Breaking News
light_mode
Beranda » Mamuju Tengah » Nestapa Arif Usman di Mamuju Tengah, Tinggal dalam Gubuk Sempit 2×3 Meter

Nestapa Arif Usman di Mamuju Tengah, Tinggal dalam Gubuk Sempit 2×3 Meter

  • account_circle Ruly Syamsil
  • calendar_month Jum, 6 Feb 2026
  • visibility 573
  • comment 0 komentar

MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id — Ketika senja perlahan tenggelam di cakrawala Mamuju Tengah, kegelapan tidak hanya menyelimuti bumi, tetapi juga menyergap sebuah gubuk ringkih berukuran 2×3 meter.

Di sanalah, Arif Usman (58) dan putra kecilnya, RD (11), merajut hidup dalam kesunyian yang mencekam.

​Bagi Arif, rumah bukanlah bangunan kokoh dengan atap megah, melainkan sebuah ruang sempit bin pengap yang berdiri di atas tanah keluarga.

Kondisi rumah Arif saat malam tiba tanpa listrik. Dok. Istimewa

Tanpa aliran listrik, tanpa pendar lampu, dan tanpa satu pun perabotan yang layak disebut sebagai fasilitas rumah tangga.

​Memasuki gubuk tersebut ibarat menyaksikan potret kemiskinan yang telanjang. Tidak ada ranjang empuk untuk melepas penat setelah seharian berpeluh.

Di atas lantai yang dingin, hanya selembar kain lusuh yang menjadi saksi bisu betapa kerasnya hidup yang mereka jalani.

Kain itulah yang menjadi benteng terakhir mereka melawan dinginnya malam dan serangan serangga hutan.

Kondisi ekonomi yang serba terbatas memaksa Arif untuk bertahan dengan apa yang ada. Di dalam gubuk itu, kemewahan adalah sebuah angan-angan yang jauh.

​Ketiadaan akses listrik menjadikan malam hari sebagai waktu yang panjang dan sunyi bagi RD. Di usia 11 tahun, di mana anak-anak lain mungkin tengah belajar di bawah terangnya lampu LED atau terlelap di kamar yang nyaman, RD harus terbiasa dengan kegelapan total.

Aktivitas mereka terhenti seketika saat matahari terbenam, hanya cahaya bulan yang sesekali menyelinap di sela-sela dinding kayu yang mulai melapuk.

​Secara sosiologis, potret kehidupan Arif Usman adalah sebuah ironi di tengah derap pembangunan daerah. Ketiadaan lemari, tempat tidur, bahkan sekadar alat penerangan sederhana, menegaskan bahwa keadilan sosial belum sepenuhnya menyentuh setiap sudut pelosok desa di Mamuju Tengah.

​Kisah Arif dan RD bukan sekadar data statistik kemiskinan, melainkan sebuah panggilan bagi nurani kolektif.

Kelayakan hidup adalah hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi, namun bagi keluarga kecil ini, hak tersebut masih tertahan di balik jeruji keterbatasan ekonomi.

​Kini, Arif Usman hanya bisa menatap masa depan dengan sorot mata yang redup, sembari berharap ada uluran tangan—baik dari pemerintah maupun dermawan—yang mampu mengubah gubuk sempit itu menjadi hunian yang manusiawi bagi putra tercintanya.(*)

  • Penulis: Ruly Syamsil
  • Editor: Ancha

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sengketa Lahan jadi Sorotan Publik di Majene, SDLB Lutang Masih Disegel Ahli Waris

    Sengketa Lahan jadi Sorotan Publik di Majene, SDLB Lutang Masih Disegel Ahli Waris

    • 0Komentar

    MAJENE, Sulbarupdate.id — Penyegelan gedung Sekolah Luar Biasa (SLB/SDLB) di wilayah Lutang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat hingga kini masih terus berlanjut, Rabu (20/5/2026). Pihak ahli waris pemilik lahan menegaskan penyegelan tidak akan dibuka sebelum ada kejelasan dan penyelesaian resmi dari pemerintah terkait status tanah yang ditempati bangunan sekolah tersebut. Ahli waris, Erfan […]

  • Kajari Mamasa Bantah Isu Kasus Korupsi Rp81 Miliar: “Informasi Itu Tidak Berdasar Hukum”

    Kajari Mamasa Bantah Isu Kasus Korupsi Rp81 Miliar: “Informasi Itu Tidak Berdasar Hukum”

    • 1Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Mamasa, Dr. Andi Faik Wana Hamzah, angkat bicara perihal beredarnya informasi mengenai dugaan penanganan kasus korupsi atau kerugian daerah senilai Rp81 miliar oleh pihaknya. Andi Faik menegaskan bahwa kabar tersebut sama sekali tidak memiliki dasar hukum dan tidak sesuai dengan data di Kejari Mamasa. ​Andi Faik menjelaskan bahwa […]

  • Pasca Kebakaran di Mamasa, 4 Rumah Warga dan 1 Gereja Ludes Dilalap Api 

    Pasca Kebakaran di Mamasa, 4 Rumah Warga dan 1 Gereja Ludes Dilalap Api 

    • 0Komentar

    Mamasa, Sulbarupdate.id – Peristiwa kebakaran dahsyat yang melanda Kelurahan Minake, Kecamatan Tandukkalua, Kabupaten Mamasa, hanguskan lima bangunan, termasuk empat unit rumah warga dan satu unit gereja. Insiden yang terjadi pada Minggu 14 Desember 2025, sekitar pukul 00.30 WITA dini hari ini, kini meninggalkan duka mendalam bagi para korban. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, api pertama kali […]

  • Material Longsor Tutup Akses Jalan Mamasa-Mamuju, Puluhan Kendaraaan Terjebak

    Material Longsor Tutup Akses Jalan Mamasa-Mamuju, Puluhan Kendaraaan Terjebak

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Akses jalan penghubung Mamasa – Mamuju kembali tertutup material tanah longsor di di Desa Malatiro, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa. Material longsor yang menutupi seluruh badan jalan dipicu oleh intensitas hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada Kamis (30/4/2026). ​Titik longsor dilaporkan berada di wilayah Bambaam, tepatnya di sekitar area Warung Kejujuran. Akibatnya, […]

  • SMSI Berkomitmen Gelorakan Desa Jadi Ujung Tombak Indonesia

    SMSI Berkomitmen Gelorakan Desa Jadi Ujung Tombak Indonesia

    • 0Komentar

    JAKARTA, Sulbarupdate.id – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) organisasi yang menaungi pemilik atau CEO Media di Indonesia, dan merupakan konstituen Dewan Pers tetap berkomitmen tinggi sebagai benteng demokrasi. Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa — yang rencananya akan dihelat di Jakarta, Kamis (27/08/2026) — menjadi manifestasi nyata organisasi ini tetap eksis. Bahkan di tengah eskalasi politik […]

  • Harga Elpiji 3 Kg di Mamuju Tengah Meroket, Tembus Rp 50 Ribu

    Harga Elpiji 3 Kg di Mamuju Tengah Meroket, Tembus Rp 50 Ribu

    • 0Komentar

    MATENG, Sulbarupdate.id – Masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, kembali dikeluhkan oleh kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kilogram. Selain sulit didapat, harga di tingkat pengecer kini melonjak drastis hingga menembus angka Rp 50.000 per tabung, jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). ​Kondisi ini memicu kekhawatiran besar, terutama […]

expand_less