Breaking News
light_mode
Beranda » Olahraga » El Clásico: Bukan Sekadar Tendang Bola

El Clásico: Bukan Sekadar Tendang Bola

  • account_circle Sulbarupdate.id
  • calendar_month Ming, 11 Jan 2026
  • visibility 615
  • comment 0 komentar

Jeddah, Sulbarupdate.id-
Oleh: Al-Haqq (Ar-Rahman)

El Clásico (Fc Barcelona vs Real Madrid Fc) selalu dijual sebagai rivalitas olahraga terbesar di dunia, tetapi narasi itu terlalu sempit dan menyesatkan. Pertandingan antara FC Barcelona dan Real Madrid sejatinya adalah pertarungan politik yang diwariskan sejarah, konflik identitas yang dibungkus dalam 90 menit sepak bola. Di lapangan mungkin hanya ada bola, tetapi di tribun dan memori kolektif, yang bertarung adalah negara melawan daerah.

FC Barcelona bukan sekadar klub. Ia lahir dan tumbuh sebagai simbol perlawanan kultural masyarakat Catalonia terhadap kekuasaan pusat Spanyol. Ketika ruang politik ditutup, bahasa dibungkam, dan identitas ditekan, sepak bola menjadi senjata terakhir yang tersisa. Di sinilah Barcelona menemukan maknanya: bukan sebagai institusi olahraga, melainkan alat perlawanan simbolik.

Sebaliknya, Real Madrid membawa nama “Real” — kerajaan — yang tidak pernah netral dalam sejarah Spanyol. Klub ini secara historis melekat pada citra negara, pusat kekuasaan, dan nasionalisme Spanyol. Dalam banyak periode, Real Madrid bukan hanya klub yang menang, tetapi klub yang diizinkan untuk menang.

Pada era diktator Francisco Franco, perbedaan ini berubah menjadi jurang politik. Catalonia kehilangan otonomi, bahasa Catalan dilarang, dan simbol regional dihapus paksa. FC Barcelona dipaksa mengubah nama dan lambang, sementara stadion mereka menjadi satu-satunya ruang publik tempat identitas Catalan bisa bernapas.

Rezim Franco memahami satu hal dengan sangat baik: sepak bola adalah propaganda paling efektif. Kemenangan Real Madrid di Eropa pada 1950–1960-an digunakan sebagai etalase bahwa Spanyol kuat, modern, dan bersatu. Dunia melihat trofi, tetapi menutup mata dari represi yang menopangnya.

Di sisi lain, Barcelona membayar harga politik yang mahal. Josep Sunyol, presiden klub dan tokoh pro-Catalonia, ditembak mati pasukan Franco pada 1936. Ini bukan insiden olahraga—ini adalah pesan politik berdarah bahwa Barcelona bukan sekadar klub, melainkan ancaman simbolik bagi rezim.

Semifinal Copa del Generalísimo 1943 menjadi luka yang tak pernah sembuh. Kekalahan Barcelona 11–1 di Madrid, setelah memenangkan leg pertama 3–0, bukan sekadar anomali skor. Laporan intimidasi aparat terhadap pemain Barcelona memperkuat keyakinan bahwa pertandingan itu adalah demonstrasi kekuasaan, bukan kompetisi adil.

Kasus Alfredo Di Stéfano pada 1953 menambah daftar kecurigaan. Ketika Barcelona dan Real Madrid sama-sama mengklaim sang pemain, keputusan federasi—yang berada di bawah pengaruh rezim—berakhir menguntungkan Madrid. Di Stéfano kemudian menjadi simbol dominasi Real Madrid, sekaligus simbol intervensi negara dalam sepak bola.

Apakah Real Madrid “klub Franco”? Sejarah memang tidak sesederhana itu. Namun menyangkal bahwa klub ini diuntungkan secara politis adalah bentuk amnesia historis. Dalam politik, persepsi sering kali sama kuatnya dengan fakta, dan persepsi ketidakadilan itu nyata hidup di Catalonia.

Pasca runtuhnya diktator, demokrasi tidak serta-merta menghapus memori kolektif. Otonomi diberikan, tetapi luka sejarah tetap terbuka. Setiap El Clásico menjadi panggung global untuk mengingatkan dunia bahwa konflik Spanyol–Catalonia belum pernah benar-benar selesai.

Camp Nou lalu menjadi mimbar politik raksasa. Teriakan “Independència”, bendera Estelada, dan pesan-pesan simbolik muncul setiap kali Madrid datang. Barcelona tidak hanya bermain untuk menang, tetapi untuk bersuara.

Real Madrid, sadar atau tidak, terus membawa identitas negara. Lagu kebangsaan Spanyol, simbol kerajaan, dan relasi institusional mempertegas posisi klub sebagai representasi kekuasaan pusat. Dalam konteks ini, netralitas adalah ilusi.

Di era sepak bola modern yang dipenuhi sponsor dan kapital global, El Clásico memang dipoles menjadi produk hiburan. Namun, politik tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti bahasa—dari represi senjata menjadi simbol dan gestur.

El Clásico adalah perang dingin: tidak ada peluru, tetapi penuh pesan. Tidak ada deklarasi, tetapi sarat makna. Setiap gol adalah pernyataan, setiap kemenangan adalah legitimasi, setiap kekalahan adalah pengingat sejarah, setiap selebrasi adalah serangan peluru.

Selama Catalonia masih mempertanyakan posisinya dalam negara Spanyol, selama identitas masih diperdebatkan, El Clásico tidak akan pernah murni soal sepak bola. Ia adalah konflik yang terus dimainkan ulang—bukan untuk diselesaikan, tetapi untuk diingat.

El Clásico dini hari (Senin, 12 Januari 2026), sangat terasa atmosfer itu, dari dalam stadion maupun diluar stadion ataupun melalui siaran televisi. Semua orang merasakan bagaimana “pertarungan” kedua tim ini yang berakhir 3-2, kemenangan milik club asal Catalonia- Fc Barcelona.

Kemenangan bagaikan kemerdekaan bagi Rakyat Catalonia dan Kekalahan bagaikan serangan melebih nuklir bagi Spanyol. (*)

  • Penulis: Sulbarupdate.id

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pergantian Wakil Gubernur Sulbar Mengerucut, Demokrat Kantongi SK DPP untuk Samsul Samad

    Pergantian Wakil Gubernur Sulbar Mengerucut, Demokrat Kantongi SK DPP untuk Samsul Samad

    • 0Komentar

    MAMUJU – Proses pengisian jabatan Wakil Gubernur Sulawesi Barat pascawafatnya almarhum Salim S. Mengga terus bergulir. Salah satu perkembangan terbaru datang dari Partai Demokrat yang telah menerbitkan surat keputusan (SK) dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) sebagai rekomendasi kepada Samsul Samad. Meski demikian, proses pengusulan calon Wakil Gubernur Sulbar masih menunggu mekanisme politik yang melibatkan seluruh […]

  • Sengketa Lahan di Tobadak Mateng, Kesaksian Saling Jegal Antara Kelompok Tani dan Pemkab

    Sengketa Lahan di Tobadak Mateng, Kesaksian Saling Jegal Antara Kelompok Tani dan Pemkab

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id — Persidangan kasus sengketa lahan seluas 115 hektare di wilayah Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, antara kelompok tani Pak Balo melawan PT Wahana Karya Sejahtera Mandiri (WKSM) terus menyita perhatian publik. ​Dalam rangkaian persidangan yang berlangsung sejak April hingga Juni 2026 di Pengadilan Negeri Mamuju, majelis hakim dihadapkan pada rentetan kesaksian yang saling […]

  • Dinilai Abaikan Fakta Sidang, Pengacara Terdakwa Korupsi Gerbang Mamuju Ajukan Banding

    Dinilai Abaikan Fakta Sidang, Pengacara Terdakwa Korupsi Gerbang Mamuju Ajukan Banding

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Tim Advokat terdakwa kasus dugaan korupsi pembangunan Gerbang Mamuju memastikan akan menempuh upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Barat.  Langkah ini diambil setelah Pengadilan Negeri (PN) Mamuju menjatuhkan vonis pidana terhadap dua terdakwa, yakni Zulfahmi alias Andis dan H. Ahmad. Kuasa hukum terdakwa, Akriadi Pue Dollah, menilai majelis hakim mengabaikan sejumlah […]

  • DPP Partai NasDem Batalkan PAW Abdul Salam

    DPP Partai NasDem Batalkan PAW Abdul Salam

    • 0Komentar

    PALOPO, SULBARUPDATE.ID – Mahkamah Partai NasDem resmi mengeluarkan putusan sengketa PAW terhadap Abdul Salam sebagai anggota DPRD Kota Palopo. Dalam Putusan Nomor 11/MPN/DPRD/I/2026, Mahkamah Partai memutuskan memulihkan hak pemohon. Dalam amar putusan poin 4 disebutkan, Mahkamah Partai mengabulkan peninjauan kembali dengan memulihkan kemampuan, kedudukan, harkat, dan martabat pemohon ke kondisi semula sebagai anggota Partai NasDem […]

  • Apel Virtual Pemprov Sulbar, Wagub Minta OPD Perketat Absensi dan Kinerja ASN

    Apel Virtual Pemprov Sulbar, Wagub Minta OPD Perketat Absensi dan Kinerja ASN

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggelar Apel Virtual Lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat yang dipusatkan di Ruang Rapat Oval Lantai 3 Kantor Gubernur Sulbar, Senin, 5 Januari 2025. Apel virtual tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, didampingi Wakil Gubernur Salim S. Mengga, Sekretaris Daerah Junda Maulana, serta para asisten dan kepala […]

  • Puluhan Kades di Mamasa Ngaku Resah Akibat Pemberitaan Tak Berimbang Oknum Wartawan

    Puluhan Kades di Mamasa Ngaku Resah Akibat Pemberitaan Tak Berimbang Oknum Wartawan

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id — Puluhan kepala desa (kades) di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, mengaku resah terhadap sejumlah pemberitaan oknum wartawan. Keresahan itu menyoal pemberitaan yang dinilai menyudutkan pemerintah desa dan tidak mengedepankan prinsip keberimbangan dalam karya jurnalistik. Para kades mempertanyakan profesionalitas peliputan yang, menurut mereka, tidak selalu disertai konfirmasi yang memadai, verifikasi informasi, serta penggunaan narasumber […]

expand_less