Tak Kunjung Diperbaiki, Jalan Trans Sulawesi di Topoyo Dikeluhkan Warga
- account_circle Ruly Syamsil
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar

Kondisi Jalan Trans Sulawesi di Topoyo Mamuju Tengah, kian memprihatikan. Foto/Ruly Syamsil
MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Kondisi Jalan Trans Sulawesi ruas Palu–Mamuju yang melintasi wilayah Kota Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, kian memprihatinkan.
Kerusakan jalan yang telah berlangsung lama ini mulai dikeluhkan warga dan pengguna jalan karena dinilai memicu risiko kecelakaan tinggi.
Berdasarkan pantauan Sulbarupdate.id di lapangan, titik kerusakan paling parah berada di kawasan persimpangan empat yang menghubungkan Pasar Baru Topoyo dan Puskesmas Topoyo.

Kondisi jalan Trans Sulawesi tepat di Topoyo, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) Sulbar, kian buruk. Foto/Ruly Syamsil.
Lokasi ini merupakan jalur padat yang ramai dilalui kendaraan lokal maupun angkutan logistik antarprovinsi. Sejumlah lubang jalan yang semula berukuran kecil kini melebar dan semakin dalam.
Kondisi ini kian berbahaya lantaran jalur tersebut kerap dilintasi armada bertonase besar, seperti truk pengangkut hasil perkebunan kelapa sawit.
Salah seorang warga Topoyo, Musria, mengungkapkan bahwa kerusakan di area pemukiman dan persimpangan tersebut sudah terjadi sejak tahun 2025. Meski sempat ada upaya penimbunan dari pihak terkait, perbaikan tersebut dinilai tidak efektif.
“Jalan ini sudah lama sekali rusak. Suami saya bahkan beberapa kali membeli pasir sendiri untuk menimbun lubang di depan rumah karena sangat berbahaya, lubangnya dalam-dalam,” ujar Musria saat ditemui, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Musria, perbaikan yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar masalah.
“Biasanya memang ada penimbunan dan perataan, tetapi paling bertahan lima sampai enam hari. Setelah itu rusak lagi seperti semula,” tambahnya.
Selain mengancam keselamatan, kerusakan infrastruktur ini turut melumpuhkan aktivitas ekonomi warga sekitar akibat dampak cuaca.
Saat musim hujan, lubang jalan tertutup genangan air, menciptakan kubangan lumpur yang becek dan menyulitkan pengendara mengukur kedalaman lubang.
Sementara saat musim kemarau, laju kendaraan memicu polusi debu tebal yang mengganggu pernapasan dan kebersihan tempat usaha.
“Kalau musim kemarau lebih parah lagi karena debunya sangat banyak. Warung milik anak saya bahkan sering tutup saat kemarau karena debu,” keluh Musria.
Senada dengan Musria, warga lainnya bernama Iccang, juga mengeluhkan dampak debu yang mengotori tempat usahanya.
“Parah sekali ini jalan, sudah lama rusaknya. Entah kapan bisa benar-benar bagus. Agak mending saat hujan, karena kalau kemarau, minta ampun debunya di toko,” kata Iccang.
Dampak buruk dari pembiaran jalan rusak ini mulai memakan korban. Sejumlah pengendara roda dua dilaporkan kerap terjatuh saat hujan turun akibat terperosok ke dalam lubang yang tidak terlihat karena tertutup air.
Tidak hanya kendaraan kecil, beberapa truk pengangkut sawit berkapasitas besar juga dikabarkan nyaris terbalik. Kendaraan berat tersebut kerap kehilangan keseimbangan secara mendadak saat menghantam lubang yang dalam.(*)
- Penulis: Ruly Syamsil
- Editor: Ancha
