Epilog Manis di Ujung Bakti, Ziarah Panjang Leny Mamasa Jemput Takdir PPPK PW
- account_circle Ancha
- calendar_month Rabu, 31 Des 2025
- visibility 195
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id — Di sela deru waktu yang kian melambat menuju masa purna tugas, sebuah kabar gembira mengetuk pintu kehidupan Leny (58), seorang tenaga honorer di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Sosok perempuan kelahiran 20 Desember 1967 ini akhirnya menerima pengakuan negara atas dedikasi tanpa putusnya selama dua dekade.
Tepat pada Senin (29/12/2025), di ambang masa pensiunnya, Leny resmi menyandang status sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.
Momen ini menjadi kado indah sekaligus unik. Ia menerima surat keputusan (SK) pengangkatan sekaligus memasuki masa purna bakti di hari yang sama.
Langkah kaki Leny di koridor pemerintahan daerah bukan baru kemarin sore. Ziarah pengabdiannya dimulai tahun 2004 silam sebagai tenaga sukarela di Rumah Jabatan Bupati Mamasa.
Selama 20 tahun, ia telah melintasi berbagai transisi kepemimpinan dan zaman.
Rekam jejaknya mencatat keteguhan yang luar biasa. Leny pernah bertugas sebagai staf bagian umum, tenaga cleaning service, hingga akhirnya menjadi jangkar di bagian kearsipan Sekretariat Daerah.
Meski puluhan tahun menyandang status honorer, ia tak pernah absen mencoba peruntungan setiap kali gerbang seleksi CPNS maupun PPPK dibuka.
“Pengabdian bukan sekadar tentang angka di atas kertas, tapi tentang bagaimana meletakkan hati pada setiap tugas yang diamanahkan,” ungkapnya, menggambarkan prinsip yang ia pegang teguh selama ini.
Kini, saat rambut mulai memutih, takdir memberikan pelukan hangatnya. Pengangkatan sebagai PPPK Paruh Waktu menjadi validasi atas integritas yang ia tanam.
Meski masa baktinya secara formal berjalan sangat singkat, pencapaian ini merupakan simbol kehormatan bagi seorang ibu yang telah berhasil mengantarkan ketiga anaknya menuju kemandirian.
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Leny telah menuntaskan tugas domestik dan profesionalnya dengan gemilang. Kini, di tengah kesendirian yang produktif karena anak-anaknya telah berkeluarga, ia memilih untuk tetap bergerak.
Kembali ke Pematang Sawah
Memasuki masa purna bakti, Leny memilih tidak berpangku tangan. Ia kini beralih profesi dengan mengelola lahan pertanian sawah sebagai medium untuk tetap bugar dan mandiri secara ekonomi.
Baginya, tanah adalah guru kesabaran berikutnya setelah puluhan tahun bergelut dengan tumpukan arsip.
“Saya akan fokus bertani untuk menikmati masa tua. Ini cara saya tetap produktif,” ujar Leny saat ditemui pada Rabu (31/12/2025).
Selain bergelut di sektor agraris, Leny juga aktif dalam kegiatan sosial dan pelayanan keagamaan. Di sinilah ia menemukan makna hidup yang sesungguhnya: bahwa pengabdian kepada Tuhan dan sesama tidak mengenal kata pensiun.
Leny adalah bukti nyata bahwa apresiasi seringkali datang tepat pada waktunya—bukan sekadar saat diinginkan, melainkan saat kelayakan telah teruji oleh waktu.
Ia menutup lembaran birokrasinya dengan kepala tegak, menyambut masa tua dengan produktivitas yang menginspirasi banyak orang di Bumi Kondosapata. (*)
- Penulis: Ancha
