Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Mendidik dan Pesan Cinta “Maulana Jalaluddin Rumi”

Mendidik dan Pesan Cinta “Maulana Jalaluddin Rumi”

  • account_circle Ervyan Ramlan&Hanafi Pelu
  • calendar_month Kam, 18 Des 2025
  • visibility 431
  • comment 0 komentar

Oleh: Ervyan Ramlan&Hanafi Pelu

Guru MIN 2 Wajo, Widyaiswara Balai Diklat Kegamaan Makassar.

Desember sangat dekat dengan dinginnya, layaknya cinta dekat dengan rindu. Desember adalah ujung tapi bukan akhir dari segala upaya yang tak sampai selama bulan-bulan yang berlalu. Banyak hal yang membuat desember begitu istimewah, termasuk saya sebagai pendidik. Mengapa demikian?, Sebagai Pendidik bulan ini adalah momentum refleksi diri sekaligus murid selama menjalankan semester berjalan. Murid telah menjalankan perannya, guru juga demikian, sebagai pemberi dan penerima ilmu pengetahuan. Nilai dan ekspektasi sepertinya menjadi tujuan, tapi percayalah bahwa apalah arti nilai tinggi, terbaik, atau bahkan menjadi sosok juara dalam kelas jika murid hanya tau bukan memahami arti belajar dengan sepenuh hati, karena sepenuh hatilah yang melahirkan cinta. Begitu juga pendidik sangat butuh hati dalam memaknai pembelajaran, belajar yang menanamkan makna mendalam bukan hanya ilmu dari sisi luarnya saja.

Beberapa pekan ini saya telah menyelesaikan sebuah bacaan rutinan, buku dengan judul “Pesan-Pesan Cinta Maulana Jalaluddin Rumi” sebuah karya dari Adiba A. Soebachman. Buku ini mencoba membuka perspektif penulis tentang memaknai cinta dengan “c” kecil sekaligus makna mendalam tentang Cinta dengan “C” Besar. Begitu juga saya mencoba memaknai pesan-pesannya sebagai guru madrasah. Melalui tulisan ini bukan berarti saya sangat paham betul makna syair dan atau essai sang maestro, malainkan hanya sebuah pandangan peribadi tentang cinta dan peran saya sebagai pendidik.

Bukan sebuah kebetulan tapi Rumi juga adalah pendidik. Berawal dari perjalan kisahnya Rumi memulai perjalanan keilmuan di-Negeri Syam, dan beberapa tempat di-Damaskus. Kedua tempat inilah beliau menjadi guru madrasah. Maka rumi dan Pendidikan memang sangat dekat.

Guru Sebagai Pembawa Kepekaan Sosial.

Maka dari itu kita akan mulai dari sebuah syairnya,  *“Yang tak punya hati, takkan pernah mencari hati”-“Hanya hati yang penuh cintalah yang dapat menjangkau langit tertinggi”*. Dari syair ini, guru penting memaknai  pertemuan demi pertemuan dengan murid-murid kita, seberapa besar peran hati kita memberi pembelajaran, bukan sekedar kewajiban datang, bertemu, presensi, lalu Kembali pulang. Jika itu yang terjadi maka realitas masa depan murid menjadi taruhannya. Buat apa? murid cerdas tanpa rasa, toleransi bahkan abai terhadap kondisi sekitarnya. Semoga itu tidak terjadi, dan mari kita renungkan Bersama.

Guru Sebagai Penular Ketulusan.

Syair selanjutnya Rumi katakan *“Tuhan berada dimana-mana. Ia juga hadir tiap gerak, namun tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini dan itu, sebab wajahnya terpantul dalam keseluruhan ruang, walupun sebenrnya tuhan mengatasi ruang”*. Dalam tugas keseharian kita sebagai guru, libatkanlah tuhan didalamnya sebab kita berharap rahmat dan berkahnyalah pembelajaran kita memancarkan pengetahuan kepada murid-mirid kita. Kita tidak bisa memaksakan pengetahuan harus dipahami hari itu, besok, lusa dan tahun-tahun berlalu tapi paling tidak Tuhan tahu kita menjalakan tugas dengan penuh amanah bukan amarah. Melibatkan tuhan sejatinya memang dibutuhkan, bukankah tujuan akhir dari kehidupan manusia akan Kembali kepadanya. Rumi juga pernah bilang  *“Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai, Di dalam keindahan-MU aku belajar menulis puisi”*.

Guru Sebagai Ilmuan.

Proses belajar memang tidak bisa dipaksakan. Kita perlu lihat perkembangan dan karakternya pun berbeda beda. Tiap anak adalah pemilik dirinya sendiri, tugas kita membantu menemukan dirinya yang hilang dan akan kembali jika menemukan guru yang tepat. Sepenggal essai dari Rumi *“Contohnya adalah orang yang terbiasa makan dengan porsi yang banyak, lalu ingin menurunkannya, tentu ia harus menguranginya secara bertahap, sesuap demi sesuap setiap hari”*. Kata yang dipilih rumi adalah sesuap demi sesuap bukan sepiring demi sepiring. Bisa kita bayangkan Ketika memulai dari sepiring, sangat rentan dengan resiko gangguan Kesehatan. Belajar juga harus begitu jika memang belum waktunya memahami angka 7 jangan dipaksa untuk melanjutkan angka-angka setalahnya. Maka akan menjadi modal peserta didik kita kelak dalam proses pengambilan keputusannya, tidak lagi hanya sekedar keputusan biasa tapi melalui tahap berfikir kritis.

Guru Sebagai Pembawa Kebahagiaan.

Kata Rumi, *“Jika kebahagiaan merasuk dalam hati seseorang, itu merupakan belasan baginya karena telah membahagiakan seseorang. Dan bila ia bersedih, itu merupakan balasan bagi dirinya karena telah membuat sedih orang lain”*.  Rumus Bahagia ternyata bahagia itu sendiri. Setiap hari tentu guru membutuhkan semangat kebahagiaan itu. Mengapa? Hanya kebahagiaan melahirkan pembelajaran tanpa beban. Ketika kesedihan merasuki atau bahkan memiliki tempat tersendiri dalam diri kita, maka perlu kita periksa kesediahan apa yang telah diperbuat kepada orang lain atau kepada murid kita sendiri. Mari kita lepaskan kesedihan sebelum bertemu dengan murid kita, sehingga murid mengenal bapak/ibu gurunya sebagai pemilik senyum ikhlas dan pelipur kesedihannya.

Guru Sebagai Pemancar Kelembutan.

Kehadiran dunia maya saat ini membawa banyak perubahan, termasuk lingkungan Pendidikan. Murid dulu tampil layaknya pemberani, seakan memiliki nyawa tambahan. Tawuran dengan segala perlengkapan tempur, turun dalam medan perang, padahal lawan adalah sekolah yang berjarak tidak jauh dari sekolah asal. Kini dengan pesatnya teknologi, tawuran offline/tatap muka sedikit beralih kepada pertarungan maya. Kasarnya sama, bringasnya sama dan luka yang ditimbulkannya bisa lebih parah. Kondisi seperti ini maka guru harus bertransformasi dengan pendekatan sesuai zamannya. Bijak dalam berteknologi, baik dalam menggunakan media sosial, bersaing ide dalam dunia digital dan tetap letakkan cinta didalamnya. Selaras dengan perkataan Rumi *“Cinta mengubah kekerasan menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagian, dan Cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam.”*

Guru butuh cinta, cinta dan cinta….

Mengapa demikian?

Waktu kita tidak banyak, baik sebagai manusia biasa maupun waktu Bersama murid. Sebagai manusi biasa tentu jalan akhir yang kita ingin tujuh adalah jalan “menuju Jannah” Innal-muttaqīna fī jannātiw wa ‘uyụn (surat-al-hijr-ayat-45), bagi orang yang bertaqwa berada dalam syurga, teman-teman dan didekat mata air yang mengalir. Dari sisi  sebagai guru, setiap tahun akan ada murid baru, ada yang memulai dan ada yang telah mengakhiri. Kita perlu terus memiliki cinta karena adakalahnya yang telah mengakhiri akan bercerita tentang kita kepada guru-guru selanjutnya. Ketika cerita kita baik, indah dan menginspirasi maka guru selanjutnya akan berfikir melakukan hal yang sama. Maka terciptalah pembelajaran abadi, sesuai perkataan rumi *“Pilihlah Cinta, ya, cinta! Tanpa manisnya Cinta, hidup ini adalah beban. Tentu engkau telah merasakannya.*

Untuk Guru diseluruh Indonesia

_*“Usaha dan doa tergantung pada cita-cita.

Manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”*_ Maulana Jalaluddin Rumi.

Olehnya itu, ditengah-tengahnya hiruk-pikuk perkembangan Teknologi, maka sebagai seorang guru harus memiliki Rasa Kepekaan Cinta, seperti yang digaungkan oleh Kementerian Agama, yaitu Kurikukulum Berbasis Cinta (Panca Cinta; Cinta Allah&Rasulnya, Cinta Ilmu Cinta Allam, Cinta Diri Sendiri&Orang Lain, serta Cinta Alam), artinya bahwa, sebagai guru bukan hanya transfer of knowledge akan tetapi juga transfer of value, agar tidak terjadinya BIAS dalam mengarungi Perkembangan Zaman, sehingga guru memiliki IPTEK yang dibarengi dengan IMTAK, salam Cinta.(*)

  • Penulis: Ervyan Ramlan&Hanafi Pelu
Tags

Rekomendasi Untuk Anda

  • Safari Qalam Buya Arrazy di Sulawesi Barat

    Safari Qalam Buya Arrazy di Sulawesi Barat

    • 0Komentar

    Polman, Sulbarupdate.id – Ada pemandangan baru di dekat pintu masuk area Masjid Nuruttaubah atau masjid Imam Lapeo di Campalagian, Polewali Mandar, paling tidak sejak Rabu kemarin. Pemandangan secara kasat yang agak beda dari sebelumnya itu, sebuah baliho berukuran agak besar tersampir di dinding depan jalan. Baliho ini menampilkan tiga sosok dalam foto besar: Dr. H. […]

  • Dinsos Sulbar Salurkan Bantuan Permakanan, Sandang, dan UEP di Polman

    Dinsos Sulbar Salurkan Bantuan Permakanan, Sandang, dan UEP di Polman

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menegaskan kembali komitmennya dalam memperluas cakupan perlindungan sosial dengan menginisiasi babak lanjutan penyaluran asistensi bagi para penyandang disabilitas. Program strategis ini direalisasikan melalui sinergi kemitraan dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Al Jumrah, yang berlokasi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Program intervensi sosial yang dihelat ini […]

  • Pejabat Eselon II Sulbar Dilantik Gubernur Suhardi Duka

    Pejabat Eselon II Sulbar Dilantik Gubernur Suhardi Duka

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Di bawah naungan atap Ballroom Kantor Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), sebuah babak baru birokrasi resmi dimulai, Jumat 19 Desember 2025. Gubernur Suhardi Duka (SDK) mengukuhkan sepuluh punggawa baru dalam jajaran Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama. Pelantikan ini bukan sekadar seremoni rotasi, melainkan manifestasi dari hasil seleksi terbuka yang panjang dan transparan. Gubernur Suhardi […]

  • Bau Menyengat Selimuti DPRD Polman, Diduga Asal Limbah MBG

    Bau Menyengat Selimuti DPRD Polman, Diduga Asal Limbah MBG

    • 0Komentar

    Polewali Mandar – Sulbarupdate.id Keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Takatidung II, Kabupaten Polewali Mandar, menuai keluhan. Limbah yang dihasilkan dari aktivitas dapur tersebut diduga memunculkan bau tidak sedap yang menyebar hingga ke Jalan Andi Depu, tepat di sekitar Gedung DPRD Polman. Informasi ini dilansir […]

  • Sulbar Bidik Dana FOLU, Usulkan Program Pelestarian Hutan ke Pusat

    Sulbar Bidik Dana FOLU, Usulkan Program Pelestarian Hutan ke Pusat

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menyiapkan usulan program pelestarian hutan ke Kementerian Kehutanan. Targetnya, membuka peluang pendanaan dari pusat. Hal itu dibahas dalam rapat persiapan verifikasi dan asistensi usulan kegiatan kehutanan Dana Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH). Rapat digelar di Ruang Sekretaris Daerah Lantai II Kantor Gubernur Sulawesi Barat, Senin 9 Februari 2026. Langkah […]

  • Muak Hanya Diberi Janji Manis, Pemuda 3 Desa di Mamasa Bersatu Tuntut Keadilan Pembangunan!

    Muak Hanya Diberi Janji Manis, Pemuda 3 Desa di Mamasa Bersatu Tuntut Keadilan Pembangunan!

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang jatuh pada Rabu (20/5/2026), dimanfaatkan oleh kelompok pemuda dari pelosok Kabupaten Mamasa untuk menyuarakan aspirasi mereka. Mereka mendesak pemerintah daerah setempat segera merealisasikan pembangunan infrastruktur jalan yang dinilai telah lama terabaikan. ​Melalui wadah Forum Pemerhati Pembangunan Desa Burana, Pangadaran, dan Baruru, para pemuda ini menyatukan sikap […]

expand_less