STIKes Bhayangkara Makassar Gelar Simulasi Mitigasi Bencana di Polman
- account_circle Ancha
- calendar_month Sen, 4 Mei 2026
- visibility 111
- comment 0 komentar

POLMAN, Sulbarupdate.id – Guna mengasah kesiapsiagaan dan ketangkasan dalam menghadapi situasi darurat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bhayangkara Makassar menyelenggarakan simulasi penanganan bencana berskala besar di pesisir Pantai Babatoa, Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, pada Minggu (03/05/2026).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WITA ini mengusung skenario dramatis berupa kecelakaan kapal motor di perairan Polman.
Dalam reka adegan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari mahasiswa dan lintas sektor berupaya melakukan evakuasi terhadap puluhan korban yang terapung di laut maupun yang terdampar di bibir pantai.
Atmosfer simulasi kian mencekam dengan isak tangis histeris warga saat proses identifikasi dan perawatan intensif dilakukan di rumah sakit lapangan.
Ketua STIKes Bhayangkara Makassar, Kompol Dardin, menegaskan bahwa agenda bertajuk “Sinergi dan Kolaborasi Memperkuat Pondasi Mitigasi” ini merupakan pengejawantahan dari kurikulum muatan lokal yang wajib ditempuh mahasiswa di penghujung tahun ajaran.
“Kegiatan ini adalah bentuk pembulatan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada spesialisasi keperawatan forensik. Kami ingin memastikan mahasiswa tidak hanya unggul secara teoritis, tetapi juga tangguh secara praktis di lapangan,” ujar Kompol Dardin saat ditemui di lokasi simulasi.
Simulasi ini melibatkan koordinasi masif dengan berbagai stakeholders, yakni TNI dan Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas dan Palang Merah Indonesia (PMI), Tenaga Medis (Dokter dan Perawat Profesional).
Lebih lanjut, Dardin memaparkan urgensi dari program unggulan STIKes Siaga Bencana ini. Ia menyebut posisi geografis dan demografis Indonesia menjadikannya sebagai “miniatur bencana” dunia, di mana potensi kecelakaan transportasi laut, udara, darat, hingga bencana alam dapat terjadi sewaktu-waktu.
Melalui internalisasi nilai Sipamandaq—sebuah kearifan lokal yang mengedepankan penguatan bersama—mahasiswa diharapkan mampu memikul tanggung jawab profesional saat krisis terjadi.
“Harapan kami, jika di kemudian hari terjadi bencana yang sesungguhnya, para lulusan kami sudah memiliki kematangan mental dan kompetensi teknis untuk melakukan penanganan, terutama dalam aspek keperawatan forensik dan evakuasi korban,” pungkasnya.
Kegiatan ini menutup rangkaian praktik lapangan dengan pesan kuat bahwa mitigasi bencana bukan sekadar tugas instansi tertentu, melainkan hasil dari kolaborasi akademisi dan praktisi yang terintegrasi secara harmonis.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
