Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

  • account_circle sulbarupdate
  • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
  • visibility 260
  • comment 0 komentar

Oleh: Arwin Rahman

SULBARUPDATE.ID – Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompetitif dan serba cepat, luka kerap datang bukan karena kita lemah, melainkan karena kita memilih tetap manusiawi. Dalam relasi kerja, pergaulan sosial, bahkan di lingkungan keluarga dan pertemanan, kebaikan tidak selalu berbalas kebaikan. Ketulusan kerap disambut sinisme, pengorbanan berujung pengabaian, dan niat baik justru menjadi sasaran penghancuran. Realitas ini bukan anomali, melainkan potret keseharian masyarakat modern.

Situasi tersebut menempatkan manusia pada persimpangan batin: apakah ia akan menyesuaikan diri dengan kekerasan lingkungan, atau tetap bertahan pada nilai yang diyakininya. Banyak orang memilih mengeras, sebab dianggap lebih aman. Namun tidak sedikit pula yang bertahan pada kelembutan, meski sadar bahwa pilihan itu membawa risiko luka yang lebih dalam.

Ungkapan tentang menjadi seperti bunga yang tetap mengharumkan meski dihancurkan sering disalahpahami sebagai sikap pasrah. Padahal, secara etis dan filosofis, ia justru merupakan pernyataan tentang keteguhan. Ia bukan pembenaran atas ketidakadilan, melainkan penegasan bahwa martabat batin tidak boleh diserahkan kepada perlakuan dunia.

Dalam perspektif spiritual, menjaga kejernihan hati di tengah perlakuan buruk adalah bentuk kedewasaan rohani. Banyak ajaran nilai mengingatkan bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang lingkaran kekerasan. Ketika seseorang memilih tidak ikut mengeraskan hati, ia sedang menjaga kualitas jiwanya dari kerusakan yang lebih dalam.

Sikap ini tidak meniadakan rasa sakit. Luka tetap nyata dan harus diakui. Namun secara spiritual, luka tidak dijadikan pusat identitas. Ia ditempatkan sebagai pengalaman, bukan penentu arah hidup. Dengan cara ini, manusia tidak kehilangan dirinya hanya karena dunia gagal berlaku adil.

Dari sudut pandang psikologis, luka yang tidak diolah akan mencari jalan keluar. Sering kali ia muncul dalam bentuk kemarahan tersembunyi, sinisme, atau kekerasan emosional yang diwariskan kepada orang lain. Banyak relasi sosial yang rusak bukan karena niat jahat, melainkan karena luka lama yang tidak pernah disembuhkan.

Menjadi seperti bunga berarti memilih untuk mengolah luka, bukan mewariskannya. Ini adalah proses regulasi emosi yang matang: mengakui rasa sakit tanpa menyangkalnya, mengekspresikan emosi tanpa melukai, dan melepaskan dendam tanpa mengubur perasaan. Proses ini berat, tetapi justru di sanalah kesehatan mental dibangun.

Dalam kerangka filsafat eksistensial, kebebasan manusia terletak pada kemampuannya memilih sikap, bahkan ketika ia tidak bisa memilih keadaan. Dunia boleh bersikap keras, tetapi manusia tetap memiliki otonomi batin. Dunia boleh melukai, tetapi ia tidak berhak menentukan watak seseorang.

Menjaga jati diri di tengah tekanan sosial adalah bentuk kebebasan yang paling mendasar. Ketika seseorang tetap setia pada nilai kebaikan di tengah lingkungan yang mendorong kekerasan, ia sedang melakukan perlawanan filosofis yang sunyi namun bermakna. Ia menolak tunduk pada logika dunia yang menganggap kekerasan sebagai keniscayaan.

Bunga juga mengajarkan kebaikan yang tidak transaksional. Ia tidak memilih kepada siapa harumnya diberikan. Dalam kehidupan sosial, ini adalah kritik halus terhadap budaya pragmatis yang mengukur nilai kebaikan dari untung dan rugi. Kebaikan semacam ini tidak lahir dari perhitungan, melainkan dari integritas.

Namun perlu ditegaskan, mengharumkan diri di tengah luka bukan berarti meniadakan batas. Keteguhan batin tidak identik dengan membiarkan diri disakiti berulang kali. Justru sebaliknya, ia menuntut kesadaran nilai diri, keberanian berkata cukup, dan kebijaksanaan menjaga jarak tanpa menyimpan kebencian.

Di sinilah kebaikan dan ketegasan bertemu. Seseorang bisa tetap lembut tanpa menjadi lemah, tetap berjarak tanpa menjadi dingin, dan tetap adil tanpa kehilangan empati. Ini adalah keseimbangan batin yang tidak mudah, tetapi sangat diperlukan dalam masyarakat yang mudah tersulut emosi.

Ketika bunga dihancurkan, yang tersisa justru aroma yang lebih kuat. Begitu pula manusia. Dalam jangka panjang, yang diingat bukanlah siapa yang melukai, melainkan siapa yang tetap menghadirkan keteduhan. Jejak inilah yang membentuk iklim sosial—perlahan, senyap, tetapi berpengaruh.

Penderitaan, dalam pandangan ini, tidak diagungkan, tetapi dimaknai. Ia tidak dijadikan alasan untuk membenci dunia, melainkan pintu untuk memperdalam kemanusiaan. Dari luka yang diolah dengan sadar, lahir kebijaksanaan yang tidak diajarkan oleh kenyamanan.

Di tengah dunia yang kian keras, memilih tetap mengharumkan jiwa bukanlah sikap naif. Ia adalah keputusan sadar yang berakar pada spiritualitas, kesehatan psikologis, dan kebijaksanaan filosofis. Pertanyaannya kini bukan apakah kita sanggup membalas luka, melainkan apakah kita cukup dewasa untuk tidak membiarkannya mengubah siapa diri kita.(*)

  • Penulis: sulbarupdate
  • Editor: Amr

Rekomendasi Untuk Anda

  • Timnas Austria 2026: Kembalinya Das Team dan Mimpi Besar Generasi Rangnick

    Timnas Austria 2026: Kembalinya Das Team dan Mimpi Besar Generasi Rangnick

    • 0Komentar

    WINA, SULBARUPDATE.id — Setelah penantian hampir tiga dekade, Tim Nasional Austria akhirnya kembali ke panggung terbesar sepak bola dunia. Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen bagi Austria, melainkan simbol kebangkitan sebuah negara sepak bola yang selama bertahun-tahun berusaha menemukan kembali identitas dan tempatnya di antara kekuatan utama Eropa. Kini, ketika Das Team kembali tampil di […]

  • Dok. Ilustrasi

    Tragedi Berdarah Kembali Terjadi di Mamuju Tengah, Dua Pria Terluka Akibat Tikaman

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH – SULBARUPDATE.ID, – Sebuah insiden kekerasan berdarah kembali nyaris merenggut nyawa di Mamuju Tengah (Mateng) Sulawesi Barat (Sulbar). Peristiwa ini melibatkan tiga pria dewasa di salah satu kafe di Topoyo, Mateng pada Jumat, (5 /6/2026) subuh. Meski tidak ada korban jiwa, tajamnya bilah senjata tajam sempat membanjiri lokasi kejadian dengan darah. Berdasarkan informasi […]

  • Pemda Mamasa Bakal Sulap Pasar Barra-barra Jadi Pusat Perdagangan Hewan

    Pemda Mamasa Bakal Sulap Pasar Barra-barra Jadi Pusat Perdagangan Hewan

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa rencana mengalihfungsikan Pasar Barra-barra di Desa Osango menjadi pasar hewan terpadu. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat ketahanan pangan hewani sekaligus menjaga stabilitas harga ternak di wilayah tersebut. Rencana ini ditegaskan oleh Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, saat meninjau langsung kondisi infrastruktur di Dusun Barra-barra, Desa Osango, Kecamatan Mamasa, […]

  • Perayaan Natal Nasional GMKI, Gubernur Sulbar Ajak Jaga Toleransi dan Tingkatkan Ketaatan Hukum

    Perayaan Natal Nasional GMKI, Gubernur Sulbar Ajak Jaga Toleransi dan Tingkatkan Ketaatan Hukum

    • 0Komentar

    Mamasa, Sulbarupdate.id- Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, menghadiri Perayaan Natal Nasional GMKI bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Mamasa dan masyarakat Mamasa Tahun 2025, yang digelar di Lapangan Kondosapata, Kabupaten Mamasa, Senin malam 29 Desember 2025. Gubernur Suhardi Duka hadir didampingi Sekretaris Daerah Sulbar Junda Maulana, Kepala Badan Kesbangpol, Kepala Biro Umum, Plt Kasatpol PP dan Damkar, serta […]

  • Aktivis Desak Pemkab Mamasa Tinjau Ulang Kewajiban Absen Digital bagi P3K Paruh Waktu

    Aktivis Desak Pemkab Mamasa Tinjau Ulang Kewajiban Absen Digital bagi P3K Paruh Waktu

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa mendapati desakan dari kalangan aktivis untuk meninjau kembali pemberlakuan kebijakan absen digital melalui sistem “MAMASE ASN SMART”.  Kebijakan yang awalnya ditujukan untuk menegakkan disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) tersebut dinilai memberatkan, khususnya bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) paruh waktu. Juru bicara perwakilan aktivis lokal, Zul menyatakan […]

  • Kadinsos Mamuju Tengah, Temui Wamen Sosial RI, Ini Tujuannya!

    Kadinsos Mamuju Tengah, Temui Wamen Sosial RI, Ini Tujuannya!

    • 1Komentar

    Mamuju Tengah, Sulbarupdate.id – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat terus bergerak aktif memperjuangkan berbagai program sosial untuk masyarakat. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kunjungan koordinasi Dinas Sosial Mamuju Tengah ke Kementerian Sosial Republik Indonesia, pada senin 11 Mei 2026, di Jakarta. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mamuju Tengah, Hj. Nirwanasari Aras T, bersama jajaran melakukan […]

expand_less