KOHATI HMI Mateng Gelar LKK Nasional, Menempa Intelektualitas dan Kepemimpinan Perempuan
- account_circle Ancha
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 30
- comment 0 komentar

MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Perempuan tidak hanya membutuhkan ruang untuk hadir dalam perubahan, tetapi juga kapasitas untuk menentukan ke mana perubahan itu diarahkan.
Dari kesadaran itulah, proses perkaderan menjadi penting. Bukan sekadar membentuk keanggotaan, melainkan menumbuhkan daya pikir, karakter, dan keberanian mengambil peran dalam kehidupan sosial.
Semangat tersebut tercermin dalam pelaksanaan Latihan Khusus Kohati (LKK) Tingkat Nasional yang diselenggarakan Korps HMI-Wati (KOHATI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamuju Tengah, dalam rangkaian kegiatan Training Raya Senior Course dan LKK 2026.
Pelaksanaan kegiatan berskala nasional ini menjadi bagian dari upaya KOHATI HMI Cabang Mamuju Tengah memperkuat tradisi perkaderan sekaligus memperluas ruang pengembangan intelektualitas dan kepemimpinan perempuan di tubuh organisasi.
Di bawah kepemimpinan Masni selaku Ketua Umum KOHATI periode 2025–2026, bersama Sekretaris Umum Sri Rahmayuni dan Bendahara Umum Kharisma, kegiatan tersebut terlaksana melalui kerja kolektif jajaran pengurus.
Namun, keberhasilan menyelenggarakan perkaderan nasional tidak semestinya berhenti pada ukuran terlaksananya sebuah agenda organisasi.
Lebih jauh, capaian itu perlu dimaknai sebagai ikhtiar membangun generasi perempuan yang tidak hanya memahami organisasi, tetapi juga mampu membaca realitas, mengolah pengetahuan, dan menawarkan gagasan bagi persoalan masyarakat.
Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Mamuju Tengah, Masni, menegaskan bahwa KOHATI harus bergerak melampaui rutinitas struktural dan administratif organisasi.
“KOHATI harus mampu melampaui peran sebagai organisasi yang hanya menjalankan rutinitas struktural dan administratif,” ujar Masni, Selasa (3/11/2026).
Lebih dari itu lanjut Masni, KOHATI diharapkan menjadi ruang intelektual yang produktif, tempat lahirnya pemikiran kritis, gagasan progresif, serta gerakan yang berorientasi pada perubahan dan kemaslahatan masyarakat,” ujarnya.
Bagi Masni, organisasi perempuan idealnya tidak hanya menjadi tempat berhimpun, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kesadaran dan produksi pengetahuan.
Di dalamnya, kader ditempa agar memiliki keberanian berpikir, ketajaman membaca persoalan, serta kemampuan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan.
Pandangan tersebut menempatkan intelektualitas sebagai fondasi gerakan. Sebab, perubahan sosial tidak cukup dibangun melalui semangat dan slogan, tetapi membutuhkan pengetahuan, integritas, serta keberanian untuk berhadapan dengan kenyataan.
Masni juga menekankan pentingnya membentuk kader perempuan yang memiliki kematangan intelektual, keteguhan ideologis, dan integritas moral.
“Kader KOHATI harus tumbuh menjadi perempuan yang tidak hanya cakap secara organisatoris, tetapi juga matang secara intelektual, kokoh secara ideologis, memiliki integritas moral, dan mampu membaca realitas sosial secara kritis. Intelektualitas harus menjadi fondasi gerakan, sementara keberpihakan terhadap persoalan masyarakat harus menjadi orientasi perjuangan,” katanya.
Dalam perspektif tersebut, keberadaan KOHATI memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar melahirkan kader yang terampil mengelola organisasi.
Kader perempuan diharapkan mampu mengambil bagian dalam ruang-ruang strategis, memproduksi pemikiran, menyuarakan kepentingan masyarakat, hingga terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Sebab, perempuan tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai pelengkap dalam perjalanan perubahan. Mereka harus memiliki kapasitas untuk menjadi subjek yang ikut menentukan arah sejarah, pembangunan, dan peradaban.
Melalui Training Raya Senior Course dan LKK 2026, KOHATI HMI Cabang Mamuju Tengah berharap proses perkaderan dapat terus berlangsung secara berkelanjutan.
Tantangan organisasi ke depan bukan semata memperbanyak agenda, melainkan memastikan setiap proses melahirkan kader dengan kualitas pemikiran, karakter, dan keberpihakan sosial yang kuat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya terletak pada seberapa banyak kegiatan yang diselenggarakan, tetapi pada seberapa jauh proses di dalamnya mampu melahirkan manusia yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
KOHATI, dalam semangat itu, bukan sekadar ruang berhimpun bagi perempuan. Ia merupakan ruang bertumbuh, tempat gagasan diuji, pengetahuan diperdalam, dan kepemimpinan ditempa.
Dari perkaderan lahir kesadaran, dari kesadaran tumbuh intelektualitas, dan dari intelektualitas diharapkan hadir perubahan yang memiliki arti bagi masyarakat, bangsa, dan negara.(***)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
