Membenteng Pesisir, Menjaga Nadi Ekonomi di Dusun Patulana Mamuju Tengah
- account_circle Ruly Syamsil
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar

MAMUJU TENGAH, Sulbarupdate.id – Deru ombak dan angin kencang yang menyapu pesisir Dusun Patulana bukan lagi sekadar pemandangan alam bagi warga Desa Budong-Budong, Kecamatan Topoyo, Mamuju Tengah.
Di balik pesonanya, tersimpan ancaman abrasi yang perlahan namun pasti mengintai akses jalan utama—nadi kehidupan bagi para nelayan setempat.
Menyikapi kerentanan tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Budong-Budong mengambil langkah konkret melalui pengalokasian Dana Desa Tahun 2026.
Sebuah talud sepanjang 94 meter kini tengah bersolek di bibir pantai, berdiri sebagai benteng pertahanan bagi infrastruktur desa yang selama ini rapuh diterjang keadaan.
Struktur tanah di wilayah ini didominasi oleh material pasir, membuatnya sangat rentan terhadap penurunan badan jalan (ambles), terutama saat musim penghujan tiba atau ketika gelombang pasang menghantam.
Kehadiran talud ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan manifestasi dari perlindungan kawasan pemukiman.
Kepala Desa Budong-Budong, Badaruddin, menegaskan bahwa proyek senilai Rp 53.760.000 ini adalah buah dari aspirasi kolektif masyarakat yang lahir dalam ruang-ruang Musyawarah Desa (Musdes).
”Warga sudah lama mengkhawatirkan terjadinya longsor di sisi jalan. Struktur dasar yang berpasir kerap memicu genangan saat hujan. Talud ini adalah jawaban atas keresahan tersebut,” ujar Badaruddin saat meninjau lokasi, Rabu (13/5/2026).
Pembangunan infrastruktur di wilayah pesisir memang menuntut ketahanan ekstra. Badaruddin menyadari bahwa satu titik talud belum cukup untuk memayungi seluruh wilayah yang rawan.
Namun, ia memastikan bahwa pemerataan pembangunan akan dilakukan secara berkelanjutan.
“Kami bergerak secara bertahap sesuai kondisi fiskal desa. Ke depan, titik-titik rawan lainnya akan mendapatkan penanganan serupa. Kami memohon kesabaran warga, karena komitmen kami adalah merealisasikan kebutuhan infrastruktur secara menyeluruh,” tambahnya dengan nada optimis.
Bagi warga setempat, pembangunan ini membawa angin segar. Mama Ega, salah satu penduduk Dusun Patulana, tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya.
Baginya, perhatian pemerintah desa terhadap wilayah pesisir adalah bentuk pengakuan atas eksistensi mereka sebagai penggerak ekonomi laut.
”Alhamdulillah, aspirasi kami didengar. Sebagai masyarakat pesisir, kami merasa tenang karena akses jalan yang kami gunakan setiap hari kini lebih aman,” ungkapnya haru.
Kini, dengan berdirinya talud tersebut, masyarakat Patulana tak lagi sekadar menatap laut dengan rasa waswas.
Pembangunan ini menjadi simbol harapan bahwa di tengah ancaman alam, sinergi antara pemerintah desa dan warga mampu menciptakan ruang hidup yang lebih kokoh dan bermartabat.(ADV)
- Penulis: Ruly Syamsil
- Editor: Ancha
