Tak Kunjung Beroperasi Sejak Rampung, SPPG 3T di Mamuju Tengah Disorot Warga dan Investor
- account_circle Ruly Syamsil
- calendar_month Sab, 20 Jun 2026
- visibility 46
- comment 0 komentar

MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Pembangunan 13 titik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, hingga kini belum menunjukkan aktivitas operasional.
Padahal, proyek yang menunjang program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini dikabarkan telah rampung sejak Desember 2025 lalu.
Dua di antara dapur SPPG 3T yang belum difungsikan tersebut berada di Desa Lembah Hada dan Desa Bojok, Kecamatan Budong-budong.
Berdasarkan pantauan Sulbarupdate.id di lokasi, bangunan dapur bernuansa warna biru-putih itu tampak berdiri kokoh dan telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang.
Kendati demikian, belum ada tanda-tanda aktivitas pelayanan gizi sama sekali.
Kondisi ini pun memicu keluhan dari warga setempat, terutama para siswa tingkat TK, Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang telah lama menanti untuk merasakan program nasional tersebut.
Seorang warga Desa Lembah Hada sekaligus calon relawan SPPG, Ratnawati, mengaku heran mengapa fasilitas yang telah selesai dibangun sejak akhir tahun lalu itu tak kunjung beroperasi.
”Diperkirakan sudah sejak bulan 12 (Desember 2025) selesai dibangun dapurnya, Pak, tapi sampai sekarang belum dioperasikan,” ujar Ratnawati kepada awak media, Jumat (19/6/2026).
Ratnawati menambahkan, keberadaan dapur ini sangat dinantikan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Selain memberikan pemenuhan gizi bagi siswa, program ini diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar.
“Mudah-mudahan segera dibuka, kami mau kerja untuk tambah-tambah penghasilan,” imbuhnya.
Senada dengan Ratnawati, warga lainnya, Muliati, menyebutkan bahwa anak-anak di desanya sudah sering bertanya-tanya mengenai kepastian program MBG.
Harapan serupa juga diungkapkan oleh para pelajar di Desa Lembah Hada. Irsyam, seorang siswa SD setempat, dengan polos mengutarakan keinginannya agar program makan gratis tersebut bisa segera masuk ke sekolah mereka.
”Kami mau MBG, Pak. Belum pernah dapat MBG di sekolah. Di sini ada sekolah TK, SD, dan SMP, semuanya belum dapat,” kata Irsyam.
Keluhan serupa juga datang dari Haikal dan Aulia, siswa SMP di desa setempat. “Saya juga mau MBG, di sekolah sini belum ada,” tutur Haikal.
Ketidakpastian operasional dapur SPPG ini ternyata tidak hanya berdampak pada warga, tetapi juga mulai menghantui para investor yang mendanai proyek tersebut. Salah seorang investor berinisial ILH (nama disamarkan), mengaku cemas terhadap nasib modal yang telah ia kucurkan.
Hingga saat ini, para investor dikabarkan belum memperoleh kepastian dari pemerintah mengenai mekanisme maupun jadwal pengembalian dana talangan pembangunan fasilitas tersebut.
”Kekhawatiran kami muncul karena hingga saat ini pembayaran ganti rugi atau pengembalian dana yang telah kami keluarkan untuk membangun fasilitas dapur MBG ini belum menunjukkan kepastian,” ungkap ILH, Kamis (18/6/2026).
Menurut ILH, pembangunan fasilitas dapur di wilayah 3T Mateng ini didasarkan pada titik lokasi yang telah ditentukan oleh Tim Satgas MBG. Secara keseluruhan, proyek tersebut diklaim telah rampung pada Januari 2026 dan hanya tinggal menunggu instruksi operasional (running).
”Ada 13 titik dapur MBG 3T yang dibangun, dan sekitar 10 dapur sudah selesai 100 persen, tinggal menunggu jalan,” jelasnya.
Namun, memasuki pertengahan tahun 2026, belum ada kejelasan mengenai jadwal operasional maupun sistem pengembalian dana investasi.
Pihak investor pun mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk segera memberikan kepastian hukum dan finansial agar program strategis ini tidak terbengkalai.(*)
- Penulis: Ruly Syamsil
- Editor: Ancha
