Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

  • account_circle sulbarupdate
  • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
  • visibility 184
  • comment 0 komentar

Oleh: Arwin Rahman

SULBARUPDATE.ID – Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompetitif dan serba cepat, luka kerap datang bukan karena kita lemah, melainkan karena kita memilih tetap manusiawi. Dalam relasi kerja, pergaulan sosial, bahkan di lingkungan keluarga dan pertemanan, kebaikan tidak selalu berbalas kebaikan. Ketulusan kerap disambut sinisme, pengorbanan berujung pengabaian, dan niat baik justru menjadi sasaran penghancuran. Realitas ini bukan anomali, melainkan potret keseharian masyarakat modern.

Situasi tersebut menempatkan manusia pada persimpangan batin: apakah ia akan menyesuaikan diri dengan kekerasan lingkungan, atau tetap bertahan pada nilai yang diyakininya. Banyak orang memilih mengeras, sebab dianggap lebih aman. Namun tidak sedikit pula yang bertahan pada kelembutan, meski sadar bahwa pilihan itu membawa risiko luka yang lebih dalam.

Ungkapan tentang menjadi seperti bunga yang tetap mengharumkan meski dihancurkan sering disalahpahami sebagai sikap pasrah. Padahal, secara etis dan filosofis, ia justru merupakan pernyataan tentang keteguhan. Ia bukan pembenaran atas ketidakadilan, melainkan penegasan bahwa martabat batin tidak boleh diserahkan kepada perlakuan dunia.

Dalam perspektif spiritual, menjaga kejernihan hati di tengah perlakuan buruk adalah bentuk kedewasaan rohani. Banyak ajaran nilai mengingatkan bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang lingkaran kekerasan. Ketika seseorang memilih tidak ikut mengeraskan hati, ia sedang menjaga kualitas jiwanya dari kerusakan yang lebih dalam.

Sikap ini tidak meniadakan rasa sakit. Luka tetap nyata dan harus diakui. Namun secara spiritual, luka tidak dijadikan pusat identitas. Ia ditempatkan sebagai pengalaman, bukan penentu arah hidup. Dengan cara ini, manusia tidak kehilangan dirinya hanya karena dunia gagal berlaku adil.

Dari sudut pandang psikologis, luka yang tidak diolah akan mencari jalan keluar. Sering kali ia muncul dalam bentuk kemarahan tersembunyi, sinisme, atau kekerasan emosional yang diwariskan kepada orang lain. Banyak relasi sosial yang rusak bukan karena niat jahat, melainkan karena luka lama yang tidak pernah disembuhkan.

Menjadi seperti bunga berarti memilih untuk mengolah luka, bukan mewariskannya. Ini adalah proses regulasi emosi yang matang: mengakui rasa sakit tanpa menyangkalnya, mengekspresikan emosi tanpa melukai, dan melepaskan dendam tanpa mengubur perasaan. Proses ini berat, tetapi justru di sanalah kesehatan mental dibangun.

Dalam kerangka filsafat eksistensial, kebebasan manusia terletak pada kemampuannya memilih sikap, bahkan ketika ia tidak bisa memilih keadaan. Dunia boleh bersikap keras, tetapi manusia tetap memiliki otonomi batin. Dunia boleh melukai, tetapi ia tidak berhak menentukan watak seseorang.

Menjaga jati diri di tengah tekanan sosial adalah bentuk kebebasan yang paling mendasar. Ketika seseorang tetap setia pada nilai kebaikan di tengah lingkungan yang mendorong kekerasan, ia sedang melakukan perlawanan filosofis yang sunyi namun bermakna. Ia menolak tunduk pada logika dunia yang menganggap kekerasan sebagai keniscayaan.

Bunga juga mengajarkan kebaikan yang tidak transaksional. Ia tidak memilih kepada siapa harumnya diberikan. Dalam kehidupan sosial, ini adalah kritik halus terhadap budaya pragmatis yang mengukur nilai kebaikan dari untung dan rugi. Kebaikan semacam ini tidak lahir dari perhitungan, melainkan dari integritas.

Namun perlu ditegaskan, mengharumkan diri di tengah luka bukan berarti meniadakan batas. Keteguhan batin tidak identik dengan membiarkan diri disakiti berulang kali. Justru sebaliknya, ia menuntut kesadaran nilai diri, keberanian berkata cukup, dan kebijaksanaan menjaga jarak tanpa menyimpan kebencian.

Di sinilah kebaikan dan ketegasan bertemu. Seseorang bisa tetap lembut tanpa menjadi lemah, tetap berjarak tanpa menjadi dingin, dan tetap adil tanpa kehilangan empati. Ini adalah keseimbangan batin yang tidak mudah, tetapi sangat diperlukan dalam masyarakat yang mudah tersulut emosi.

Ketika bunga dihancurkan, yang tersisa justru aroma yang lebih kuat. Begitu pula manusia. Dalam jangka panjang, yang diingat bukanlah siapa yang melukai, melainkan siapa yang tetap menghadirkan keteduhan. Jejak inilah yang membentuk iklim sosial—perlahan, senyap, tetapi berpengaruh.

Penderitaan, dalam pandangan ini, tidak diagungkan, tetapi dimaknai. Ia tidak dijadikan alasan untuk membenci dunia, melainkan pintu untuk memperdalam kemanusiaan. Dari luka yang diolah dengan sadar, lahir kebijaksanaan yang tidak diajarkan oleh kenyamanan.

Di tengah dunia yang kian keras, memilih tetap mengharumkan jiwa bukanlah sikap naif. Ia adalah keputusan sadar yang berakar pada spiritualitas, kesehatan psikologis, dan kebijaksanaan filosofis. Pertanyaannya kini bukan apakah kita sanggup membalas luka, melainkan apakah kita cukup dewasa untuk tidak membiarkannya mengubah siapa diri kita.(*)

  • Penulis: sulbarupdate
  • Editor: Amr

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringatan Harkitnas ke-118, Bupati Mamuju Tengah Tekankan Perlindungan Anak di Era Digital

    Peringatan Harkitnas ke-118, Bupati Mamuju Tengah Tekankan Perlindungan Anak di Era Digital

    • 0Komentar

    MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, menggelar upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Kantor Bupati Mateng, Jl. Tammauni Pueballung, KTM Tobadak, pada Rabu (20/5/2026). ​Peringatan Harkitnas tahun ini mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Upacara dipimpin langsung oleh Bupati […]

  • Skandal Perjalan Dinas Fiktif Dinkes Jeneponto, SPMP Desak Kejari Bongkar Tuntas

    Skandal Perjalan Dinas Fiktif Dinkes Jeneponto, SPMP Desak Kejari Bongkar Tuntas

    • 0Komentar

    JENEPONTO, Sulbarupdate.id– Simpul Pergerakan Mahasiswa dan Pemuda (SPMP) Jeneponto mendesak Kejaksaan Negeri (Kejari) Jeneponto untuk segera mengusut tuntas dugaan perjalanan dinas fiktif di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jeneponto tahun anggaran 2023. Ketua SPMP, Rais Aljihad, meminta Kepala Kejaksaan Negeri Jeneponto yang baru untuk bersikap tegas dengan memanggil dan memeriksa Kepala Dinas Kesehatan beserta pihak-pihak terkait. […]

  • DKPPKB Sulbar Perkuat Sistem Kesehatan 2026 Lewat Pendampingan Kemenkes

    DKPPKB Sulbar Perkuat Sistem Kesehatan 2026 Lewat Pendampingan Kemenkes

    • 0Komentar

    MAMUJU, SULBARUPDATE.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat memperkuat tata kelola pembangunan kesehatan melalui partisipasi dalam kegiatan Penjajakan dan Focus Group Discussion (FGD) Pendampingan Tata Kelola Program Kesehatan Tahun 2026 yang digelar Kementerian Kesehatan RI di Hotel Mercure Serpong Alam Sutera, Tangerang, pada 3–7 Februari 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat perencanaan, penganggaran, pengelolaan data, dan kinerja […]

  • Harga TBS Kelapa Sawit Produksi Pekebun Mitra Periode Februari 2026 Sebesar Rp 3.179,72 Per Kilogram

    Harga TBS Kelapa Sawit Produksi Pekebun Mitra Periode Februari 2026 Sebesar Rp 3.179,72 Per Kilogram

    • 0Komentar

    MAMUJU, SULBARUPDATE.ID – Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat melaksanakan Rapat Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit Pekebun Mitra Periode Februari 2026. Kegiatan ini berlangsung Selasa (10 Februari 2026). Rapat dipimpin dan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Perkebunan Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, didampingi Kepala Bidang Hilirisasi Hasil Perkebunan, Agustina Palimbong. Dalam rapat tersebut, […]

  • Hujan Deras Guyur Mamasa, Sungai di Desa Tadisi Meluap Rendam Pemukiman Warga

    Hujan Deras Guyur Mamasa, Sungai di Desa Tadisi Meluap Rendam Pemukiman Warga

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Kabupaten Mamasa menyebabkan banjir di Dusun Lambanan, Desa Tadisik, Kecamatan Sumarorong, pada Jumat (15/5/2026). Air luapan sungai dilaporkan mulai memasuki area pemukiman warga sore tadi. Berdasarkan informasi yang dihimpun, curah hujan yang ekstrem mengakibatkan debit air sungai di sekitar Desa Tadisik meningkat drastis. Karena tidak […]

  • Dugaan Pemangkasan Anggaran Media, RDP DPRD Jeneponto Berlangsung Alot

    Dugaan Pemangkasan Anggaran Media, RDP DPRD Jeneponto Berlangsung Alot

    • 0Komentar

    JENEPONTO – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi I DPRD Jeneponto bersama puluhan jurnalis pada Rabu (28/1) berakhir memanas. Pertemuan tersebut menyoroti dugaan “penyunatan” anggaran publikasi media di Sekretariat DPRD Jeneponto tahun anggaran 2026 yang dinilai tidak transparan. Ketegangan bermula saat terungkap bahwa dari sekian banyak media yang menjalin kemitraan, hanya empat media yang […]

expand_less