Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

  • account_circle sulbarupdate
  • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
  • visibility 372
  • comment 0 komentar

Oleh: Arwin Rahman

SULBARUPDATE.ID – Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompetitif dan serba cepat, luka kerap datang bukan karena kita lemah, melainkan karena kita memilih tetap manusiawi. Dalam relasi kerja, pergaulan sosial, bahkan di lingkungan keluarga dan pertemanan, kebaikan tidak selalu berbalas kebaikan. Ketulusan kerap disambut sinisme, pengorbanan berujung pengabaian, dan niat baik justru menjadi sasaran penghancuran. Realitas ini bukan anomali, melainkan potret keseharian masyarakat modern.

Situasi tersebut menempatkan manusia pada persimpangan batin: apakah ia akan menyesuaikan diri dengan kekerasan lingkungan, atau tetap bertahan pada nilai yang diyakininya. Banyak orang memilih mengeras, sebab dianggap lebih aman. Namun tidak sedikit pula yang bertahan pada kelembutan, meski sadar bahwa pilihan itu membawa risiko luka yang lebih dalam.

Ungkapan tentang menjadi seperti bunga yang tetap mengharumkan meski dihancurkan sering disalahpahami sebagai sikap pasrah. Padahal, secara etis dan filosofis, ia justru merupakan pernyataan tentang keteguhan. Ia bukan pembenaran atas ketidakadilan, melainkan penegasan bahwa martabat batin tidak boleh diserahkan kepada perlakuan dunia.

Dalam perspektif spiritual, menjaga kejernihan hati di tengah perlakuan buruk adalah bentuk kedewasaan rohani. Banyak ajaran nilai mengingatkan bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang lingkaran kekerasan. Ketika seseorang memilih tidak ikut mengeraskan hati, ia sedang menjaga kualitas jiwanya dari kerusakan yang lebih dalam.

Sikap ini tidak meniadakan rasa sakit. Luka tetap nyata dan harus diakui. Namun secara spiritual, luka tidak dijadikan pusat identitas. Ia ditempatkan sebagai pengalaman, bukan penentu arah hidup. Dengan cara ini, manusia tidak kehilangan dirinya hanya karena dunia gagal berlaku adil.

Dari sudut pandang psikologis, luka yang tidak diolah akan mencari jalan keluar. Sering kali ia muncul dalam bentuk kemarahan tersembunyi, sinisme, atau kekerasan emosional yang diwariskan kepada orang lain. Banyak relasi sosial yang rusak bukan karena niat jahat, melainkan karena luka lama yang tidak pernah disembuhkan.

Menjadi seperti bunga berarti memilih untuk mengolah luka, bukan mewariskannya. Ini adalah proses regulasi emosi yang matang: mengakui rasa sakit tanpa menyangkalnya, mengekspresikan emosi tanpa melukai, dan melepaskan dendam tanpa mengubur perasaan. Proses ini berat, tetapi justru di sanalah kesehatan mental dibangun.

Dalam kerangka filsafat eksistensial, kebebasan manusia terletak pada kemampuannya memilih sikap, bahkan ketika ia tidak bisa memilih keadaan. Dunia boleh bersikap keras, tetapi manusia tetap memiliki otonomi batin. Dunia boleh melukai, tetapi ia tidak berhak menentukan watak seseorang.

Menjaga jati diri di tengah tekanan sosial adalah bentuk kebebasan yang paling mendasar. Ketika seseorang tetap setia pada nilai kebaikan di tengah lingkungan yang mendorong kekerasan, ia sedang melakukan perlawanan filosofis yang sunyi namun bermakna. Ia menolak tunduk pada logika dunia yang menganggap kekerasan sebagai keniscayaan.

Bunga juga mengajarkan kebaikan yang tidak transaksional. Ia tidak memilih kepada siapa harumnya diberikan. Dalam kehidupan sosial, ini adalah kritik halus terhadap budaya pragmatis yang mengukur nilai kebaikan dari untung dan rugi. Kebaikan semacam ini tidak lahir dari perhitungan, melainkan dari integritas.

Namun perlu ditegaskan, mengharumkan diri di tengah luka bukan berarti meniadakan batas. Keteguhan batin tidak identik dengan membiarkan diri disakiti berulang kali. Justru sebaliknya, ia menuntut kesadaran nilai diri, keberanian berkata cukup, dan kebijaksanaan menjaga jarak tanpa menyimpan kebencian.

Di sinilah kebaikan dan ketegasan bertemu. Seseorang bisa tetap lembut tanpa menjadi lemah, tetap berjarak tanpa menjadi dingin, dan tetap adil tanpa kehilangan empati. Ini adalah keseimbangan batin yang tidak mudah, tetapi sangat diperlukan dalam masyarakat yang mudah tersulut emosi.

Ketika bunga dihancurkan, yang tersisa justru aroma yang lebih kuat. Begitu pula manusia. Dalam jangka panjang, yang diingat bukanlah siapa yang melukai, melainkan siapa yang tetap menghadirkan keteduhan. Jejak inilah yang membentuk iklim sosial—perlahan, senyap, tetapi berpengaruh.

Penderitaan, dalam pandangan ini, tidak diagungkan, tetapi dimaknai. Ia tidak dijadikan alasan untuk membenci dunia, melainkan pintu untuk memperdalam kemanusiaan. Dari luka yang diolah dengan sadar, lahir kebijaksanaan yang tidak diajarkan oleh kenyamanan.

Di tengah dunia yang kian keras, memilih tetap mengharumkan jiwa bukanlah sikap naif. Ia adalah keputusan sadar yang berakar pada spiritualitas, kesehatan psikologis, dan kebijaksanaan filosofis. Pertanyaannya kini bukan apakah kita sanggup membalas luka, melainkan apakah kita cukup dewasa untuk tidak membiarkannya mengubah siapa diri kita.(*)

  • Penulis: sulbarupdate
  • Editor: Amr

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aktivis Mamasa Desak Polda Sulbar Transparan Terkait Aduan Kasus Hotel Nusantara

    Aktivis Mamasa Desak Polda Sulbar Transparan Terkait Aduan Kasus Hotel Nusantara

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Aliansi Aktivis Mamasa mempertanyakan tindak lanjut dan perkembangan penanganan kasus dugaan pelanggaran hukum oleh pihak Hotel Nusantara Mamasa yang telah diadukan ke Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Barat (Sulbar). ​Hingga saat ini, pihak pelapor mengaku belum mendapatkan kejelasan maupun informasi resmi dari pihak kepolisian terkait perkembangan aduan tersebut. Ketiadaan informasi ini memicu tanda […]

  • Wagub Sulbar JSM Dijadwalkan Tempati Rumah Jabatan Malam Ini

    Wagub Sulbar JSM Dijadwalkan Tempati Rumah Jabatan Malam Ini

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Biro Umum Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) terus memacu penyelesaian penataan Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Salim S Mengga. Langkah ini dilakukan guna memastikan hunian tersebut siap ditempati sepenuhnya bertepatan dengan agenda “Masuk Rumah” yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 08 Januari 2026.   Kepala Bagian (Kabag) Rumah Tangga […]

  • SMM Desak Polres Mamasa Periksa Eks Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Mamasa

    SMM Desak Polres Mamasa Periksa Eks Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Mamasa

    • 0Komentar

    MAMASA, SULBARUPDATE.ID- Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkap dugaan skandal dalam realisasi belanja Tunjangan Profesi Guru (TPG), Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD), serta Tunjangan Khusus Guru (TKG) pada Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa tahun anggaran 2024. Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK Tahun 2024, terungkap bahwa realisasi belanja TPG, PNSD, dan TKG tersebut tidak sesuai ketentuan dan […]

  • Berikut Enam Rekomendasi Wisata Wajib di Mamasa

    Berikut Enam Rekomendasi Wisata Wajib di Mamasa

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Kabupaten Mamasa, terus memperkokoh posisinya sebagai destinasi wisata unggulan di Sulawesi Barat. Dengan topografi pegunungan yang berada di ketinggian 600 hingga 2.800 meter di atas permukaan laut, daerah ini menawarkan kombinasi unik antara wisata alam yang asri dan kekayaan budaya yang autentik. Bagi wisatawan yang merencanakan perjalanan ke “Bumi Kondosapata” ini, berikut […]

  • Pasien Dugaan Keracunan MBG di Tabulahan Mamasa Bertambah Jadi 17 Orang

    Pasien Dugaan Keracunan MBG di Tabulahan Mamasa Bertambah Jadi 17 Orang

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id — Jumlah siswa yang menjalani penanganan medis setelah mengalami keluhan yang diduga berkaitan dengan konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, kembali bertambah. Hingga saat ini tercatat sebanyak 17 siswa SMP Negeri 1 Tabulahan telah mendapatkan penanganan di Puskesmas Tabulahan. Kepala Puskesmas Tabulahan, Iryanna, membenarkan adanya penambahan pasien. […]

  • BREAKING NEWS: Ratusan Masyarakat Malabo Demo di Kantor Bupati Mamasa Tolak Pembangunan TPA di Salurano

    BREAKING NEWS: Ratusan Masyarakat Malabo Demo di Kantor Bupati Mamasa Tolak Pembangunan TPA di Salurano

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Aliansi Masyarakat Malabo dari Kecamatan Tandukalua, Kabupaten Mamasa, menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di depan Kantor Bupati Mamasa, Rabu (22/7/2026).  Ratusan warga menuntut agar rencana pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di wilayah Salurano, Desa Malabo, dibatalkan sepenuhnya. Warga menolak keras pembangunan TPA di wilayah tersebut sebab dianggap akan membahayakan kesehatan lingkungan. Massa […]

expand_less