Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

  • account_circle Arwin Rahman
  • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
  • visibility 22
  • comment 0 komentar

Kita hidup dalam suatu tatanan politik dan ekonomi yang tidak sekadar timpang, tetapi secara sistematis membalikkan makna keadilan itu sendiri. Dalam dunia seperti ini, kejahatan tidak selalu hadir dalam rupa kasar dan vulgar; ia justru sering tampil rapi, legal, dan dibungkus oleh bahasa kebijakan, angka statistik, serta jargon pembangunan. Kejahatan berskala besar—yang dijalankan melalui keputusan negara, praktik korporasi, atau mekanisme institusi berkuasa—tidak hanya dibiarkan, tetapi dilegalkan, dinormalisasi, bahkan dipamerkan sebagai prestasi. Perampasan hak dibingkai sebagai reformasi, eksploitasi sumber daya disebut investasi, dan penderitaan kolektif diterjemahkan menjadi “konsekuensi yang tak terhindarkan”.

Sebaliknya, mereka yang berani mengungkapkan kejahatan-kejahatan tersebut kerap diperlakukan sebagai ancaman. Bukan karena mereka menyebarkan kebohongan, melainkan justru karena mereka menyampaikan kebenaran yang terlalu telanjang, terlalu jujur, dan terlalu mengganggu kenyamanan narasi resmi. Dalam logika kekuasaan, kebenaran bukanlah nilai moral tertinggi; stabilitas dan kepatuhanlah yang lebih utama. Maka tidak mengherankan jika suara kritis dianggap subversif, dan keberanian moral dicurigai sebagai niat jahat.

Fenomena ini tidak dapat dipahami sebagai kegagalan etika individu semata. Ia adalah konsekuensi logis dari sistem kekuasaan yang beroperasi melalui pengendalian struktur, bukan sekadar perilaku personal. Kekuasaan modern tidak selalu memerintah dengan kekerasan fisik; ia jauh lebih efektif ketika mengelola persepsi. Kepatuhan diproduksi melalui kontrol informasi, pembingkaian bahasa, dan pengulangan wacana. Media arus utama, terminologi hukum, dan bahasa birokrasi berfungsi sebagai alat penyamaran—mengubah kekerasan struktural menjadi sesuatu yang tampak sah, rasional, bahkan perlu.

Dalam kerangka ini, pelapor kejahatan, pengkritik kebijakan, atau pembongkar manipulasi sistem tidak diposisikan sebagai penjaga moral publik. Mereka justru dilabeli sebagai pengacau, pembuat gaduh, atau ancaman terhadap ketertiban. Bukan karena argumen mereka lemah, tetapi karena keberadaan mereka membuka retakan pada narasi besar yang menopang legitimasi kekuasaan. Sistem tidak takut pada kebohongan; sistem takut pada kebenaran yang dipahami secara luas.

Ketika pengungkapan kebenaran dikriminalisasi, pesan yang disampaikan kepada masyarakat menjadi sangat jelas: persoalannya bukan pada kejahatan itu sendiri, melainkan pada keberanian untuk membicarakannya. Hukum, yang seharusnya menjadi instrumen keadilan, beralih fungsi menjadi alat disiplin. Ia tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, melainkan “siapa yang berani menentang?”. Dalam kondisi seperti ini, diam menjadi bentuk keselamatan, sementara kejujuran berubah menjadi risiko.

Namun sejarah—yang sering disederhanakan dan diselewengkan oleh pemenang—menunjukkan satu pola yang konsisten: kemajuan sosial tidak pernah lahir dari kepatuhan membuta. Ia selalu muncul dari penolakan terhadap kebohongan yang dilembagakan, dari keberanian segelintir orang untuk berkata “tidak” ketika sistem menuntut “ya”. Hak-hak sipil, kebebasan berpikir, dan keadilan sosial tidak diberikan secara sukarela oleh kekuasaan; semuanya dipaksa hadir oleh tekanan moral dan intelektual dari mereka yang menolak tunduk.

Karena itu, tanggung jawab intelektual di era modern bukanlah untuk memperhalus wajah kekuasaan atau menjadi juru bicara stabilitas semu. Tanggung jawab sejatinya adalah membongkar cara kerja kekuasaan itu sendiri—menelanjangi mekanisme yang tersembunyi di balik klaim moral, legalitas formal, dan retorika kesejahteraan. Terutama ketika kekuasaan mulai mengklaim dirinya sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan kebaikan.

Dalam dunia yang semakin bising oleh propaganda dan semakin sunyi dari kejujuran, keberanian untuk berpikir kritis dan berbicara jujur bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan bentuk perlawanan. Dan dalam perlawanan itulah, harapan akan keadilan yang sesungguhnya masih menemukan ruang untuk bernapas. (*)

  • Penulis: Arwin Rahman
  • Editor: Amiruddin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Standar Baru Proses Seleksi Jabatan Publik

    Standar Baru Proses Seleksi Jabatan Publik

    • 0Komentar

    Oleh: Suhardi Duka Sulbarupdate.id – Seperti yang sering disuarakan oleh Pak Wakil Gubernur, Salim S Mengga. Bahwa daerah ini sangat membutuhkan sosok pejabat yang tak sekadar punya kualifikasi dan kompetensi profesional. Jauh lebih mendesak untuk saat ini, kita membutuhkan figur dengan rentang moral yang juga baik. Bukan berarti kualitas serta kemampuan individu tak penting, tapi […]

  • Hasanuddin Resmi Jabat Plt Kepala Bapperida Sulbar

    Hasanuddin Resmi Jabat Plt Kepala Bapperida Sulbar

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id- Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, resmi menerbitkan Surat Perintah Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulawesi Barat kepada Hasanuddin, terhitung mulai 5 Januari 2026. Sebelum dipercaya mengemban jabatan tersebut, Hasanuddin menjabat sebagai Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, Evaluasi, dan Pembangunan Daerah (PPEPD) Bapperida Sulbar. Penyerahan tugas Plt Kepala […]

  • Kantor Kosong Melompong Saat Jam Kerja, Wabup Mamasa Berang Sidak di Dinas PUPR

    Kantor Kosong Melompong Saat Jam Kerja, Wabup Mamasa Berang Sidak di Dinas PUPR

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Kedisiplinan aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kabupaten Mamasa kembali menjadi sorotan tajam. Hal ini menyusul temuan mengejutkan saat Wakil Bupati Mamasa, H. Sudirman, melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Jumat 30 Januari 2026. Dalam video yang beredar luas, tampak orang nomor dua di […]

  • Gangguan ‘Spam Call’ Marak, Pakar Siber CISSREC Ungkap Strategi Ampuh Mengatasinya

    Gangguan ‘Spam Call’ Marak, Pakar Siber CISSREC Ungkap Strategi Ampuh Mengatasinya

    • 0Komentar

    JAKARTA, Sulbarupdate.id – Fenomena panggilan telepon sampah atau spam call dari nomor tak dikenal kian meresahkan masyarakat. Menanggapi hal ini, Direktur Riset Keamanan Siber CISSREC, Pratama Persada, menegaskan bahwa penanganan masalah ini memerlukan pendekatan berlapis, mulai dari tingkat individu hingga regulasi pemerintah. “Pada level individu, kesadaran digital menjadi kunci utama,” ujar Pratama kepada media, Senin […]

  • Jaga Massa Otot hingga Imunitas, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Kecukupan Protein Harian

    Jaga Massa Otot hingga Imunitas, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Kecukupan Protein Harian

    • 0Komentar

    JAKARTA, Sulbarupdate.id – Protein bukan sekadar nutrisi pelengkap, melainkan komponen vital dalam menjaga metabolisme dan daya tahan tubuh. Selain berperan dalam menjaga massa otot, asupan protein yang cukup diketahui dapat meningkatkan sistem imun secara signifikan. Meski manfaatnya besar, banyak masyarakat yang masih belum memahami takaran ideal konsumsi protein harian mereka. Secara umum, kebutuhan protein orang […]

  • Dukung Program MCSP KPK, Bapperida Sulbar Percepat Proyek Strategis Daerah

    Dukung Program MCSP KPK, Bapperida Sulbar Percepat Proyek Strategis Daerah

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulawesi Barat menyatakan dukungan penuh terhadap percepatan penetapan sepuluh proyek strategis daerah tahun 2026 melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Sulbar, Suhardi Duka. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dalam mendukung program Monitoring, Controlling, Surveillance for Prevention (MCSP) yang digagas […]

expand_less