Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

Jiwa di Tengah Luka: Keteguhan dalam Dunia yang Kian Kasar

  • account_circle sulbarupdate
  • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
  • visibility 325
  • comment 0 komentar

Oleh: Arwin Rahman

SULBARUPDATE.ID – Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompetitif dan serba cepat, luka kerap datang bukan karena kita lemah, melainkan karena kita memilih tetap manusiawi. Dalam relasi kerja, pergaulan sosial, bahkan di lingkungan keluarga dan pertemanan, kebaikan tidak selalu berbalas kebaikan. Ketulusan kerap disambut sinisme, pengorbanan berujung pengabaian, dan niat baik justru menjadi sasaran penghancuran. Realitas ini bukan anomali, melainkan potret keseharian masyarakat modern.

Situasi tersebut menempatkan manusia pada persimpangan batin: apakah ia akan menyesuaikan diri dengan kekerasan lingkungan, atau tetap bertahan pada nilai yang diyakininya. Banyak orang memilih mengeras, sebab dianggap lebih aman. Namun tidak sedikit pula yang bertahan pada kelembutan, meski sadar bahwa pilihan itu membawa risiko luka yang lebih dalam.

Ungkapan tentang menjadi seperti bunga yang tetap mengharumkan meski dihancurkan sering disalahpahami sebagai sikap pasrah. Padahal, secara etis dan filosofis, ia justru merupakan pernyataan tentang keteguhan. Ia bukan pembenaran atas ketidakadilan, melainkan penegasan bahwa martabat batin tidak boleh diserahkan kepada perlakuan dunia.

Dalam perspektif spiritual, menjaga kejernihan hati di tengah perlakuan buruk adalah bentuk kedewasaan rohani. Banyak ajaran nilai mengingatkan bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang lingkaran kekerasan. Ketika seseorang memilih tidak ikut mengeraskan hati, ia sedang menjaga kualitas jiwanya dari kerusakan yang lebih dalam.

Sikap ini tidak meniadakan rasa sakit. Luka tetap nyata dan harus diakui. Namun secara spiritual, luka tidak dijadikan pusat identitas. Ia ditempatkan sebagai pengalaman, bukan penentu arah hidup. Dengan cara ini, manusia tidak kehilangan dirinya hanya karena dunia gagal berlaku adil.

Dari sudut pandang psikologis, luka yang tidak diolah akan mencari jalan keluar. Sering kali ia muncul dalam bentuk kemarahan tersembunyi, sinisme, atau kekerasan emosional yang diwariskan kepada orang lain. Banyak relasi sosial yang rusak bukan karena niat jahat, melainkan karena luka lama yang tidak pernah disembuhkan.

Menjadi seperti bunga berarti memilih untuk mengolah luka, bukan mewariskannya. Ini adalah proses regulasi emosi yang matang: mengakui rasa sakit tanpa menyangkalnya, mengekspresikan emosi tanpa melukai, dan melepaskan dendam tanpa mengubur perasaan. Proses ini berat, tetapi justru di sanalah kesehatan mental dibangun.

Dalam kerangka filsafat eksistensial, kebebasan manusia terletak pada kemampuannya memilih sikap, bahkan ketika ia tidak bisa memilih keadaan. Dunia boleh bersikap keras, tetapi manusia tetap memiliki otonomi batin. Dunia boleh melukai, tetapi ia tidak berhak menentukan watak seseorang.

Menjaga jati diri di tengah tekanan sosial adalah bentuk kebebasan yang paling mendasar. Ketika seseorang tetap setia pada nilai kebaikan di tengah lingkungan yang mendorong kekerasan, ia sedang melakukan perlawanan filosofis yang sunyi namun bermakna. Ia menolak tunduk pada logika dunia yang menganggap kekerasan sebagai keniscayaan.

Bunga juga mengajarkan kebaikan yang tidak transaksional. Ia tidak memilih kepada siapa harumnya diberikan. Dalam kehidupan sosial, ini adalah kritik halus terhadap budaya pragmatis yang mengukur nilai kebaikan dari untung dan rugi. Kebaikan semacam ini tidak lahir dari perhitungan, melainkan dari integritas.

Namun perlu ditegaskan, mengharumkan diri di tengah luka bukan berarti meniadakan batas. Keteguhan batin tidak identik dengan membiarkan diri disakiti berulang kali. Justru sebaliknya, ia menuntut kesadaran nilai diri, keberanian berkata cukup, dan kebijaksanaan menjaga jarak tanpa menyimpan kebencian.

Di sinilah kebaikan dan ketegasan bertemu. Seseorang bisa tetap lembut tanpa menjadi lemah, tetap berjarak tanpa menjadi dingin, dan tetap adil tanpa kehilangan empati. Ini adalah keseimbangan batin yang tidak mudah, tetapi sangat diperlukan dalam masyarakat yang mudah tersulut emosi.

Ketika bunga dihancurkan, yang tersisa justru aroma yang lebih kuat. Begitu pula manusia. Dalam jangka panjang, yang diingat bukanlah siapa yang melukai, melainkan siapa yang tetap menghadirkan keteduhan. Jejak inilah yang membentuk iklim sosial—perlahan, senyap, tetapi berpengaruh.

Penderitaan, dalam pandangan ini, tidak diagungkan, tetapi dimaknai. Ia tidak dijadikan alasan untuk membenci dunia, melainkan pintu untuk memperdalam kemanusiaan. Dari luka yang diolah dengan sadar, lahir kebijaksanaan yang tidak diajarkan oleh kenyamanan.

Di tengah dunia yang kian keras, memilih tetap mengharumkan jiwa bukanlah sikap naif. Ia adalah keputusan sadar yang berakar pada spiritualitas, kesehatan psikologis, dan kebijaksanaan filosofis. Pertanyaannya kini bukan apakah kita sanggup membalas luka, melainkan apakah kita cukup dewasa untuk tidak membiarkannya mengubah siapa diri kita.(*)

  • Penulis: sulbarupdate
  • Editor: Amr

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sulbar Implementasikan Pidana Kerja Sosial Berbasis KUHP Nasional

    Sulbar Implementasikan Pidana Kerja Sosial Berbasis KUHP Nasional

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id – Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) memulai era baru dalam kebijakan pemidanaan yang menekankan aspek humanisme dan pemulihan sosial. Arah strategis ini dipertegas melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara seluruh Kejaksaan Negeri (Kejari) se-Sulbar dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) se-Sulbar. Inisiasi penting ini turut dihadiri oleh Bupati Mamasa, Welem Sambolangi. Acara seremonial yang terpusat […]

  • Tim Penyelaras PWI Pusat Tuntaskan Mandat Organisasi

    Tim Penyelaras PWI Pusat Tuntaskan Mandat Organisasi

    • 0Komentar

    JAKARTA, Sulbarupdate.id – Tim Penyelaras Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat secara resmi menuntaskan penyelarasan instrumen fundamental organisasi—Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Kode Etik Jurnalistik (KEJ), serta Kode Perilaku Wartawan (KPW)—jauh lebih awal dari tenggat yang dipersyaratkan. Kepastian ini mengemuka dalam rapat pleno penutup yang digelar secara hibrida di Markas PWI Pusat, Jakarta, Senin (27/04/2026). […]

  • Ini Deretan Harga Sejumlah Bahan Pangan di Mamasa Jelang Ramadhan

    Ini Deretan Harga Sejumlah Bahan Pangan di Mamasa Jelang Ramadhan

    • 0Komentar

    MAMASA, Sulbarupdate.id – Dinas Ketahanan Pangan (Ketapan) Kabupaten Mamasa merilis pantauan harga komoditas pangan terbaru per Senin (16/2/2026). ​Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mamasa, Suriani T. Dellumaja, menyatakan bahwa pemantauan rutin ini dilakukan guna menjamin stabilitas harga dan memastikan ketersediaan stok bagi masyarakat. ​”Kami terus memantau pergerakan harga agar masyarakat mendapatkan informasi akurat. Secara […]

  • Implementasi Pergub Pakaian Dinas, Biro Umum Tekankan Disiplin ASN

    Implementasi Pergub Pakaian Dinas, Biro Umum Tekankan Disiplin ASN

    • 0Komentar

    Mamuju, Sulbarupdate.id— Biro Umum Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Sulawesi Barat berkomitmen mewujudkan terbentuknya budaya kerja ASN yang disiplin, tertib, dan profesional sebagai arahan Gubernur Sulbar Suhardi Duka melalui Peraturan Gubernur Sulawesi Barat Nomor 22 Tahun 2025 tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara (ASN) Hal itu disampaikan Kepala Bagian Administrasi Pimpinan (Kabag Adpim) Biro Umum Setda […]

  • Bupati dan Wakil Bupati Mamasa Hadiri Rakornas Pemerintah Pusat 2026 di Sentul

    Bupati dan Wakil Bupati Mamasa Hadiri Rakornas Pemerintah Pusat 2026 di Sentul

    • 0Komentar

    JAKARTA, Sulbarupdate.id – Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, bersama Wakil Bupati Mamasa, H. Sudirman, menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026. Acara strategis ini diselenggarakan di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (2/2/2026). Kegiatan yang dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ini dihadiri oleh jajaran […]

  • Empat Mata Untuk Enam Kabupaten, Gubernur SDK Serukan Keadilan Pembangunan Hingga Kinerja OPD

    Empat Mata Untuk Enam Kabupaten, Gubernur SDK Serukan Keadilan Pembangunan Hingga Kinerja OPD

    • 0Komentar

    MAMUJU, SULBARUPDATE.ID – Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) menegaskan tidak ada satu pun daerah yang diperlakukan berbeda dalam kebijakan pemerintahan. Enam kabupaten di Sulbar dipandang sama. Pernyataan itu disampaikan saat malam silaturahmi dan refleksi akhir tahun di Rumah Jabatan Gubernur Sulbar, Rabu, 31 Desember 2025. “Yakinlah bahwa tidak ada kabupaten yang kita pandang sebelah mata, […]

expand_less