Nonton Bareng Film Dokumenter “Pesta Babi” Akan Digelar di Unasman Mamasa
- account_circle Whelson
- calendar_month Sel, 12 Mei 2026
- visibility 207
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id — Kegiatan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi akan digelar di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar).
Nonton bereng ini akan dilaksanakan pada Kamis, 14 Mei 2026 mulai pukul 17.00 WITA hingga selesai di Aula Kampus Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) Osango.
Kegiatan ini terbuka untuk masyarakat umum, mahasiswa, aktivis, komunitas, hingga pegiat lingkungan yang ingin memahami situasi masyarakat adat di Papua melalui film dokumenter tersebut.
Film Pesta Babi mengangkat kisah masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk produksi pangan, biodiesel sawit, dan bioetanol tebu. Dalam narasi film disebutkan bahwa sekitar 2,5 juta hektar hutan Papua terancam dikonversi menjadi kawasan perkebunan industri, yang disebut-sebut sebagai salah satu deforestasi terbesar dalam sejarah modern.
Cerita dalam film bermula dari masuknya ratusan alat berat ke Papua melalui jalur laut. Seiring berkembangnya proyek, masyarakat adat yang wilayahnya masuk dalam area konsesi mulai melakukan berbagai bentuk perlawanan.
Salah satu simbol perlawanan yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut adalah pemasangan salib raksasa dan palang adat di wilayah-wilayah yang dianggap terancam. Gerakan yang dikenal sebagai “Gerakan Salib Merah” disebut telah menyebar di berbagai wilayah selatan Papua, dengan ribuan salib ditancapkan sebagai simbol penolakan terhadap ekspansi perusahaan dan operasi militer di kawasan adat.
Selain menyoroti persoalan lingkungan, film ini juga merekam ketegangan sosial yang dihadapi masyarakat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka di tengah isu separatisme, konflik agraria, serta sejarah panjang operasi militer yang berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam di Papua.
Panitia kegiatan mengajak masyarakat Mamasa untuk hadir dan meramaikan pemutaran film tersebut sebagai ruang belajar bersama mengenai isu lingkungan, hak masyarakat adat, serta dampak proyek industri berskala besar terhadap kehidupan warga lokal.
“Datang dan ramaikan. Ini bukan sekadar nonton film, tetapi juga ruang refleksi dan diskusi tentang tanah, hutan, dan masa depan masyarakat adat,” ujar salah satu panitia kegiatan.(*)
- Penulis: Whelson
- Editor: Ancha
