SPPG Tabolang Mamuju Tengah Ditutup Imbas Temuan Abon Berulat
- account_circle Ruly Syamsil
- calendar_month Senin, 9 Mar 2026
- visibility 525
- comment 0 komentar

MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Mamuju Tengah mengambil langkah tegas dengan menutup operasional dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Tabolang.
Keputusan ini diambil menyusul viralnya temuan abon berulat pada menu makanan yang disajikan kepada siswa beberapa waktu lalu.
Ketua Satgas MBG Mamuju Tengah, Litha Febrianti, mengatakan bahwa saat ini SPPG Tabolang dinyatakan berhenti beroperasi hingga seluruh standar kelayakan terpenuhi.
”Dapur MBG Tabolang memang betul ditutup setelah adanya kejadian viral abon berulat. Saat ini statusnya ditutup dan tidak bisa beroperasi kembali (sementara) sampai memenuhi indikator penilaian,” ujar Litha saat dikonfirmasi, Senin (9/3/2026).
Litha menjelaskan bahwa operasional hanya akan diizinkan kembali jika pihak pengelola telah menyelesaikan seluruh indikator penilaian inspeksi dari Dinas Kesehatan. Hal ini bertujuan untuk menerbitkan rekomendasi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Sertifikat tersebut nantinya akan diteruskan ke PTSP sebagai dasar penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang baru. Tanpa dokumen legalitas kesehatan tersebut, dapur dilarang keras memproduksi makanan.
Sebelum keputusan penutupan ini dipertegas, tim gabungan yang terdiri dari Asisten 1, Kepala Dinas Kesehatan, dan Tim Satgas telah melakukan kunjungan lapangan untuk mengecek kondisi fisik dapur.
”Minggu lalu kami turun langsung mengecek kondisi dapur yang dimaksud. Dari 18 catatan atau koreksi yang kami berikan sebelum kasus ini viral, beberapa di antaranya memang sudah diperbaiki, namun evaluasi total tetap harus dilakukan,” tambahnya.
Menindaklanjuti insiden memprihatinkan ini, Satgas MBG telah memanggil seluruh Kepala SPPG dan Koordinator Wilayah (Korwil) se-Mamuju Tengah dalam rapat evaluasi mendalam. Litha menekankan bahwa marwah program MBG adalah untuk memperbaiki gizi anak bangsa, bukan sebaliknya.
”Poin utamanya adalah penuhi syarat dapur. Kita harus menjaga marwah dan niat tulus program MBG ini, yaitu memberikan perbaikan gizi untuk anak-anak bangsa, bukan malah memberi sakit,” tegas Litha di hadapan para pengelola.
Satgas juga memberikan peringatan keras bahwa kelalaian dalam menjaga standar kebersihan tidak hanya merugikan siswa, tetapi juga mengancam keberlangsungan pekerjaan para petugas SPPG itu sendiri.
Jika terjadi penolakan masif dari masyarakat akibat kualitas makanan yang buruk, maka program di titik tersebut terancam dihentikan permanen.(*)
- Penulis: Ruly Syamsil
- Editor: Ancha
