Mengenal Dafa, Sang Penakluk Papan Catur dari Mateng, Raih Medali Emas di Palu
- account_circle Ancha
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 47
- comment 0 komentar

Muhammad Dafa Riski Muntaza Putra Ruli (Kanan Foto) atlet Catur Mamuju Tengah berhasil raih medali emas di Kapolda Cup Sulawesi Tengah (Sulteng).
MATENG, Sulbarupdate.id – Di atas papan kotak-kotak hitam dan putih, waktu seolah melambat bagi Muhammad Dafa Riski Muntaza Putra Ruli.
Di saat remaja seusianya mungkin lebih akrab dengan gawai, Dafa justru bergulat dengan kalkulasi matematis dan intuisi tajam demi meruntuhkan pertahanan lawan.
Konsistensi itu kini berbuah manis, sebuah medali emas dari Bumi Tadulako menjadi bukti sahih kapasitasnya sebagai “grandmaster masa depan” dari Sulawesi Barat.
Prestasi gemilang tersebut diukir Dafa pada Turnamen Catur Terbuka Piala Kapolda Cup Sulawesi Tengah yang dihelat di Auditorium H. Keisman Abdullah STIA PM, Palu.
Dalam kompetisi yang berlangsung sengit pada 18 hingga 19 April 2026 tersebut, Dafa berkompetisi di kategori catur cepat Junior Kelompok Umur (KU)-15.

Proses perhelatan Catur di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Dengan ketenangan yang melampaui usianya, siswa kelas 8 SMPN 6 Topoyo ini berhasil menyapu bersih poin dan mengamankan podium tertinggi.
Kemenangan ini memperpanjang daftar panjang prestasinya yang telah dimulai sejak Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke-5 Sulbar tahun 2022, di mana ia menyabet tiga medali sekaligus. Yakni emas di kelas standar, perak di kelas cepat, dan perunggu di kategori kilat.
Meski memiliki reputasi sebagai atlet yang disegani di meja pertandingan, Dafa tetaplah seorang remaja bersahaja.
Putra sulung dari pasangan Ruli Syamsil dan Kurniati ini memiliki sisi jenaka yang kontras dengan ketajaman berpikirnya.
Di luar jam latihan yang ketat, Dafa masih sering ditemukan asyik bermain kelereng atau merakit layang-layang bersama teman sebaya di lingkungannya.
”Alhamdulillah, di turnamen Kapolda kali ini saya bisa meraih peringkat pertama. Semua ini tidak lepas dari doa dan dukungan penuh orang tua serta pembina saya,” ujar remaja kelahiran Bontang, 24 April 2012 tersebut, Senin (20/04/2026).
Keseimbangan antara kedisiplinan intelektual dan keceriaan masa kecil inilah yang diduga menjadi kunci stabilitas mental Dafa saat menghadapi tekanan tinggi di setiap turnamen.
Keberhasilan Dafa di Palu, yang didampingi oleh rekan sejawatnya Muhammad Johan dan Fahrul Mahmud, mendapat apresiasi tinggi dari Pengurus Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Mamuju Tengah.
Ketua Percasi Mateng, Hasri Salam, menyatakan bahwa figur Dafa adalah representasi keberhasilan pembinaan usia dini di daerah.
Namun, Hasri juga memberikan catatan penting terkait keberlanjutan karier sang atlet. Menurutnya, talenta besar seperti Dafa memerlukan ekosistem pendukung yang lebih mapan.
”Penting adanya perhatian serius dari berbagai pihak terkait agar potensi yang dimiliki anak-anak seperti Dafa tidak layu di tengah jalan. Dukungan fasilitas dan pembinaan berkelanjutan adalah harga mati untuk membawa mereka ke level profesional,” tegas Hasri.
Cita-cita Dafa tetap sederhana namun sarat determinasi: ia ingin terus menapaki level pertandingan yang lebih bergengsi. Baginya, setiap bidak yang ia gerakkan bukan sekadar permainan, melainkan representasi dari harapan daerahnya, Mamuju Tengah.
Kini, Dafa telah kembali ke rutinitasnya di Topoyo. Namun, ada yang berbeda dalam langkahnya.
Ia membawa pulang keyakinan baru bahwa dari daerah kecil di Sulawesi Barat, seorang remaja mampu menaklukkan tantangan demi tantangan—satu petak demi satu petak—menuju panggung dunia.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
