Jeritan dari Balik Kabut Mambi, 4 Tahun Tanpa Doa di Ruang Kelas
- account_circle Ancha
- calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
- visibility 199
- comment 0 komentar

MAMASA, Sulbarupdate.id – Di bawah langit mendung yang menyelimuti pegunungan Kecamatan Mambi, kesunyian bukan lagi tanda kedamaian melainkan saksi bisu atas sebuah pengkhianatan terhadap hak dasar anak bangsa.
Di SDN 014 Saluang, Desa Pamoseang, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, lonceng sekolah berbunyi setiap pagi, namun bagi para siswa Muslim di sana, suara itu hanyalah penanda dimulainya ruang hampa yang panjang.
Sebuah potret memilukan mendadak menggetarkan jagat maya setelah akun media sosial “Mambi Update” mengunggah keberanian tiga bocah sekolah dasar.
Tanpa seragam mewah, mereka berdiri tegar sambil membentangkan spanduk sederhana yang ditulis dengan sisa-sisa harapan.
Pesannya menusuk jantung siapa pun yang membacanya, sebuah laporan langsung kepada pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini bahwa Presiden, selama empat tahun mereka tidak belajar Agama Islam karena guru mereka tak pernah menginjakkan kaki di kelas.
Luka pendidikan ini bukanlah rintihan yang baru kemarin sore terjadi. Sejak tahun 2021, bangku-bangku pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah itu telah berdebu, ditinggalkan kosong tanpa bimbingan seorang guru.
Selama seribu empat ratus hari lebih, anak-anak di pelosok Mamasa ini dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa identitas spiritual dan moral mereka seolah dianggap tidak penting oleh sistem yang berkuasa.
Kenyataan pahit ini dikonfirmasi dengan nada getir oleh perwakilan Pemuda Pamoseang, Muhammad Ikbal.
Dengan suara yang bergetar menahan amarah, Ikbal menegaskan bahwa ini bukan sekadar masalah teknis administrasi atau kekosongan jabatan, melainkan sebuah kelalaian sistematis yang menghancurkan pembentukan karakter generasi muda.
Ia mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah sekolah dibiarkan lumpuh secara spiritual selama bertahun-tahun tanpa ada tangan pemerintah yang menjangkau mereka.
Kejadian ini menjadi potret buram sekaligus monumen kegagalan distribusi tenaga pendidik di wilayah terpencil. Di saat anak-anak di kota besar berpindah dari satu pelajaran ke pelajaran lain dengan fasilitas lengkap, anak-anak Desa Pamoseang harus berjuang melawan pengabaian.
Spanduk yang mereka pegang bukan sekadar kain bertulisan, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang merampas hak mereka untuk mengenal Tuhan melalui pendidikan formal.
Hingga saat ini, jeritan dari pegunungan Mambi itu masih menggantung di udara, menunggu jawaban nyata dari otoritas terkait.
Masyarakat kini menanti apakah pemerintah akan terus menutup mata atau akhirnya bergerak menjemput impian anak-anak SDN 014 Saluang yang hanya ingin belajar mengaji dan memahami agama mereka sendiri di sekolah kebanggaan mereka.(*)
- Penulis: Ancha
- Editor: Tim Redaksi
