Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Menjaga Marwah di Tengah Turbulensi Kebebasan
- account_circle Ancha
- calendar_month Senin, 9 Feb 2026
- visibility 219
- comment 0 komentar

Oleh: Hamsah Sabir
Wartawan Muda PWI Sulawesi Barat
Sembilan Februari kembali hadir bukan sekedar sebagai seremonial tahunan, melainkan sebagai momentum kontemplasi mendalam bagi seluruh insan pers di tanah air.
Sebagai bagian dari korps jurnalis yang telah tersertifikasi melalui jenjang Wartawan Muda Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), hari ini disambut dengan rasa tanggung jawab yang kian membebani pundak.
Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, kebebasan pers di Indonesia justru tampak sedang berada di persimpangan jalan yang mengkhawatirkan.
Namun, ancaman sesungguhnya tidak hanya datang dari luar, melainkan juga dari dalam tubuh pers itu sendiri. Kita menyaksikan dengan keprihatinan mendalam munculnya oknum-oknum yang mencoreng citra profesi mulia ini demi kepentingan pragmatis semata.
Fenomena yang kian marak dan mencederai integritas jurnalistik salah satunya ialah “Dualisme Kepentingan”.
Praktik menggandeng kedua identitas tersebut secara bersamaan untuk mengintimidasi atau mencari keuntungan pribadi, yang jelas menyimpang dari Kode Etik Jurnalistik.
Peringatan HPN 2026 harus menjadi tonggak penguatan regulasi dan supremasi hukum pers. Aturan yang ada tidak boleh lagi sekadar menjadi instrumen administratif, melainkan harus memiliki taji untuk memberikan efek jera yang nyata bagi mereka yang menyalahgunakan profesi ini.
Sudah saatnya ada garis demarkasi yang tegas dalam aturan perundang-undangan kita. Pers harus dibersihkan dari anasir-anasir yang merusak kredibilitas institusi, agar marwah “Pilar Keempat Demokrasi” kembali tegak dan dihormati.
Tanpa ketegasan hukum, profesi mulia ini akan terus tergerus oleh kepentingan-kepentingan gelap yang bersembunyi di balik kartu pers.
Selamat Hari Pers Nasional 2026. Mari kita kembalikan jurnalisme kepada khittahnya: sebagai penyampai kebenaran, bukan alat penekan.(*)
- Penulis: Ancha
