2026). Kondisi ini disambut baik masyarakat karena daya beli kebutuhan pokok tetap terjaga di tengah meningkatnya aktivitas menjelang hari besar keagamaan. Salah satu pedagang ayam di Majene, Fadila, […]

expand_less