Breaking News
light_mode
Beranda » Mamasa » Proyek Agroforestri Rp1,6 Miliar di Mamasa Tuai Polemik, Kades Sebut Realisasi Tak Sesuai Kesepakatan

Proyek Agroforestri Rp1,6 Miliar di Mamasa Tuai Polemik, Kades Sebut Realisasi Tak Sesuai Kesepakatan

  • account_circle Ancha
  • calendar_month Kam, 5 Feb 2026
  • visibility 431
  • comment 0 komentar

​MAMASA, Sulbarupdate.id – Kegiatan Agroforestri (wanatani) tahun anggaran 2023 di Desa Tawalian Timur, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, menuai protes.

Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp1,6 miliar tersebut dinilai gagal memenuhi target pertumbuhan tanaman yang telah disepakati sejak awal.

​Kepala Desa Tawalian Timur, Saulinggi, mengungkapkan kekecewaannya setelah meninjau langsung lokasi penanaman di Dusun Salulotong.

Ia menyebut realisasi di lapangan sangat jauh dari komitmen awal antara pelaksana proyek dan pemerintah desa.

​”Saat kegiatan akan dimulai, kami mengadakan rapat. Saya meminta minimal 70 persen tanaman harus tumbuh, namun fakta di lapangan saat ini pertumbuhannya tidak sampai 30 persen,” ujar Saulinggi, Kamis (05/02/2026).

​Atas dasar tersebut, Saulinggi menegaskan bahwa pihaknya menolak untuk melakukan serah terima hasil pekerjaan.

​”Kami belum melakukan serah terima. Saya tidak akan menerima hasil pekerjaan itu jika tidak sesuai dengan kesepakatan awal,” tegasnya.

​Di sisi lain, pihak pelaksana memberikan pembelaan. Timotius, salah satu anggota kelompok kerja proyek tersebut, mengeklaim bahwa pekerjaan telah dilaksanakan sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) yang berlaku dan didukung oleh dokumentasi lengkap pada setiap item pekerjaan.

​Timotius juga menyayangkan pemberitaan yang dianggapnya kurang akurat karena hanya meninjau bagian pinggir lokasi penanaman.

​”Jangan mengangkat berita yang tidak akurat karena bisa membuat gaduh masyarakat. Mengenai persoalan tumbuh atau tidak, intinya kami hanya manusia yang berusaha sesuai aturan yang dipedomani, kami bukan Tuhan,” tulis Timotius melalui pesan WhatsApp.

​Ia juga mengklarifikasi bahwa kegiatan yang dilaksanakan murni merupakan Agroforestri, bukan Reboisasi Hutan dan Lahan (RHL) sebagaimana sempat diisukan sebelumnya.

​Sebagai informasi, Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan berkelanjutan yang mengombinasikan budidaya tanaman pertanian (semusim) dengan tanaman kehutanan (kayu) atau peternakan dalam satu lanskap.

​Program ini sejatinya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani sekaligus menjaga fungsi ekologis seperti konservasi tanah dan penyerapan karbon.

Namun, kegagalan tumbuh tanaman dalam skala besar di Tawalian Timur kini menjadi sorotan terkait efektivitas penggunaan anggaran miliaran rupiah tersebut.(*)

  • Penulis: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemuda Asal Mamasa Dilaporkan Hilang Sejak April

    Pemuda Asal Mamasa Dilaporkan Hilang Sejak April

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Seorang pemuda asal Rante Katoan, Desa Osango, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, dilaporkan hilang misterius. Korban bernama Jun Palangi (24), hingga kini belum kembali ke rumah sejak meninggalkan kediamannya pada akhir April lalu. Pencarian kini tengah diintensifkan guna menemukan keberadaan pemuda tersebut pada Rabu, (13/5/2026). ​Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa Jun Palangi terakhir […]

  • Persimaju Mamuju Tahan Imbang UNAHA FC 1-1, Peluang Lolos ke Babak Selanjutnya Masih Terbuka Lebar

    Persimaju Mamuju Tahan Imbang UNAHA FC 1-1, Peluang Lolos ke Babak Selanjutnya Masih Terbuka Lebar

    • 0Komentar

    MAMUJU – Tim Persimaju Mamuju kembali berlaga pada lanjutan Liga 4 Piala Presiden, sore hari ini. Menghadapi UNAHA FC, Persimaju Mamuju berhasil meraih satu poin setelah pertandingan berakhir dengan skor imbang 1-1. Pada awal pertandingan, Persimaju Mamuju sempat tertinggal lebih dulu setelah UNAHA FC berhasil mencetak gol pembuka. Namun, tim kebanggaan masyarakat Mamuju itu mampu […]

  • UPTD BPHMT- IB Sulbar Terima Delapan Mahasiswa PKL Jurusan Peternakan Unsulbar 

    UPTD BPHMT- IB Sulbar Terima Delapan Mahasiswa PKL Jurusan Peternakan Unsulbar 

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id — Sebanyak delapan mahasiswa Jurusan Peternakan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) secara resmi diterima untuk melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) oleh Kepala UPTD Balai Perbibitan Hijauan Makanan Ternak dan Inseminasi Buatan (BPHMT- IB) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Nurdin, Selasa (06/01/2026). Kegiatan PKL ini akan dilaksanakan selama 40 hari dan dipusatkan di Instalasi Perbibitan […]

  • Tersangka Pencurian DD Rp.388 Juta demi Gaya Hidup di Mamuju Segera Disidang

    Tersangka Pencurian DD Rp.388 Juta demi Gaya Hidup di Mamuju Segera Disidang

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Kasus pencurian Dana Desa Tapandullu yang sempat menghebohkan publik Sulawesi Barat memasuki babak baru. Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulbar resmi melimpahkan tersangka AH (42) beserta barang bukti ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Mamuju pada Selasa (20/1/2026). Penyerahan Tahap II ini dilakukan setelah berkas perkara pria paruh baya tersebut dinyatakan lengkap […]

  • Dugaan Temuan Dana BTT Tahun 2025 di Mamasa, Ini Penjelasan Kadis PUPR 

    Dugaan Temuan Dana BTT Tahun 2025 di Mamasa, Ini Penjelasan Kadis PUPR 

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) Oktovianus Masuang, akhirnya buka suara terkait dugaan kejanggalan dalam alokasi anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) tahun 2025.  Isu ini sempat menyoroti sejumlah proyek infrastruktur di bawah naungan dinas yang dipimpinnya. Oktovianus menjelaskan bahwa sejumlah proyek yang bersumber dari dana […]

  • Setahun Rampung, Jembatan Rp 500 Juta di Mamuju Tengah Sudah Amblas dan Miring

    Setahun Rampung, Jembatan Rp 500 Juta di Mamuju Tengah Sudah Amblas dan Miring

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Sebuah jembatan beton sepanjang 14 meter di Desa Saloadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, kini menjadi sorotan tajam warga setempat. Meski baru rampung dikerjakan pada pertengahan 2025 lalu, infrastruktur yang menelan anggaran ratusan juta rupiah tersebut sudah mengalami kerusakan parah hingga amblas sedalam 55 sentimeter (cm). ​Pantauan di […]

expand_less