Ratusan Siswa di Magelang Diduga Keracunan Menu MBG, Telur Puyuh Jadi Sorotan
- account_circle Ancha
- calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
- visibility 135
- comment 0 komentar

MAGELANG – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Magelang menelan korban. Sebanyak 263 orang, mayoritas siswa dari SMP Negeri 10 dan SMA Negeri 3 Magelang, dilaporkan mengalami gejala keracunan massal seperti mual, muntah, dan diare usai menyantap menu yang dibagikan pada Rabu (21/1/2026).
Kronologi Kejadian
Kepala SMPN 10 Magelang, Sri Mulyani, menjelaskan bahwa gejala mulai dirasakan para siswa sejak Rabu siang dan memuncak pada malam hari. Gejala muncul dengan masa inkubasi rata-rata 12 jam setelah mengonsumsi makanan.
“Keluhannya bervariasi, mulai dari sakit perut hingga diare. Di sekolah kami, ada 70 siswa dari kelas VII hingga IX serta lima guru dan karyawan yang terdampak,” ujar Sri Mulyani, Jumat (23/1/2026).
Berdasarkan data investigasi sementara, menu yang disajikan oleh SPPG Rejowinangun Utara hari itu terdiri dari nasi putih, telur puyuh saus mentega (Dicurigai sebagai penyebab utama), cah pokcoy, tempe kremes & tempe krispi, tahu dan sosis serta buah semangka potong.
Sekda Kota Magelang, Larsita, mengungkapkan bahwa dari total 1.853 porsi yang didistribusikan ke tiga sekolah, hasil kuesioner terhadap 946 responden menunjukkan 263 orang mengalami gangguan kesehatan.
“Menu telur puyuh saus mentega menjadi item yang paling dicurigai berdasarkan pola keluhan responden,” kata Larsita.
Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas Magelang Tengah telah mengambil langkah cepat:
-Uji Laboratorium: Sampel makanan dan air telah dikirim untuk memastikan penyebab pasti kontaminasi.
-Penghentian Sementara: Distribusi MBG dihentikan sementara hingga hasil evaluasi keluar.
-Imbauan Sekolah: Pihak sekolah meminta siswa membawa bekal mandiri dari rumah untuk menjamin keamanan konsumsi selama masa investigasi.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih menunggu hasil laboratorium untuk menentukan apakah gangguan kesehatan ini disebabkan oleh bakteri, proses pengolahan yang kurang higienis, atau faktor bahan baku.(*)
- Penulis: Ancha
