Bukan Sekadar Kebaya, Sekda Mateng Ajak Perempuan Hidupkan Ruh Perjuangan Kartini
- account_circle Ruly Syamsil
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar

MATENG, Sulbarupdate.id – Peringatan Hari Kartini 21 April diharapkan tidak terjebak dalam seremoni simbolik belaka. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mamuju Tengah, Litha Febriani, menekankan bahwa esensi sejati dari hari besar ini adalah menghidupkan kembali api perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam realitas kehidupan modern.
Menurut Litha, identitas budaya seperti mengenakan kebaya memang penting sebagai penghormatan akar tradisi, namun nilai intelektualitas dan kemandirian jauh lebih krusial.
”Esensi Kartini tidak berhenti pada penggunaan kebaya semata. Yang utama adalah mewarisi semangat belajar, kemandirian, serta keberanian dalam menyuarakan pendapat,” ujar Litha, Selasa (21/4/2026).
Litha menilai semangat emansipasi yang dirintis Kartini masih sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini. Di tengah perkembangan teknologi dan dinamika sosial, perempuan dituntut untuk tidak menjadi penonton, melainkan aktor perubahan.
Menurut Litha, ada tiga poin utama yang harus dimiliki perempuan masa kini yakni terus belajar dan meningkatkan kompetensi di berbagai bidang.
Kedua mampu berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi maupun pemikiran dan aktif berkontribusi di berbagai lini, mulai dari lingkup keluarga hingga jajaran pemerintahan.
Lebih lanjut, sosok panglima ASN di Mamuju Tengah ini berharap momentum Hari Kartini tahun ini menjadi titik balik refleksi bagi seluruh perempuan, khususnya di Bumi Manakarra Karossa.
”Perempuan memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan. Saya berharap perempuan di Mamuju Tengah terus meningkatkan kualitas dan kepercayaan diri agar mampu berkontribusi secara nyata dalam pembangunan daerah,” tambahnya.
Peringatan Hari Kartini sendiri merupakan penghormatan abadi atas jasa Raden Ajeng Kartini yang telah mendobrak sekat keterbatasan bagi kaumnya.
Perjuangannya memastikan akses pendidikan dan kesetaraan sosial kini menjadi fondasi bagi perempuan Indonesia untuk bermimpi tanpa batas.(*)
- Penulis: Ruly Syamsil
- Editor: Ancha
