Nestapa Arif Usman di Mamuju Tengah, Tinggal dalam Gubuk Sempit 2×3 Meter
- account_circle Ruly Syamsil
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- visibility 321
- comment 0 komentar

MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id — Ketika senja perlahan tenggelam di cakrawala Mamuju Tengah, kegelapan tidak hanya menyelimuti bumi, tetapi juga menyergap sebuah gubuk ringkih berukuran 2×3 meter.
Di sanalah, Arif Usman (58) dan putra kecilnya, RD (11), merajut hidup dalam kesunyian yang mencekam.
Bagi Arif, rumah bukanlah bangunan kokoh dengan atap megah, melainkan sebuah ruang sempit bin pengap yang berdiri di atas tanah keluarga.

Kondisi rumah Arif saat malam tiba tanpa listrik. Dok. Istimewa
Tanpa aliran listrik, tanpa pendar lampu, dan tanpa satu pun perabotan yang layak disebut sebagai fasilitas rumah tangga.
Memasuki gubuk tersebut ibarat menyaksikan potret kemiskinan yang telanjang. Tidak ada ranjang empuk untuk melepas penat setelah seharian berpeluh.
Di atas lantai yang dingin, hanya selembar kain lusuh yang menjadi saksi bisu betapa kerasnya hidup yang mereka jalani.
Kain itulah yang menjadi benteng terakhir mereka melawan dinginnya malam dan serangan serangga hutan.
Kondisi ekonomi yang serba terbatas memaksa Arif untuk bertahan dengan apa yang ada. Di dalam gubuk itu, kemewahan adalah sebuah angan-angan yang jauh.
Ketiadaan akses listrik menjadikan malam hari sebagai waktu yang panjang dan sunyi bagi RD. Di usia 11 tahun, di mana anak-anak lain mungkin tengah belajar di bawah terangnya lampu LED atau terlelap di kamar yang nyaman, RD harus terbiasa dengan kegelapan total.
Aktivitas mereka terhenti seketika saat matahari terbenam, hanya cahaya bulan yang sesekali menyelinap di sela-sela dinding kayu yang mulai melapuk.
Secara sosiologis, potret kehidupan Arif Usman adalah sebuah ironi di tengah derap pembangunan daerah. Ketiadaan lemari, tempat tidur, bahkan sekadar alat penerangan sederhana, menegaskan bahwa keadilan sosial belum sepenuhnya menyentuh setiap sudut pelosok desa di Mamuju Tengah.
Kisah Arif dan RD bukan sekadar data statistik kemiskinan, melainkan sebuah panggilan bagi nurani kolektif.
Kelayakan hidup adalah hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi, namun bagi keluarga kecil ini, hak tersebut masih tertahan di balik jeruji keterbatasan ekonomi.
Kini, Arif Usman hanya bisa menatap masa depan dengan sorot mata yang redup, sembari berharap ada uluran tangan—baik dari pemerintah maupun dermawan—yang mampu mengubah gubuk sempit itu menjadi hunian yang manusiawi bagi putra tercintanya.(*)
- Penulis: Ruly Syamsil
- Editor: Ancha
