Geruduk Rektorat, Mahasiswa Unsulbar Tagih Janji Kampus Inklusif
- account_circle Juita
- calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
- visibility 173
- comment 0 komentar

MAJENE, Sulbarupdate.id — Puluhan mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) yang tergabung dalam aliansi mahasiswa menggelar unjuk rasa di halaman Rektorat, Selasa (5/5/2026).
Mereka melayangkan rapor merah terhadap birokrasi kampus, menuntut kebebasan akademik hingga fasilitas pendidikan yang dianggap tidak layak.
Dalam aksi tersebut, massa menyoroti lima poin krusial yang dinilai gagal dipenuhi pihak universitas.
1. Kebebasan Mimbar Akademik
Mahasiswa mendesak rektorat menjamin ruang berekspresi tanpa intimidasi. “Kami ingin kebebasan berpendapat benar-benar diimplementasikan. Mahasiswa harus bisa kritis tanpa rasa takut,” tegas salah satu orator di atas mobil komando.
2. Fasilitas “Lampu Kuning”
Kondisi sarana prasarana menjadi sorotan tajam. Mahasiswa menuntut perbaikan segera pada:
-Ruang perkuliahan yang tidak nyaman.
-Akses jalan internal kampus yang rusak.
-Fasilitas toilet (WC) yang tidak higienis.
-Pendingin ruangan (AC) yang mayoritas tidak berfungsi.
3. Desakan Kampus Inklusif & Agama Lokal
Isu keberagaman menjadi poin unik dalam aksi ini. Massa menuntut penyediaan dosen dan ruang kuliah untuk mata kuliah agama Mappurondo sebagai bentuk pengakuan terhadap kepercayaan lokal.
Selain itu, mereka meminta pengadaan dosen teologi untuk mahasiswa Kristen dan tempat ibadah yang layak bagi seluruh pemeluk agama.
4. Transparansi Anggaran dan UKT
Mahasiswa mendesak peninjauan ulang besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai mencekik. Mereka juga menuntut transparansi alokasi dana kemahasiswaan untuk mendukung kegiatan ormawa.
5. Reformasi Regulasi Ormawa
Percepatan payung hukum terkait organisasi mahasiswa (ormawa) diminta segera disahkan agar aktivitas pengembangan kapasitas diri tidak terhambat birokrasi yang berbelit.
Menanggapi gelombang protes tersebut, Rektor Unsulbar, Prof. Dr. Muhammad Abdy,, menyatakan sikap terbuka. Ia berjanji akan mengevaluasi seluruh poin tuntutan meski mengaku butuh waktu untuk eksekusi.
“Kami akan mengevaluasi semua tuntutan. Namun, mohon diberikan waktu untuk menindaklanjutinya,” ujar Prof. Abdy di hadapan massa.
Sebagai langkah konkret, pihak rektorat mengundang perwakilan mahasiswa untuk melakukan dialog formal di ruang kerja rektor guna menyusun nota kesepahaman (MoU).
Aksi ditutup dengan tertib di bawah pengawalan aparat, namun mahasiswa menegaskan akan terus mengawal janji rektorat hingga terjadi perubahan nyata di lapangan.(*)
- Penulis: Juita
- Editor: Ancha
