Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

  • account_circle sulbarupdate
  • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
  • visibility 322
  • comment 0 komentar

Oleh: Arwin Rahman

SULBARUPDATE.ID – Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompetitif dan serba cepat, luka kerap datang bukan karena kita lemah, melainkan karena kita memilih tetap manusiawi. Dalam relasi kerja, pergaulan sosial, bahkan di lingkungan keluarga dan pertemanan, kebaikan tidak selalu berbalas kebaikan. Ketulusan kerap disambut sinisme, pengorbanan berujung pengabaian, dan niat baik justru menjadi sasaran penghancuran. Realitas ini bukan anomali, melainkan potret keseharian masyarakat modern.

Situasi tersebut menempatkan manusia pada persimpangan batin: apakah ia akan menyesuaikan diri dengan kekerasan lingkungan, atau tetap bertahan pada nilai yang diyakininya. Banyak orang memilih mengeras, sebab dianggap lebih aman. Namun tidak sedikit pula yang bertahan pada kelembutan, meski sadar bahwa pilihan itu membawa risiko luka yang lebih dalam.

Ungkapan tentang menjadi seperti bunga yang tetap mengharumkan meski dihancurkan sering disalahpahami sebagai sikap pasrah. Padahal, secara etis dan filosofis, ia justru merupakan pernyataan tentang keteguhan. Ia bukan pembenaran atas ketidakadilan, melainkan penegasan bahwa martabat batin tidak boleh diserahkan kepada perlakuan dunia.

Dalam perspektif spiritual, menjaga kejernihan hati di tengah perlakuan buruk adalah bentuk kedewasaan rohani. Banyak ajaran nilai mengingatkan bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang lingkaran kekerasan. Ketika seseorang memilih tidak ikut mengeraskan hati, ia sedang menjaga kualitas jiwanya dari kerusakan yang lebih dalam.

Sikap ini tidak meniadakan rasa sakit. Luka tetap nyata dan harus diakui. Namun secara spiritual, luka tidak dijadikan pusat identitas. Ia ditempatkan sebagai pengalaman, bukan penentu arah hidup. Dengan cara ini, manusia tidak kehilangan dirinya hanya karena dunia gagal berlaku adil.

Dari sudut pandang psikologis, luka yang tidak diolah akan mencari jalan keluar. Sering kali ia muncul dalam bentuk kemarahan tersembunyi, sinisme, atau kekerasan emosional yang diwariskan kepada orang lain. Banyak relasi sosial yang rusak bukan karena niat jahat, melainkan karena luka lama yang tidak pernah disembuhkan.

Menjadi seperti bunga berarti memilih untuk mengolah luka, bukan mewariskannya. Ini adalah proses regulasi emosi yang matang: mengakui rasa sakit tanpa menyangkalnya, mengekspresikan emosi tanpa melukai, dan melepaskan dendam tanpa mengubur perasaan. Proses ini berat, tetapi justru di sanalah kesehatan mental dibangun.

Dalam kerangka filsafat eksistensial, kebebasan manusia terletak pada kemampuannya memilih sikap, bahkan ketika ia tidak bisa memilih keadaan. Dunia boleh bersikap keras, tetapi manusia tetap memiliki otonomi batin. Dunia boleh melukai, tetapi ia tidak berhak menentukan watak seseorang.

Menjaga jati diri di tengah tekanan sosial adalah bentuk kebebasan yang paling mendasar. Ketika seseorang tetap setia pada nilai kebaikan di tengah lingkungan yang mendorong kekerasan, ia sedang melakukan perlawanan filosofis yang sunyi namun bermakna. Ia menolak tunduk pada logika dunia yang menganggap kekerasan sebagai keniscayaan.

Bunga juga mengajarkan kebaikan yang tidak transaksional. Ia tidak memilih kepada siapa harumnya diberikan. Dalam kehidupan sosial, ini adalah kritik halus terhadap budaya pragmatis yang mengukur nilai kebaikan dari untung dan rugi. Kebaikan semacam ini tidak lahir dari perhitungan, melainkan dari integritas.

Namun perlu ditegaskan, mengharumkan diri di tengah luka bukan berarti meniadakan batas. Keteguhan batin tidak identik dengan membiarkan diri disakiti berulang kali. Justru sebaliknya, ia menuntut kesadaran nilai diri, keberanian berkata cukup, dan kebijaksanaan menjaga jarak tanpa menyimpan kebencian.

Di sinilah kebaikan dan ketegasan bertemu. Seseorang bisa tetap lembut tanpa menjadi lemah, tetap berjarak tanpa menjadi dingin, dan tetap adil tanpa kehilangan empati. Ini adalah keseimbangan batin yang tidak mudah, tetapi sangat diperlukan dalam masyarakat yang mudah tersulut emosi.

Ketika bunga dihancurkan, yang tersisa justru aroma yang lebih kuat. Begitu pula manusia. Dalam jangka panjang, yang diingat bukanlah siapa yang melukai, melainkan siapa yang tetap menghadirkan keteduhan. Jejak inilah yang membentuk iklim sosial—perlahan, senyap, tetapi berpengaruh.

Penderitaan, dalam pandangan ini, tidak diagungkan, tetapi dimaknai. Ia tidak dijadikan alasan untuk membenci dunia, melainkan pintu untuk memperdalam kemanusiaan. Dari luka yang diolah dengan sadar, lahir kebijaksanaan yang tidak diajarkan oleh kenyamanan.

Di tengah dunia yang kian keras, memilih tetap mengharumkan jiwa bukanlah sikap naif. Ia adalah keputusan sadar yang berakar pada spiritualitas, kesehatan psikologis, dan kebijaksanaan filosofis. Pertanyaannya kini bukan apakah kita sanggup membalas luka, melainkan apakah kita cukup dewasa untuk tidak membiarkannya mengubah siapa diri kita.(*)

  • Penulis: sulbarupdate
  • Editor: Amr

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kader Dikeroyok di Mamuju, PMII Cabang Mamasa Desak Polisi Usut Tuntas hingga Akar Masalah

    Kader Dikeroyok di Mamuju, PMII Cabang Mamasa Desak Polisi Usut Tuntas hingga Akar Masalah

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Mamasa mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk mengusut tuntas kasus dugaan pengeroyokan yang menimpa dua orang kadernya. Insiden tersebut terjadi di Jalan Dahlia, Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju, pada Kamis (28/5/2026) malam. Peristiwa pengeroyokan dilaporkan berlangsung di Sekretariat Perjuangan Mahasiswa Vendetta, salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat […]

  • Prancis Tundukkan Senegal 3-1 di Piala Dunia, Mbappe Cetak Dua Gol

    Prancis Tundukkan Senegal 3-1 di Piala Dunia, Mbappe Cetak Dua Gol

    • 0Komentar

    AMERIKA SERIKAT, Sulbarupdate.id — Prancis berhasil mengamankan kemenangan penting setelah mengalahkan Senegal dengan skor 3-1 dalam laga penyisihan grup Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Rabu (17/6) 2026). Pertandingan yang berjalan ketat ini diwarnai dengan pembatalan gol Senegal oleh VAR dan drama dua gol yang tercipta pada masa injury time. ​Sejak awal babak pertama, […]

  • Satu Tahun Pemerintahan SDK-JSM, Arah Pembangunan Pariwisata dan Ekraf Makin Terstruktur   

    Satu Tahun Pemerintahan SDK-JSM, Arah Pembangunan Pariwisata dan Ekraf Makin Terstruktur  

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama yang sekaligus menjadi momentum refleksi satu tahun kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga (SDK–JSM). Acara tersebut berlangsung di Masjid Raya Suada Mamuju pada Jumat, 20 Februari 2026. Dalam suasana Ramadan yang sarat makna dan kekhusyukan, Suhardi Duka mengajak seluruh […]

  • Tim Khusus Dibentuk, Usut Tuntas Anak Putus Sekolah di Sulbar

    Tim Khusus Dibentuk, Usut Tuntas Anak Putus Sekolah di Sulbar

    • 0Komentar

    MAMUJU, Sulbarupdate.id – Angka anak putus sekolah (APS) di Sulawesi Barat masih jadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Pemerintah daerah terus berupaya memperbaiki layanan pendidikan, tapi grafik penurunannya belum terlihat signifikan. Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) mengatakan persoalan ini harus dibenahi dari akarnya. Ia ingin penyebab anak putus sekolah atau anak tidak sekolah digali lebih […]

  • Jaga Massa Otot hingga Imunitas, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Kecukupan Protein Harian

    Jaga Massa Otot hingga Imunitas, Ahli Gizi Tekankan Pentingnya Kecukupan Protein Harian

    • 0Komentar

    JAKARTA, Sulbarupdate.id – Protein bukan sekadar nutrisi pelengkap, melainkan komponen vital dalam menjaga metabolisme dan daya tahan tubuh. Selain berperan dalam menjaga massa otot, asupan protein yang cukup diketahui dapat meningkatkan sistem imun secara signifikan. Meski manfaatnya besar, banyak masyarakat yang masih belum memahami takaran ideal konsumsi protein harian mereka. Secara umum, kebutuhan protein orang […]

  • Seorang Montir di Makassar Tewas Tersengat Listrik

    Seorang Montir di Makassar Tewas Tersengat Listrik

    • 0Komentar

    MAKASSAR, Sulbarupdate.id – Insiden maut menimpa seorang pekerja di Jalan Bung Permai, Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, pada Jumat (30/1/2026) siang. Korban bernama Djufri (43), seorang montir bengkel, dilaporkan meninggal dunia setelah tersengat aliran listrik saat sedang mengecat atap sebuah indekos. Kapolsek Tamalanrea, Kompol Muhammad Yusuf mengatakan, peristiwa bermula ketika korban bersama rekannya, […]

expand_less