Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

  • account_circle Arwin Rahman
  • calendar_month Jum, 30 Jan 2026
  • visibility 335
  • comment 0 komentar

Kita hidup dalam suatu tatanan politik dan ekonomi yang tidak sekadar timpang, tetapi secara sistematis membalikkan makna keadilan itu sendiri. Dalam dunia seperti ini, kejahatan tidak selalu hadir dalam rupa kasar dan vulgar; ia justru sering tampil rapi, legal, dan dibungkus oleh bahasa kebijakan, angka statistik, serta jargon pembangunan. Kejahatan berskala besar—yang dijalankan melalui keputusan negara, praktik korporasi, atau mekanisme institusi berkuasa—tidak hanya dibiarkan, tetapi dilegalkan, dinormalisasi, bahkan dipamerkan sebagai prestasi. Perampasan hak dibingkai sebagai reformasi, eksploitasi sumber daya disebut investasi, dan penderitaan kolektif diterjemahkan menjadi “konsekuensi yang tak terhindarkan”.

Sebaliknya, mereka yang berani mengungkapkan kejahatan-kejahatan tersebut kerap diperlakukan sebagai ancaman. Bukan karena mereka menyebarkan kebohongan, melainkan justru karena mereka menyampaikan kebenaran yang terlalu telanjang, terlalu jujur, dan terlalu mengganggu kenyamanan narasi resmi. Dalam logika kekuasaan, kebenaran bukanlah nilai moral tertinggi; stabilitas dan kepatuhanlah yang lebih utama. Maka tidak mengherankan jika suara kritis dianggap subversif, dan keberanian moral dicurigai sebagai niat jahat.

Fenomena ini tidak dapat dipahami sebagai kegagalan etika individu semata. Ia adalah konsekuensi logis dari sistem kekuasaan yang beroperasi melalui pengendalian struktur, bukan sekadar perilaku personal. Kekuasaan modern tidak selalu memerintah dengan kekerasan fisik; ia jauh lebih efektif ketika mengelola persepsi. Kepatuhan diproduksi melalui kontrol informasi, pembingkaian bahasa, dan pengulangan wacana. Media arus utama, terminologi hukum, dan bahasa birokrasi berfungsi sebagai alat penyamaran—mengubah kekerasan struktural menjadi sesuatu yang tampak sah, rasional, bahkan perlu.

Dalam kerangka ini, pelapor kejahatan, pengkritik kebijakan, atau pembongkar manipulasi sistem tidak diposisikan sebagai penjaga moral publik. Mereka justru dilabeli sebagai pengacau, pembuat gaduh, atau ancaman terhadap ketertiban. Bukan karena argumen mereka lemah, tetapi karena keberadaan mereka membuka retakan pada narasi besar yang menopang legitimasi kekuasaan. Sistem tidak takut pada kebohongan; sistem takut pada kebenaran yang dipahami secara luas.

Ketika pengungkapan kebenaran dikriminalisasi, pesan yang disampaikan kepada masyarakat menjadi sangat jelas: persoalannya bukan pada kejahatan itu sendiri, melainkan pada keberanian untuk membicarakannya. Hukum, yang seharusnya menjadi instrumen keadilan, beralih fungsi menjadi alat disiplin. Ia tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, melainkan “siapa yang berani menentang?”. Dalam kondisi seperti ini, diam menjadi bentuk keselamatan, sementara kejujuran berubah menjadi risiko.

Namun sejarah—yang sering disederhanakan dan diselewengkan oleh pemenang—menunjukkan satu pola yang konsisten: kemajuan sosial tidak pernah lahir dari kepatuhan membuta. Ia selalu muncul dari penolakan terhadap kebohongan yang dilembagakan, dari keberanian segelintir orang untuk berkata “tidak” ketika sistem menuntut “ya”. Hak-hak sipil, kebebasan berpikir, dan keadilan sosial tidak diberikan secara sukarela oleh kekuasaan; semuanya dipaksa hadir oleh tekanan moral dan intelektual dari mereka yang menolak tunduk.

Karena itu, tanggung jawab intelektual di era modern bukanlah untuk memperhalus wajah kekuasaan atau menjadi juru bicara stabilitas semu. Tanggung jawab sejatinya adalah membongkar cara kerja kekuasaan itu sendiri—menelanjangi mekanisme yang tersembunyi di balik klaim moral, legalitas formal, dan retorika kesejahteraan. Terutama ketika kekuasaan mulai mengklaim dirinya sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan kebaikan.

Dalam dunia yang semakin bising oleh propaganda dan semakin sunyi dari kejujuran, keberanian untuk berpikir kritis dan berbicara jujur bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan bentuk perlawanan. Dan dalam perlawanan itulah, harapan akan keadilan yang sesungguhnya masih menemukan ruang untuk bernapas. (*)

  • Penulis: Arwin Rahman
  • Editor: Amiruddin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Modus Beli Gorengan, Pemuda di Wonomulyo Gasak HP dan Uang Saat Korban Terlelap

    Modus Beli Gorengan, Pemuda di Wonomulyo Gasak HP dan Uang Saat Korban Terlelap

    • 1Komentar

    POLMAN, Sulbarupdate.id – Kepercayaan berbuah petaka. Seorang pelajar berinisial F (18) harus kehilangan sepeda motor, ponsel, hingga uang tunai setelah dikelabui oleh kenalannya sendiri. Aksi pencurian ini terjadi di sebuah rumah kos, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo, Selasa (21/4/2026). Pihak Polsek Urban Wonomulyo kini tengah memburu pelaku berinisial AA (21) yang diduga kuat membawa kabur harta […]

  • Istri Bupati Enrekang Resmi Pimpin PSI, Target Kemenangan Total di Bumi Massenrempulu

    Istri Bupati Enrekang Resmi Pimpin PSI, Target Kemenangan Total di Bumi Massenrempulu

    • 0Komentar

    MAKASSAR, Sulbarupdate.id – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara resmi melantik jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Sulawesi Selatan beserta pengurus dari 24 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kabupaten/Kota se-Sulsel. Acara pelantikan yang berlangsung khidmat ini menandai babak baru pergerakan partai berlogo bunga mawar tersebut di wilayah Sulawesi Selatan. Salah satu sosok yang mencuri perhatian […]

  • Sulbar Matangkan Program MBG, Fokus Pemanfaatan Bahan Baku Lokal dan Berkelanjutan

    Sulbar Matangkan Program MBG, Fokus Pemanfaatan Bahan Baku Lokal dan Berkelanjutan

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menggelar rapat koordinasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) se-Sulbar yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, di Ruang Theater Lantai 2 Kantor Gubernur Sulbar, Selasa, 10 Februari 2026. Rapat ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan terkait untuk memastikan kesiapan dan optimalisasi pelaksanaan program MBG yang merupakan […]

  • Warga Pertanyakan Validitas Data, Dinsos Majene Diminta Turun Langsung Cek Kondisi Warga

    Warga Pertanyakan Validitas Data, Dinsos Majene Diminta Turun Langsung Cek Kondisi Warga

    • 0Komentar

    MAJENE, Sulbarupdate.id – Penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, kembali menjadi sorotan. Sejumlah warga mempertanyakan validitas data penerima bantuan sosial yang dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat di lapangan. Persoalan mencuat setelah adanya keluhan warga terkait perubahan desil kesejahteraan. Sejumlah warga mengaku kondisi ekonominya tidak sesuai dengan data yang tercatat, […]

  • Pupuk Gratis Dikeluhkan, Ketua Kelompok Tani Saluahok Ngaku Dipersulit Penyalur

    Pupuk Gratis Dikeluhkan, Ketua Kelompok Tani Saluahok Ngaku Dipersulit Penyalur

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id — Program pupuk gratis yang semestinya meringankan beban petani justru dikeluhkan sejumlah ketua kelompok tani di Desa Saluahok, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Mereka mengaku kesulitan mengambil jatah pupuk di penyalur wilayah Keppe, Desa Rantebulahan, meski telah membawa persyaratan yang dibutuhkan. Salah satu keluhan disampaikan Ketua Kelompok Tani, Hasan. Ia mengaku datang […]

  • Pria Tenggelam di Sungai Budong-Budong Mamuju Tengah Ditemukan tak Bernyawa

    Pria Tenggelam di Sungai Budong-Budong Mamuju Tengah Ditemukan tak Bernyawa

    • 0Komentar

    MAMUJU – TENGAH, Sulbarupdate.id — Upaya pencarian terhadap Hariadi (30) warga Desa Babana yang tenggelam di Sungai Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) akhirnya membuahkan hasil. Korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa sejauh kurang lebih 20 meter dari lokasi kejadian awal pada Senin (30/3/2026) sekira pukul 14:35 Wita. Diketahui Adi terjatuh dari perahu rakit saat hendak […]

expand_less